
Di dalam kamarnya Ze dan Jin hu masih memejamkan mata di dalam selimut dengan Ze berbantalkan lengan Jin hu dan Jin hu memeluk tubuh Ze.
Mendengar suara berisik dari luar kamarnya Ze mulai terusik terlihat dari matanya yang perlahan terbuka dengan kening berkerut. Ze ingin bangun tapi terhalang oleh pelukan sang suami.
"Sayang....." panggil Ze pelan.
"Sayang bangun." panggilnya lagi sambil menepuk pelan lengan suaminya yang berada di atas perutnya.
"Hm ada apa sayang? Cup." tanya Jin hu masih dengan menutup matanya lalu mengecup singkat kening istrinya.
"Coba lihat ada apa di luar sana. Sepertinya ada masalah sampai berisik sekali. Aku mendengar suara tetua Fu dan ayah samar-samar tadi." ucap Ze.
"Biarkan saja dulu. Itu hanya orang tua itu yang ingin membesarkan masalah kecil tapi tampaknya ayah tidak suka dengan kelakuannya." ucap Jin hu.
"Dari mana kau tahu sedangkan kau baru membuka mata? Apakah ada hal yang kau lakukan tanpa sepengetahuan aku?" tanya Ze.
"Ayah tampaknya sangat marah sampai mengeluarkan aura yang menekan untuk tetua Fu itu. Apakah tidak akan ada masalah?" tanyanya lagi.
"Masalah apa yang akan dialami oleh ayah di dalam istana anaknya sendiri? Kalaupun ayah menghabisi nyawa orang tua itu, tidak ada yang dapat menghukum ayah." jawab Jin hu.
"Kalau masalah apa yang aku lakukan, aku membuat tabir luar menolak siapa saja kecuali penduduk asli negeri atas awan untuk melewatinya. Pasti orang tua itu mau meminta para kecoa itu agar dapat masuk ke dalam tabir." tambah Jin hu.
"Oh, kalau seperti itu aku hanya akan kembali tidur saja." ucap Ze yang kembali memejamkan matanya.
"Tidurlah lagi, kau pasti masih mengantuk karena kelelahan semalam." ucap Jin hu yang juga kembali memejamkan matanya.
"Itu adalah salahmu." ucap Ze.
"Aku tahu." ucap Jin hu.
"Bagus kalau kau tahu." ucap Ze dan mereka kembali terlelap membiarkan tetua Fu menunggu mereka di depan pintu kediaman mereka.
...----------------...
Ular api yang sedang berbincang dengan Liu yu melihat Liu ku yang berjalan dengan wajah yang terlihat kesal tidak seperti biasanya datar tanpa ekspresi penasaran.
__ADS_1
"Apakah ada masalah tuan besar?" tanya ular api.
"Bukan masalah besar. Hanya orang tua tidak tahu diri yang ingin mengganggu putriku." jawab Liu ku.
"Mengganggu nyonya Jin? Apakah perlu aku singkirkan orang itu?" tanya ular api.
"Tidak perlu. Biar Jin hu dan Ze yang menangani orang tua itu karena biar bagaimanapun dia adalah orang yang dihormati di istana ini." ucap Liu ku.
"Apakah yang anda maksud adalah tetua Fu?" tanya Liu yu.
"Hm." jawab Liu ku.
"Pasti masalah para putri negeri tetangga lagi." tebak Liu yu.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Liu ku.
"Beberapa hari lalu orang tua itu hampir membuat tuan Jin hu murka dengan menyarankan agar tuan menerima tawaran kerjasama antara kerajaan melalui pernikahan." jawab Liu yu.
"Kurang ajar, orang tua itu harus aku beri pelajaran." ucap geram ular api.
"Walaupun aku juga ingin memberikan pelajaran kepada orang tua itu, aku pikir Jin hu dan Ze mampu dan lebih berhak menangani orang tua tidak tahu diri itu." ucap Liu ku.
"Orang tua itu tidak suka Ze yang menjadi ratu negeri ini karena Ze tidak bisa dia kendalikan. Dia ingin menjadi yang mengendalikan secara tidak langsung apapun yang terjadi di dalam istana ini walaupun dia bukan pemimpin istana." jelas Ji liu ku.
"Oh, lagi-lagi masalah tahta yang membuat orang tidak tahu posisinya." ucap Liu yu.
"Sudahlah, aku lebih baik pergi memancing untuk menenangkan pikiran. Ze sangat suka ikan bakar tentu dia akan senang jika aku menangkap ikan segar dan membakar ikan itu untuknya." ucap Ji liu ku.
"Aku akan ikut." putus ular api.
"Aku juga ikut. Aku bosan terus di dalam istana saja. Aku yang akan membakar ikan jika kalian berhasil mendapatkan ikan." ucap Liu yu.
...----------------...
Setelah kurang lebih 2 jam tertidur lagi, Ze sudah kembali membuka matanya. Ze memindahkan tangan Jin hu dari perutnya lalu mulai bangun. Saat dia akan meraih pakaiannya dari lantai, Jin hu menarik tangannya hingga kembali terbaring dalam pelukannya.
__ADS_1
"Lepaskan, aku ingin membersihkan diri." ucap Ze.
"Satu kali lagi ya?" pinta Jin hu.
"Aku lelah dan lapar. Apakah kau tidak tahu malu sudah membuat aku lelah semalaman dan ingin lagi pagi ini?" tanya Ze dengan tatapan kesal menatap Jin hu.
"Baiklah, kita mandi bersama agar lebih cepat. Aku juga lapar." ucap Jin hu.
"Terserah." ucap Ze lalu bangkit menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya tanpa perduli Jin hu yang tak menggunakan apapun untuk menutupi tubuhnya.
Jin hu tersenyum penuh kemenangan karena Ze tidak melarangnya ikut mandi bersama. Jin hu tetaplah Jin hu yang selalu menggunakan kesempatan yang ada jika berdua dengan sang istri. Bukannya lebih cepat selesai mereka justru lebih lama mandi karena Jin hu kembali melahap sang istri di ruangan mandi.
"Kau sungguh tidak tahu malu." kesal Ze.
"Apa salahnya melakukan itu dengan isteriku sendiri? Hal ini sudah resiko dari ucapanmu sendiri sayangku. Aku tidak melakukan hal apapun yang menurutmu berlebihan di depan orang lain tapi aku bebas saat tidak ada siapapun bersama kita." ucap Jin hu.
"Tapi aku sangat lapar sekarang." ucap Ze kesal.
"Ayo kita makan kalau begitu. Aku sudah menyuruh orang dapur untuk menyiapkan sarapan untuk kita lebih siang semalam." ajak Jin hu.
"Oh, kau sudah merencanakan membuat aku bangun kesiangan dari awal rupanya." ucap Ze.
"Aku ingin agar calon anak-anak kita segera hadir di antara kita. Itu tidak akan terwujud jika aku tidak berusaha lebih keras." ucap Jin hu dengan senyum.
"Apakah kau tidak suka memiliki anak dariku?" tanya Jin hu saat melihat wajah Ze berubah sendu saat dia menyebutkan anak.
"Bukan tidak ingin hanya saja...."
"Aku tahu apa yang kau khawatirkan. Kita akan mencari cara untuk membebaskan calon putri kita kelak dari tugas berat sebagai sang penjaga." ucap Jin hu yang paham ketakutan Ze.
"Apakah kita bisa?" tanya Ze.
"Pasti bisa. Kita akan usahakan mencari cara untuk membebaskan anak-anak kita dari beban itu." jawab Jin hu.
"Ya aku tidak akan menyerah begitu saja." ucap Ze.
__ADS_1
"Ini baru istriku yang penuh semangat dan percaya diri." ucap Jin hu sambil memeluk sang istri.
"Akan aku lakukan apapun demi kebahagiaan kau dan anak-anak kita kelak. Apapun itu yang terbaik untuk kalian." batin Jin hu.