
Jin hu masih sibuk mengurus masalah istana sehingga Ze bosan hanya sendiri saja karena semua orang tampaknya menjadi sangat sibuk bahkan kakek, nenek dan ibunya juga.
"Sebenarnya apa yang mereka semua sibukkan sehingga tidak ada yang bisa aku temui hari ini?" gumam Ze.
"Sebaiknya aku jalan-jalan saja melihat keadaan di luar istana ini. Aku bosan sendiri di sini." putus Ze lalu melangkah ke luar dari kamarnya.
"Sebaiknya aku memberitahu suamiku dulu sebelum aku pergi. Jika tidak, dia akan mengacaukan istana hanya untuk mencari aku." ucap Ze saat dia telah berada di luar kediamannya.
Ze berjalan menuju ruang kerja Jin hu karena yang dia tahu Jin hu ada di tempat itu. Ze masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu dan mendengar seruan Jin hu untuk masuk.
"Kenapa kau lama sekali hanya mengurus masalah kecil Lui yu?" tanya Jin hu yang mengira itu adalah Liu yu yang dia suruh mengurus beberapa hal yang masuk ke dalam ruangannya.
Jin hu terlalu serius membaca beberapa berkas istana sehingga tidak menoleh lagi saat ada yang masuk.
"Kenapa kau hanya di..... Ah sayang maaf aku kira tadi Liu yu yang datang." ucap Jin hu sambil bangkit dari duduknya saat melihat istrinya yang datang.
"Tidak masalah sayang." Saut Ze saat Jin hu memeluknya.
"Aku hanya ingin mengatakan aku ingin keluar istana untuk jalan-jalan sebentar." tambah Ze sambil melepaskan pelukan Jin hu.
"Tunggu aku akan menemanimu untuk keluar." ucap Jin hu.
Mereka kini telah duduk di kursi dengan Ze di atas pangkuan Jin hu.
"Kau tidak perlu meninggalkan kerjaan yang harus kau lakukan untuk menemani aku. Aku hanya akan berjalan-jalan sebentar saja." tolak Ze.
"Baiklah, aku akan memanggil beberapa pelayan untuk menemanimu. Maaf karena aku terlalu sibuk belakangan ini sehingga kau pasti jenuh di istana." ucap Jin hu.
"Kau tidak melakukan kesalahan apapun jadi tidak perlu meminta maaf. Ini adalah tanggung jawab yang harus kau terima sebagai seorang pemimpin. Mengenai pelayan, kau tahu sendiri aku tidak suka dikawal bukan?" ucap Ze.
"Ya, tapi tetap saja aku tidak ingin kau pergi seorang diri." Saut Jin hu.
"Aku hanya berjalan-jalan apa yang bisa terjadi padaku?" tanya Ze.
"Setidaknya panggil ceri emas untuk menemanimu. Mengapa kau harus terlihat secantik ini saat keluar istana tanpa aku." protes Jin hu.
"Ayolah, ini hanya pakaian biasa dan aku tidak berdandan." protes Ze balik.
"Tetap saja kau akan membuat banyak mata terpukau menatap dirimu sayang." ucap Jin hu.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin menggunakan pakaian yang menutup seluruh tubuh dan wajahku di musim panas ini bukan sayang. sudah jangan bahas penampilan aku. Tidak ada yang akan berani menatap terus ke arahku di negeri atas awan ini mengingatkan Rajanya yang mungkin akan mencongkel mata mereka." ucap Ze.
"Bukankah ceri emas juga sibuk?" tanya Ze mengalihkan pembicaraan.
"Urusannya telah selesai tadi." jawab Jin hu.
"Baiklah aku akan mencari Cece kalau begitu." ucap Ze.
Ze hendak bangun dari pangkuan Jin hu namun tidak bisa karena Jin hu tetap melingkarkan tangannya di perut Ze.
"Bagaimana aku bisa pergi jika kau memelukku seperti ini?" protes Ze.
"Maka tidak usah pergi." Saut Jin hu.
"Sayang.....!" ucap Ze dengan wajah kesalnya.
"Ha ha ha ha, baiklah jangan marah. Aku hanya bercanda istriku. Kau beri aku satu ciuman dulu agar memiliki tenaga lebih untuk bekerja." ucap Jin hu dengan wajah memelas.
"Kau tidak cocok dengan wajah seperti itu. Hentikan memasang wajah seperti itu." ucap Ze.
"Mengapa dia suka sekali memasang wajah anak anjing yang menggemaskan seperti itu sih." batin Ze.
"cup, sudah bukan?" ucap Ze setelah mengecup singkat bibir Jin hu.
"Itu bukan ciuman sayangku." ucap Jin hu.
Dia menarik tengkuk Ze lalu menyatukan bibir mereka. Jin hu me*umat lembut bibir Ze yang dibalas oleh Ze. Mereka melakukannya cukup lama hingga Liu yu yang tiba-tiba masuk karena pintu lupa di tutup kembali oleh Ze sebelumnya membuat mereka berhenti.
"Ops maaf." ucap Liu yu lalu memutar tubuhnya.
"Aku harus segera pergi." ucap Ze lalu pergi setelah mengecup singkat pipi Jin hu.
"Apakah kau tidak bisa mengetuk pintu?" tanya Jin hu kesal pada Liu yu.
"Pintunya terbuka lebar Yang mulia Raja. Aku pikir itu tidak masalah untuk langsung masuk saja." jawab Liu yu.
"Ini bukan ruangan umum setidaknya kau harus mengetuk dulu untuk memastikan bahwa aman untuk langsung masuk atau tidak." ucap Jin hu yang masih kesal.
"Baik yang mulia Raja, maaf aku yang salah." ucap Liu yu akhirnya.
__ADS_1
"Salahmu sendiri bermesraan di ruang kerja tanpa menutup pintu. Mengapa jadi aku yang disalahkan Raja." batin Liu yu.
Mereka lalu membahas beberapa hal yang Liu yu cari tahu sebelumnya atas perintah Jin hu. Sedangkan Ze segera mencari ceri emas dan mengajaknya ke luar istana untuk jalan-jalan.
"Kita kemana yang mulia?" tanya ceri emas.
"Aku ingin ke pasar lalu setelahnya kita berkunjung ke kediaman Wen yuan membesuk Sie li." jawab Ze.
Mereka memilih jalan kaki karena pasar dan rumah Wen yuan tidak jauh dari istana. Selama perjalanan, banyak mata yang memandang kagum ke arah Ze yang tidak risih berjalan kaki tanpa kawalan prajurit di tengah keramaian. Ze asik memilih beberapa camilan dan pernak-pernik untuk diberikan pada Sie li sebagai buah tangan.
"Bukankah itu ayah dan ular api?" tanya Ze pada ceri emas.
"Benar yang mulia." Saut ceri emas.
"Mereka dari mana dan siapa wanita yang sedang mereka ajak bicara itu?" tanya Ze.
"Aku juga tidak tahu yang mulia." jawab ceri emas.
"Wah aku jadi punya ide untuk membuat api." gumam Ze saat melihat Mei yin dan Luo yin sedang asik berbincang sambil memilih kain.
"Anda ingin membakar apa yang mulia? Ini pasar dan sangat ramai saat ini. Akan ada yang terluka jika anda main api di sini." ucap ceri emas yang salah paham maksud Ze.
"Bukan api itu yang aku maksudkan cece." ucap Ze memutar bola matanya.
"Api apa lagi yang mulia?" tanya ceri emas.
"Api yang membakar hati. Membuat orang merasa terbakar di dalam hatinya." jawab Ze.
"Sudah kau diam dan ikuti aku saja." ucap Ze lalu menyeret ceri emas ke arah Mei yin.
"Kira-kira wanita cantik yang sedang berbicara akrab dengan ayah itu siapa ya?" tanya Ze pada ceri emas dengan nada yang cukup keras agar Mei yin mendengarnya.
"Aku juga tidak tahu yang mulia Bukankah....." Ceri emas berhenti menjawab melihat tatapan tajam Ze.
"Sepertinya wanita itu berniat menggoda ayahku dari cara dia menatapnya." ucap Ze.
"Aku tidak tahu soal seperti itu yang mulia." Saut ceri emas.
Mei yin berhenti melakukan kegiatannya untuk mendengarkan percakapan Ze yang tanpa dia tahu memang sengaja untuk dia dengarkan.
__ADS_1