
Liu ku memecahkan bandul kalung itu dan kepulan asap tipis keluar dari pecahan tersebut. Kepulan asap itu perlahan membentuk wajah seseorang yang sangat Liu ku rindukan. Ternyata Ruan yan mengisi bandul kalung itu dengan kekuatan jiwanya.
"Jika saat ini kau memecahkan bandul kalung ini dan melihat bagian dari pecahan jiwaku yang aku simpan di dalamnya, maka itu artinya aku telah tiada." ucap Ruan yan sambil tersenyum.
"Aku tidak tahu mengapa aku sangat ingin membuat ini sebagai pesan untukmu. Aku memiliki firasat bahwa waktuku tidak akan lama lagi setelah ini dan karena kau melihat pecahan jiwa yang sengaja aku masukkan ke dalam bandul kalung, berarti firasat ku itu benar adanya. Aku berharap anak kita dapat selamat dan kau merawatnya dengan baik. Jangan biarkan dia merasa kekurangan kasih sayang dan katakan padanya bahwa aku sangat menyayangi dia." air mata mulai terlihat menetes dari bayangan Ruan yan yang terbuat dari kabut asap tadi.
Liu ku menatap sedih wajah mendiang istrinya itu dan air matanya mulai tidak terbendung lagi.
"Aku sangat merindukanmu sayang." ucap Liu ku lirih.
Ingin rasanya menyentuh wajah Ruan yan namun Liu ku sadar bahwa itu akan merusaknya dan pesan terakhir istrinya tidak akan dia dengar seluruhnya.
"Kau telah memilih seseorang untuk mendampingi dirimu saat ini bukan? Lakukanlah tanpa ragu, kejar kebahagiaan yang memang pantas kau dapatkan. Aku mengirim pesan ini agar kau tidak ragu karena aku tahu kau sangat menyayangi aku dan tidak ingin aku kecewa. Aku tidak kecewa jika kau memiliki seseorang yang dapat menemanimu hingga akhir justru aku bahagia untuk itu. Aku percaya kau tidak akan pernah melupakan aku dan kau memiliki tempat tersendiri untuk diriku di hatimu yang tidak bisa tergantikan. Aku biarkan kau dimiliki oleh yang lain di kehidupan ini tapi, kehidupan selanjutnya kau hanya akan menjadi milikku .Aku sangat menyayangimu selamanya." ucapnya dan perlahan bayangan wajah Ruan yan menghilang.
"Aku juga sangat menyayangi dirimu sayang." lirih Liu ku dan mulai terisak pilu sambil menggenggam kalung pemberian Ruan yan itu.
Sesekali dia akan mengucapkan betapa dia merindukan mendiang istrinya sambil menepuk dadanya yang mulai terasa sesak akibat rasa pilu yang mendalam.
"Kau benar sayang, kau selalu menempati tempat istimewa di hatiku dan tidak akan pernah tergantikan walaupun aku memiliki perasaan terhadap Mei yin. Terima kasih karena selalu memikirkan aku walaupun di akhir hidupmu aku tidak bersama dengan dirimu." ucap Liu ku yang telah berhasil menenangkan dirinya kemudian memejamkan matanya hingga jatuh terlelap ke dalam dunia mimpi.
Keesokan harinya orang-orang mulai terlihat sibuk entah untuk apa. Liu ku dan yang lainnya merasa heran melihat kesibukan pelayan.
"Ada apa ini?" tanya Ular api pada salah satu pelayan.
"Maaf tuan, yang mulia akan menyambut beberapa tamu penting dan memerintahkan untuk mempersiapkan istana untuk kedatangan mereka." jawab pelayan tadi lalu kembali sibuk karena tidak lagi mendapat tanggapan dari ular api.
"Siapa yang akan datang bertamu? Mengapa sampai di sambut semeriah ini?" tanya Hui tu pada ular api yang hanya dijawab gendikan bahu oleh ular api yang juga tidak tahu.
__ADS_1
"Apakah ibu tahu siapa yang akan datang?" tanya Liu ku pada Luo yin yang baru datang.
"Ibu juga sama herannya dengan kalian. Mungkin kita hanya bisa bertanya pada Ze dan Jin hu untuk mencari tahu." jawab Luo yin.
"Dimana yang mulia tuan dan nyonya kalian?" tanya Luo yin pada seorang pelayan.
"Ampun Nyonya besar, yang mulia tuan Jin hu berada di ruang sidang sedangkan yang mulia nyonya Jin masih dikediaman Phoenix dan tampaknya masih tidur." jawab pelayan itu.
"Aku tebak, Ze juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Apakah Jin hu membuat kejutan untuk Ze atau ada hal lainnya yang kita tidak tahu?" ucap Hui tu.
"Aku tidak ingin bermain tebak-tebakan dengan mu. Lebih baik aku bertanya langsung pada Jin hu." ucap Jeong nam lalu berlalu pergi.
"Sayang tunggu, aku ikut." ucap Luo yin yang langsung menyusul dan berjalan bersama suaminya menuju tempat Jin hu saat ini berada.
"Aku ingin melihat Ze saja. Siapa tahu dia butuh bantuan." ucap Mei yin akan melangkah pergi karena yang lainnya juga pergi menyisakan dia dan Liu ku namun tangannya dicekal oleh Liu ku.
"Bisa kita mencari tempat yang nyaman untuk berbicara sebentar?" tanya Liu ku.
"Ada yang ingin aku sampaikan hanya sebentar." ucap Liu ku meyakinkan membuat Mei yin mengangguk.
Mereka berjalan menuju ke taman belakang yang walaupun indah namun cukup sepi karena tidak sembarang orang dapat berada di tempat itu. Pelayan hanya bisa berada di tempat itu jika ada perintah.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Mei yin saat mereka sudah duduk di sebuah bangku yang menghadap ke arah danau.
"Boleh aku bertanya?" tanya Liu ku hanya dijawab anggukan kepala oleh Mei yin.
"Sebenarnya apakah kau memandang aku itu sebagai seorang pria atau hanya sebagai seorang kakak?" tanya Liu ku.
__ADS_1
"Mengapa kau menanyakan itu?" tanya Mei yin.
"Jawab saja dengan jujur." ucap Liu ku.
"Aku juga tidak tahu." jawab Mei yin.
"Jika aku saat ini mengatakan jika aku ingin kau menganggap aku sebagai pria dan ingin kau menjadi pendampingku bagaimana?" tanya Liu ku membuat Mei yin menatap heran ke arah Liu ku.
"Apa maksudnya itu?" tanya Mei yin.
"Aku sudah lama memikirkan tentang bagaimana perasaanku terhadap dirimu. Aku selalu menganggap bahwa aku hanya menganggap dirimu hanya keluarga hingga saat aku melihat pria itu menatap ke arahmu membuat darahku mendidih dan naluriku jadi ingin memilikimu hanya untuk diriku membuat aku sadar bahwa sekarang perasaan itu berbeda. Aku mulai menyayangi kau layaknya seorang pria terhadap wanita." tutur Liu ku.
Mei yin menatap penuh selidik mata Liu ku mencari setitik kebohongan di dalamnya dan nihil.
"Aku mengungkapkan isi hatiku bukan ingin memaksa agar kau membalas perasaanku. Kau pikirkan saja dulu tentang bagaimana perasaanmu terhadapku. Dan siapa aku di hatimu." ucap Liu ku sambil menepuk pelan punggung tangan Mei yin.
"Pikirkan perlahan dan jangan membebani dirimu. Ayo kita kembali sebelum mereka mencari kita." ajak Liu ku.
Mei yin hanya membisu namun tetap ikut berdiri dan berjalan bersama Liu ku kembali masuk ke dalam istana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Karena hampir 99% meminta lanjut walaupun bulan puasa, author jadi tidak tega untuk stop makanya akan tetap up.
Terima kasih karena telah mendukung novel ini dan mohon maaf jika tulisan author kadang bikin kesel kalian.
Selamat membaca
__ADS_1