Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Lima puluh lima


__ADS_3

Baru saja anggota keluarga Song bersorak gembira, senyum mereka perlahan luntur tat kala debu dan asap hasil ledakan energi dari serangan para ular siluman itu perlahan hilang.


Pasalnya, kala pandangan mulai kembali jelas di tempat Ze berdiri sebelum serangan itu, Ze masih tetap berdiri dengan santai di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun dan tanpa luka gores sedikitpun.


Jin hu, Hui tu, Zili dan Suho menghela napas lega melihat keadaan Ze yang baik-baik saja.


"Ze baik-baik saja, kita lanjutkan menghabisi para tikus yang lainnya." ucap Hui tu.


"Hm." jawab Jin hu.


"Ya ayo." jawab Zili.


"Baik." jawab Suho dan mereka berempat kembali menyerang keluarga Song yang masih tersisa di tempat itu.


"Aku harus cepat menyingkirkan tikus-tikus ini kalau tidak, gadis bodoh itu pasti menggunakan mulut pedasnya lagi untuk mengolok aku." gumam Hui tu lalu mempercepat gerakannya menyerang lawan-lawannya.


"Putri Ji liu ku itu sungguh mampu menerima serangan sekuat itu. Gadis itu harus disingkirkan secepat mungkin sebelum semakin kuat dan mengancam kejayaan keluarga Song kami." gumam wakil ketua Song yang sedang menatap tidak percaya melihat kemampuan Ze menahan serangan.


"Keluarga kita mungkin akan tinggal nama saja jika hari ini gadis ja*ang itu tidak ma*i di tangan orang-orang itu." bisik He lu yang tidak sengaja mendengar gumaman wakil ketua Song.


Pembicaraan itu tidak berlanjut karena Jin hu dan yang lain melanjutkan serangan mereka pada keluarga Song yang ada di tempat itu.


...****************...


"Bagaimana bisa gadis itu mampu menahan serangan kita hanya dengan tangan kosong." salah satu ular siluman itu berbicara dengan bingung.


"Tampaknya kekuatan gadis itu sudah berkembang pesat dari sebelumnya. Bukankah kak Roun mengatakan bahwa pencapaian gadis itu baru ditingkat mulia awal? Tapi jika dilihat dari kemampuannya saat ini, walaupun dia menutupi aura pencapaian miliknya, setidaknya dia sudah berada di level 3 atau 4." saut ular siluman lainnya.


"Apa yang Guon katakan memang benar. Gadis itu sudah menjadi semakin kuat sekarang. Jalan satu-satunya jika kita tidak dapat memiliki gadis itu adalah menghabisinya jika tidak, ras kita akan dalam masalah." saut ular siluman yang memiliki ukuran paling besar dari ketiga ular siluman itu.


Posisi berdiri Ze saat itu sangat santai dengan tangan kanan mengarah kedepan dan tangan kiri di belakang pinggangnya. Yang artinya, bahwa Ze menahan serangan itu hanya dengan satu tangan saja semakin membuat lawannya terkejut dan geram.

__ADS_1


"Ceh..... hanya segitu kekuatan kalian bertiga? Rupanya aku terlalu memandang tinggi pada kalian." ucap Ze dengan nada mencibir dan tatapan meremehkan ke arah lawannya itu.


"Dasar ja*ang..... Kau meremehkan kami, terima serangan kami selanjutnya. Kami tidak akan main-main lagi kali ini." ucap geram ular siluman itu.


"Ah aku sangat takut mendengar itu." ucap Ze sambil meletakkan tangan kanannya di depan mulut dengan memasang wajah pura-pura takutnya.


"Maka lakukan dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga kalian." tantang Ze dan seketika merubah raut wajahnya seolah sedang meremehkan lawan yang ada di depannya.


"Kurang ajar........ Mari serangan dengan kekuatan penuh. Tidak perlu lagi memikirkan sang penjaga karena kali ini ras kita telah diremehkan oleh ras manusia yang rendah." ucap ular siluman yang ukurannya paling besar di antara ketiganya.


"Ya.....!" saut dua ular siluman lainnya.


Mereka bertiga membuka mulut mereka lebar-lebar dan segera kumpulan energi kuat berupa cahaya terkumpul di depan mulut yang menganga itu.


Melihat lawannya akan menggunakan kekuatan penuh menyerang dirinya, Ze juga bersiap dengan mengumpulkan energi yang tak kalah kuatnya di telapak tangannya yang dia arahkan ke depan dan di depan telapak tangannya itu segera terbentuk kumpulan energi berupa cahaya merah yang sangat terang.


Ketiga ular siluman itu menyatukan energi yang mereka kumpulkan lalu mengarahkannya ke arah Ze. Ze juga melepaskan energinya ke arah serangan para ular siluman itu.


Ze masih berdiri kokoh di tempatnya sedangkan tiga ular siluman itu sudah terhempas ke belakang dengan keadaan yang bisa dikatakan sangat mengenaskan. Mereka semua terbaring dengan tubuh gosong dan tidak lama setelah itu tubuh mereka perlahan terurai dan menghilang tanpa bekas.


"Kalian sangat lambat menangani tikus-tikus kecil seperti mereka." sindir Ze saat Jin hu dan yang lainnya mendekat ke arahnya.


Ze dan yang lainnya menatap sekitarnya yang terlihat sangat kacau. Mayat bertebaran, pepohonan yang hangus,serta lubang besar di depan Ze hasil ledakan energi yang bertabrakan menambah kekacauan di tempat itu.


"Harus bekerja keras lagi untuk memperbaiki semua agar kediaman milik ayahku terlihat lebih bagus setidaknya mendekati keadaan sebelumnya." gumam Ze.


"Memang benar. Sangat kacau di sini." saut Hui tu yang tidak sengaja mendengar gumaman Ze.


"Dan itu tugasmu." ucap Ze dengan senyuman jahat menatap Hui tu.


"Bagaimana bisa menjadi......."

__ADS_1


"Itu pernyataan, tugas dan perintah dariku buatmu. Bukan permintaan yang dapat dibantah." ucap Ze memotong protes Hui tu.


"Mengapa harus aku?" tanya Hui tu.


"Karena kau ah aku lupa dan kalian juga sangat payah menangani tikus lemah seperti mereka." ucap Ze.


"Baik kami akan menangani masalah di sini putri." jawab Zili dan Suho.


"Lihat, mereka berdua saja tidak protes." ucap Ze.


"Hm" hanya itu jawaban pasrah Hui tu.


"Astaga, aku lupa harus segera melihat keadaan guruku." ucap Ze yang baru ingat untuk mengecek keadaan gurunya.


Ze hanya menghawatirkan gurunya karena dia sangat tahu bahwa gurunya akan melakukan yang terbaik untuk mengamankan para murid dan mengorbankan dirinya untuk keselamatan mereka.


"Ular api, Cece, keluarlah bantu yang lain mengurus kekacauan di sini." panggil Ze dan dengan segera mereka keluar dalam wujud asli mereka.


Ze menuliskan huruf jimat pada selembar kertas putih lalu melemparkannya pada tabir di depannya.


"Segel pelindung terbuka." ucap Ze Dan seketika tabir pelindung itu menghilang.


Ze diikuti Jin hu segera berlari memasuki kediaman Ji liu ku. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran akan keadaan gurunya.


"Aku mohon jangan bertindak bodoh dan gegabah demi diriku." gumam Ze penuh harap.


"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu pada kalian berdua." gumamnya lagi.


Wajah Ze dipenuhi dengan keringat karena terlalu cemas. Melihat dua orang yang dia cari dari kejauhan Ze mempercepat langkahnya.


"GURU..........!" seru Ze sembari semakin mempercepat langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2