
Liu ku terdiam mendengarkan penuturan Hui tu. Walaupun tidak ingin mengakui secara lisan, dalam hati Liu ku membenarkan ucapan Hui tu mengenai puterinya yang jika sudah murka dia tidak jauh beda dari jelmaan iblis yang menakutkan.
"Sekarang kita harus putuskan siapa yang harus tinggal untuk mengawasi para tikus juga menjaga mertuaku, Mei yin dan Tang bersaudara di istana ini?" tanya Liu ku.
"Bukankah Ular api sudah sangat tahu siapa saja yang harus di awasi dari para pejabat itu karena sudah ikut menyelidiki mereka sejak berada di istana ini?" tanya Hui tu di jawab anggukan kepala oleh ular api.
"Itu artinya ular api paling tepat untuk tugas mengawasi mereka bersama Liu yu. Sedangkan untuk menjaga yang lainnya, biarkan ceri emas yang akan tinggal. Kemampuan mereka tidak dapat diragukan lagi jika hanya untuk menghadapi mereka." ucap Hui tu.
"Aku juga awalnya berpikir demikian, tapi aku ingin meminta pendapat dan ingin tahu apakah mereka akan setuju untuk tinggal?" saut Liu ku.
"Saya tidak masalah untuk itu jika nyonya Jin juga setuju dengan pengaturan ini." saut ular api.
"Dapat aku tebak, keputusan untuk mereka akan tinggal atau tidak di istana ada di tangan Ze. Karena mereka hanya akan ikuti semua keputusan Ze tanpa mengeluh ataupun protes." ucap Hui tu.
"Kalau seperti itu maka keputusan hanya dapat di ambil besok pagi karena Ze pasti sedang beristirahat sekarang dan Jin hu pasti tidak akan membiarkan Ze keluar hingga besok pagi." ucap Liu ku.
...----------------...
Ze perlahan membuka matanya setengah beberapa saat tertidur pulas. Di gesernya lengan kokoh suaminya agar dia dapat bangkit dari tempat tidur.
"Kau mau kemana sayang?" tanya Jin hu dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Aku ingin menemui Silla di dalam batu dimensi untuk menanyakan sesuatu. Kembalilah tidur aku akan segera kembali." jawab Ze mengecup singkat pipi Jin hu yang tersenyum lalu kembali menutup matanya.
Ze sudah ada di dalam batu dimensi dan seperti biasa, dia akan memanggil Silla dengan nada tinggi.
"Silla......" panggil Ze.
"Kau itu sudah seperti di hutan rimba saja. Setiap kali memanggil selalu berteriak seperti aku tidak bisa mendengar saja." tegur Silla.
"He he he, Aku tidak bisa melihat kau jadi rasanya kau tidak akan dengar jika aku memanggil dengan suara pelan." ucap Ze beralasan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Silla.
Ze menceritakan tentang desa sen dan apa yang dia lihat disana termasuk tentang kabut pelahap.
"Mengapa bisa kabut itu muncul kembali?" tanya Silla.
"Jika kau bertanya padaku, aku harus bertanya pada siapa?" tanya Ze balik dengan wajah kesal.
"Aku hanya bertanya pada diriku sendiri. Kabut itu sudah lama dimusnahkan oleh seorang yang tidak boleh aku sebutkan padamu karena itu adalah rahasia semesta yang belum bisa kau ketahui. Kabut itu sangat berbahaya dan kau tidak akan bisa mengatasinya." ucap Silla.
"Lalu, apakah aku hanya akan diam saja membiarkan orang-orang tidak bersalah mati begitu saja tanpa membantu mereka?" tanya Ze.
"Apakah kabut itu hanya akan berada di desa itu atau akan menyebar ke daerah lainnya?" tanya Ze lagi.
"Kabut itu akan semakin kuat dan menyebar semakin luas setiap kali mendapatkan makanan berupa mahluk hidup. Kau bisa panggil sang penjaga yang kau pernah temui itu karena itu adalah tugasnya." jawab Silla memberikan saran.
"Bagaimana bisa aku meminta bantuannya sedangkan aku tidak tahu dimana dia berada dan cara menghubungi dia?" tanya Ze.
"Apakah dia dapat masuk ke dalam dimensi ini jika aku memanggilnya di sini?" tanya Ze.
"Dia adalah sang penjaga, tidak ada tempat yang tidak bisa dia masuki termasuk negeri atas awan, hutan Fujian dan juga batu dimensi manapun yang dia inginkan." jawab Silla.
"Maka aku akan mencoba untuk memanggil dia dari dimensi ini saja." putus Ze.
Ze lalu duduk bersila di atas sebuah batu dan konsentrasi memanggil sang penjaga dengan telepati. Setelah beberapa saat muncul lingkaran bercahaya putih di depan Ze dan gadis cantik keluar dari lingkaran itu.
"Ada apa memanggilku dan bagaimana kau bisa tahu cara memanggilku datang menemuimu?" tanya gadis itu.
"Silla yang memberitahu aku." jawab Ze.
"Silla?" beo gadis itu.
__ADS_1
"Oh aku tahu, jiwa batu dimensi ini bukan yang kau maksud." tanya Silla setelah menyadari dimana dirinya saat ini.
"Benar aku memanggilnya Silla agar nyaman saat ingin berbicara dengan dia." jawab Ze.
"Ada apa?" tanya Ze.
"Aku menemukan sesuatu yang aneh saat kembali dari gunung Jiuli. Itu terjadi di desa bernama desa sen." jawab Ze.
"Hal aneh apa?" tanya gadis itu.
"Sebuah kabut melahap seluruh penghuni desa termasuk binatang yang kecil sekalipun. Katanya kabut pelahap tapi aku tidak tahu pasti. Aku bertanya pada Silla dan dia bilang hanya kau yang bisa mengatasi kabut pelahap ini." jelas Ze.
"Kabut pelahap memasuki dimensi ini dan aku tidak tahu. Bagaimana bisa seperti ini?" gumam gadis itu.
"Kau tidak perlu khawatir untuk masalah kabut pelahap itu. Aku akan mengatasinya dan mencari penyebab kabut itu bisa muncul." ucap gadis itu.
"Baiklah, jika kau akan mengurusnya aku bisa tenang." saut Ze.
"Oh aku hampir lupa. Ambil ini ( memberikan beberapa benda berbentuk bulat seukuran kelereng) dan pecahkan saat kau berhadapan dengan kabut pelahap itu suatu hari nanti. Benda itu akan melindungi dirimu dan orang-orang disekeliling dirimu dari kabut pelahap." jelas gadis itu.
"Asal mereka tidak terlalu jauh darimu." tambahnya.
"Mengapa kau memberikan ini padaku sedangkan kau yang akan mengurus kabut pelahap itu?" tanya Ze.
"Siapapun yang membuat kabut pelahap itu aku tebak dia menargetkan dirimu yang selalu ingin ikut campur dalam masalah orang lain yang kesulitan disekitar dirimu. Aku takut jika tebakanku benar, orang itu bisa saja langsung menyerang dirimu dengan kabut itu." jawab gadis itu.
"Semoga aku dapat menemukan dan menghancurkan siapa atau apapun yang membuat kabut pelahap itu sebelum menemukan dirimu." tambahnya.
"Semoga saja."Saut Ze.
"Aku harus segera mengatasi kabut itu dan mencari dalang di balik itu." ucap gadis itu lalu menghilang di balik cahaya putih tanpa menunggu Ze menyahut lagi.
__ADS_1
"Aku juga harus kembali ke kamarku sebelum suamiku kumat manjanya jika ditinggalkan lama." gumam Ze lalu pergi tanpa berbicara lagi pada Silla.