Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Hukuman konyol


__ADS_3

Sedangkan keluarga Si yang lainnya hanya berani mendengar tanpa bertanya lagi setelah melihat kemarahan tuan Yok ji pada dua menantu keluarga Si itu.


"Sukurlah, selama ini keluarga Si selalu khawatir dengan serangan tiba-tiba dari iblis itu. Sekarang kita bisa lebih tenang. Apakah itu berarti kakek buyut akan tinggal dalam keluarga Si kita?" tanya tuan Yok ji.


"Segeralah masuk karena kami harus pergi sekarang." ucap Hui tu mengalihkan topik.


Hui tu tidak ingin menetap di keluarga Si tapi, tidak tahu bagaimana caranya bicara agar keluarganya bisa terima keputusannya.


"Apakah dengan melarikan diri semua akan selesai? Kau harus menjelaskan pada mereka apa yang kau inginkan kakek tua." ucap Ze.


"Aku tahu, aku akan menyampaikan apa yang aku inginkan. Tapi, ini bukan waktu dan tempat yang tepat." saut Hui tu.


"Ayo kita berangkat." ajak Ze membuat Huo nan menatap curiga padanya.


"Kemalangan akan tiba pada kita semua." gumamnya.


Keluarga Si akhirnya memasuki pemakaman leluhur mereka dan rombongan Ze pergi dari tempat itu.


"Kita akan kemana?" tanya Hui tu.


"Kembali ke hutan dan aku akan memberikan hukuman pada kalian." jawab Ze.


Mereka tiba di hutan tempat sebelumnya mereka melakukan permainan. Ze memilih tempat yang cukup dalam ke dalam hutan.


"Sekarang berdiri tegak lalu pejamkan mata kalian. Ah tidak, aku akan membuat kalian tidak bisa melihat saja." putus Ze lalu menggunakan kekuatannya untuk menutup penglihatan mereka.


"Apa yang akan kau lakukan wanita bodoh?" tanya Hui tu curiga.


"Sebagai pihak yang kalah kau hanya perlu mengikuti perintah tanpa bisa protes." ucap Ze sambil tersenyum.


"Ganti pakaian kalian dengan ini." ucap Ze sambil memberikan masing-masing sebuah gaun pada mereka.


"Apa ini kakak ipar?" tanya Huo nan.


"Pakai atau aku buat kau tidak bisa bicara juga." ancam Ze.


Mereka akhirnya pasrah menggunakan gaun itu walaupun merasa janggal dengan bentuknya.


"Wah ternyata aku sangat pandai memilih mode dan ukuran. Kalian tampak menggemaskan dengan itu." ucap Ze semangat.


"Sekarang duduk dengan tenang dan jangan bergerak ataupun bicara sebelum aku selesai." ucap Ze.


Ze melepaskan ikatan rambut mereka lalu menyisir, mengikat dan menghiasi rambut mereka layaknya rambut gadis. Kemudian tidak lupa dia memakaikan riasan pada wajah mereka semua.


"Uh, mengapa wajah kalian terlihat lebih cantik dari pada para putri? Membuat banyak wanita iri saja." ucap Ze dengan wajah gemas.

__ADS_1


"APA CANTIK.......!" seru mereka serempak.


"Jangan pernah menghapus riasan yang baru aku buat dengan susah payah. Jika tidak, aku pastikan kalian akan menyesal." ancam Ze membuat tangan mereka yang hampir menyentuh wajah masing-masing terhenti di tempat.


Ze membuka kembali penglihatan mereka sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Coba lihat hasil karyaku." ucap Ze penuh semangat.


Mereka saling pandang dengan wajah horor. Mereka ingin protes tapi sudah melakukan perjanjian untuk mengikuti keinginan Ze.


"Sekarang tugas kalian adalah, Zili akan menyiapkan makanan, kak Jin hu menyuapi aku sedangkan untuk kalian berdua harus menari layaknya gadis penari." ucap Ze membuat Hui tu dan Huo nan terbelalak.


"Jangan gila wanita bodoh." ucap Hui tu.


"Kakak ipar ak....


"Ingat perjanjian kita." ucap Ze membuat mereka akhirnya pasrah.


"Jangan cemberut dan gerakan kalian jangan terlalu kaku kakek tua, Huo nan." ucap Ze yang sedang duduk manis di atas sebuah kain yang dia keluarkan dari cincin ruang miliknya.


Ze duduk bersandar pada suaminya sambil tersenyum melihat penampilan kaku Hui tu dan Huo nan yang sedang menari.


"Tunggu pembalasan dariku wanita bodoh." gumam Hui tu.


"Dasar kakak ipar, selalu saja bisa membuat aku menderita." gumam Huo nan.


"Kalau dengan membuat kami tampak konyol dapat membuat dirimu bahagia, aku tidak akan ragu untuk melakukannya." ucap Jin hu sambil mengelus sayang kepala Ze.


"Cukup dirimu saja yang melakukan karena aku tidak akan ingin lagi melakukannya." ucap Hui tu.


"Aku juga." saut Huo nan.


"Kau juga ingin melakukan ini untuk aku lagi?" tanya Ze menggoda.


"Bukan, aku juga tidak ingin lagi." tolak Huo nan.


"Terima kasih sayang. Tapi, aku hanya ingin tampilan konyol kalian hanya aku yang menikmati terutama dirimu." ucap Ze sambil mengecup singkat pipi suaminya yang tampak sangat cantik.


"Siapa juga yang ingin berpenampilan konyol seperti ini di depan orang lain." ucap Hui tu dan Huo nan bersamaan.


"Wah kalian semakin kompak saja artinya kalian sudah sehati karena memiliki nasib yang sama." ucap Ze sambil tersenyum.


"Zili yang cantik, mana makanan yang kau harus siapkan untuk diriku?" tanya Ze dengan nada manjanya.


"Tunggu sebentar, aku kesulitan bergerak dengan pakaian aneh seperti ini." keluh Zili.

__ADS_1


Setelah cukup puas dan kenyang Ze akhirnya mengakhiri hukuman semuanya. Hui tu dan Huo nan langsung merobek pakaian yang mereka kenakan saat berada di balik pohon dan segera mengganti dengan pakaian mereka sendiri.


"Apakah kau sudah terlalu nyaman dengan pakaian seperti ini suamiku?" tanya Ze pasalnya Jin hu belum juga bergerak untuk mengganti pakaian yang dia kenakan.


"Bagaimana suamimu ini dapat beranjak sedangkan istri kesayanganku masih bersandar manja pada tubuh ini sayangku?" tanya balik Jin hu.


"He he he." Ze hanya terkekeh menyadari bahwa memang benar dia masih bersandar santai pada tubuh Jin hu.


"Apakah kita akan langsung menuju ke kediaman keluarga Si?" tanya Huo nan yang telah mengganti pakaiannya serta menghapus riasan di wajahnya.


"Itu tergantung pada Hui tu." jawab Ze.


"Kita langsung ke sana untuk mengatur ulang keluarga itu. Aku tidak tenang dengan keluarga besar yang menyandang marga keluargaku itu menjadi seperti itu. Mereka terlihat kokoh dan kuat di luar namun sangat kacau di dalam." ucap Hui tu.


"Sesuai keinginanmu kakek tua." ucap Ze.


"Aku sudah siap, ayo kita kembali melanjutkan perjalanan." ajak Jin hu yang sudah kembali mengenakan pakaian pria.


"Mengapa aku lebih suka melihat kau dalam balutan pakaian wanita?" tanya Ze.


"Suamimu ini seorang pria sejati sayangku. Bagaimana bisa kau lebih suka melihat aku dalam bentuk seperti itu." protes Jin hu.


"Kalau kau lebih suka melihat dia seperti tadi, bagaimana jika kau menyuruhnya mengenakan pakaian seperti itu setiap malam saat kalian hanya berdua di kamar." saran Hui tu sambil tersenyum.


"Benar-benar, itu ide yang sangat bagus." saut Huo nan penuh semangat.


"Anggap saja aku tidak mengatakan apapun." ucap Huo nan ketakutan melihat tatapan tajam Jin hu ke arahnya.


"Aku akan pertimbangkan saran itu." ucap Ze.


Mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman keluarga Si.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ada yang ajukan protes di komen


Katanya Hui tu, Ze dan Zili bisa baca telepati atau pikiran.


Kenapa Hui tu tidak tahu apa yang dipikirkan Ze? dan saat Ze berbicara dengan roh pedang melalui telepati, Hui tu tidak tahu. Kalau di cerita sebelumnya, berbicara dengan Hui tu melalui telepati, orang lain juga bisa dengar pembicaraan mereka (yang bisa telepati juga) .Ini kenapa tidak thor?


Jawabannya


Baca pikiran dan telepati itu berbeda ya. Telepati hanya bisa didengar oleh mereka yang dijadikan tujuan telepati itu.


Untuk pikiran selama ini jika Ze memikirkan sesuatu dan mengungkapkan dalam bentuk kata dalam pikiran itu atau dalam kata lain membatin maka Hui tu akan tahu. Kalau membatin maka orang yang bisa dengar suara hati bisa dengar semuanya tapi kalau telepati hanya yang ditujukan untuk dengar yang mendengarnya.

__ADS_1


Itu sih kira2 jawabannya maaf kalau agak membingungkan soalnya bukan guru yang pandai memberikan penjelasan.


__ADS_2