Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Menjemput Luo wei tian


__ADS_3

Mereka yang masih tinggal di dalam ruangan itu menatap Ze dengan heran. Mereka tidak tahu siapa yang akan di jemput Ze.


"Baik nyonya." jawab Zili.


"Apakah kau ingin menjemput orang yang waktu itu telah bersumpah menjadi budak untukmu?" tebak Jeong nam.


"Ya, kakek memang benar." jawab Ze.


"Siapa?" tanya Jin hu dan Hui tu bersamaan.


"Kau tanya saja pada kakek. Kakek akan menceritakan cerita lengkapnya. Aku harus segera pergi karena waktu yang tersisa sangat singkat." jawab Ze.


"Apakah....."


"Cukup aku saja yang menjemput orang itu bersama Zili. Kalian harus mengurus kekacauan yang terjadi dan mengatur kembali masalah jabatan lainnya yang masih kosong. Karena, aku hanya bisa mengisi satu orang. Dia pantas diangkat sebagai pengganti penasehat kerajaan." ucap Ze sebelum ada yang sempat angkat bicara lagi.


Mereka akhirnya pasrah mengikuti pengaturan yang Ze buat. Ze pergi dengan Zili saja untuk menjemput orang yang Ze maksud. Ze tiba di depan gerbang istana kekaisaran Doucheng dan langsung menunjukkan plakat pemberian kaisar Lian dan para penjaga membukakan pintu gerbang untuknya.


"Apakah kau tahu dimana aku dapat menemui pemuda bernama Luo wei tian?" tanya Ze pada salah satu penjaga gerbang istana sebelum memasuki gerbang.


"Tuan Luo biasanya berada di ruang kerjanya putri." jawab penjaga itu.


"Apakah kaisar Lian ada di dalam istana saat ini?" tanya Ze lagi setelah berpikir akan tidak sopan jika langsung menjemput Luo wei tian tanpa menemui kaisar dan memintanya langsung walaupun kaisar Lian pernah mengatakan bahwa Luo wei tian adalah orang titipan milik Ze.


"Jawab putri, yang mulia kaisar ada di dalam istana dan sepertinya sedang melakukan pertemuan mengingat beberapa pejabat baru saja memasuki istana." jawab penjaga itu.


"Siapa kau berani menanyakan keberadaan paman kaisar dan menyebutkan nama dari paman kaisar?" tanya seorang gadis dengan nada sinis tiba-tiba.


"Siapa aku itu bukan urusanmu. Jangan menggangguku atau kau akan menyesal." ucap Ze.


"Kau....."


"Aku akan masuk ke dalam istana." ucap Ze pada penjaga di sana menyela ucapan gadis itu.


"Silahkan putri." Saut penjaga dengan hormat.


"Berhenti, beraninya kau mengabaikan diriku. Apakah kau tidak tahu siapa aku?" ucap geram gadis itu.

__ADS_1


"Dan kau penjaga, mengapa membiarkan orang sembarangan memasuki istana." tambahnya.


"Aku tidak perduli siapa dirimu." ucap Ze lalu kembali melangkah memasuki gerbang istana.


"Hap (menangkap pergelangan tangan Ze) Aku tidak mengijinkan kau masuk ke dalam istana." ucap gadis itu.


"Tapi putri, ini...."


"Diam kalian." bentak gadis itu pada penjaga yang ingin menjelaskan tentang Ze padanya.


"Bruk akh...." Ze melepaskan genggaman tangan gadis itu membuat gadis itu tersungkur dan memekik kesakitan.


"Beraninya kau melukai calon putri mahkota." ucap seorang pria yang ternyata adalah pengawal dari gadis itu.


"Calon putri mahkota? Bukankah negeri ini telah memiliki putri mahkota sebelumnya?" tanya Ze.


"Putri mahkota telah diturunkan dari posisinya karena pelanggaran fatal dari ayahnya." jawab pengawal itu.


"Sekarang kau mulai takut heh?" ucap bangga gadis itu.


"Siapa kau berani melarang putri ini me....."


"Beliau adalah Ratu Ze, Ratu satu-satunya dari istana negeri atas awan dan beliau memiliki plakat yang dapat membuat dirinya mewakili Kaisar negeri ini untuk membuat keputusan di dalam istana." ucap Zili yang mulai kesal.


Mendengar itu para penjaga gerbang terkejut dengan wajah yang memucat mengingat dari tadi hanya memanggil putri saja pada Ze. Calon putri mahkota terdiam sejenak mendengar identitas Ze yang sebenarnya.


"Ampuni kami Ratu, kami tidak tahu anda adalah...."


"Bukan salah kalian. Tidak semua orang tahu siapa diriku jadi tidak perlu merasa bersalah." sela Ze menanggapi permintaan maaf dari penjaga gerbang itu.


Ze dan Zili memasuki istana dan pintu gerbang segera tertutup membuat calon putri mahkota itu berteriak memaki para penjaga yang berani melarang dirinya memasuki istana.


"Melanggar ucapan orang yang memegang plakat itu akan dianggap pemberontak putri. Apakah anda ingin menerima hukuman dari yang mulia kaisar, putri?" ucap seorang penjaga


membuat putri itu terdiam.


"Aku akan diam tapi aku ingin kau sampaikan pesanku kepada putra mahkota dan permaisuri agar membantu aku segera memasuki istana." ucap putri itu akhirnya dengan sedikit ketus.

__ADS_1


"Bahkan mereka tidak dapat melanggar aturan itu putri. Hanya yang mulia kaisar saja yang dapat mematahkan perintah dari pemilik plakat itu putri." saut pengawal itu.


Dengan kesal putri itu menaiki keretanya kembali dan memerintahkan agar kereta itu putar balik.


Ze segera memasuki bangunan istana dan menuju ruang sidang yang pernah dia masuki sebelumnya. Tempat pertama dia kunjungi saat memasuki istana untuk pemutusan hubungan waktu itu.


"Di dalam sedang ada pertemuan penting dan tidak ada yang dibolehkan masuk tanpa ijin yang mulia kaisar." ucap seorang prajurit saat Ze berada di depan pintu ruangan persidangan.


"Sampaikan pada Kaisar kalian bahwa Ratu dari istana atas awan ingin menemuinya sekarang." ucap Ze sambil menunjukkan plakat pemberian kaisar Lian.


"Tunggu sebentar Ratu Jin." ucap prajurit itu.


Setelah beberapa saat prajurit memasuki ruang itu, dia keluar dan mempersilahkan Ze memasuki ruang persidangan itu.


"Mengapa kaisar Lian meminta anda memasuki ruangan persidangan bukannya menemui anda di tempat lainnya?" tanya Zili dengan telepati tentunya.


"Entah, pasti ada sesuatu dan itu tentu menguntungkan bagi orang tua itu." jawab Ze.


"Selamat datang menantu." sapa Kaisar Lian dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Aku pada intinya saja. Aku ingin menjemput orang yang aku titipkan di istana ini." ucap Ze.


"Tidakkah seharusnya anda melakukan penghormatan kepada Kaisar mengingat anda adalah menantu dari beliau?" tegur seorang pria tua.


"Suamiku bukanlah seorang pangeran dari negeri Doucheng ini dan aku adalah Ratu dari sebuah kerajaan. Apakah pantas kalian mengucapkan sesuatu tanpa mengucapkan kata hormat padaku?" ucap Ze datar.


"Sudahlah, jangan ribut lagi. Maafkan Mentri Lee yang tidak mengetahui status dirimu sebagai seorang Ratu. Aku akan memberikan orang itu setelah masalah kerajaan kami dia selesaikan. Karena itu adalah tugasnya." ucap kaisar Lian.


"Salam tuan putri." ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dan berlutut di depan Ze.


"Jangan berlutut di depanku. Bukankah sudah aku katakan sebelumnya?" ucap Ze.


"Apakah ada perintah untuk ham....."


"Jangan mengucapkan kata hamba karena yang mulia Ratu tidak menyukai itu." sela Zili.


"Aku datang untuk menjemput kamu tapi, ternyata kau memiliki tugas yang belum selesai." ucap Ze.

__ADS_1


__ADS_2