Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Enam puluh sembilan


__ADS_3

Ze menggelar selimut tebal yang dia ambil dari cincin penyimpanan miliknya tepat di sebelah Jin hu bertapa.


Dalam waktu singkat Ze sudah me-ngelana di dunia mimpi. Ze tertidur cukup lama bahkan sampai saat Jin hu selesai dengan tapanya, Ze masih juga nyaman dengan tidurnya. Jin hu tersenyum sembari mengusap pelan pipi Ze dengan punggung jarinya.


"Tidurnya begitu lelap. Apa yang telah dia lakukan sehingga membuatnya begitu lelah hingga dapat terlelap seperti itu." gumam Jin hu.


"Apakah terjadi sesuatu saat aku harus bertapa yang membuatnya harus menghadapi masalah serius?" tanya Jin hu berupa gumaman.


"Aku sungguh sangat tidak berguna. Seharusnya aku mendampingi dan melindunginya dalam keadaan seperti ini. Tapi, karena kondisi tubuhku yang seperti ini dan dengan segel itu di dalam tubuhku, aku malah menjadi beban untuknya." Jin hu mengucapkan itu dengan wajah sendunya dia asik dengan lamunannya sehingga tidak menyadari bahwa Ze sudah terbangun.


"Kau bukanlah beban bagiku suamiku. Kau adalah berkah bagiku karena kau juga ayah, ibu, kakek, nenek juga mereka yang menyayangi aku adalah sumber kebahagiaan juga kesuksesan bagiku." ucap Ze lalu mengecup singkat bibir Jin hu.


Bukan Jin hu namanya jika tidak memanfaatkan kesempatan yang dibuat untuknya agar dapat berduaan dan memadu kasih dengan istrinya.


Jin hu tidak membiarkan bibir Ze yang baru saja menempel di bibirnya terlepas. Jin hu lalu meraih tengkuk Ze dan memperdalam ciuman itu. Ciuman yang awalnya hanya menempel saja itu perlahan berubah menjadi lu*atan lembut yang membuat Ze ikut terbuai dengan ikut dalam permainan lidah Jin hu.


"Kau curang." ucap Ze setelah ciuman panas mereka berakhir.


"Kau mengatakan bahwa suamimu ini curang disaat kau sendiri yang memulai menggoda suamimu dengan mencium bibirku." ucap Jin hu sambil tersenyum menatap jahil pada tubuh istrinya.


"Ada apa dengan senyummu itu?" tanya Ze penuh selidik.


"Sayang..." panggil Jin hu pelan.


"Hm?" sahut Ze.


"Bukankah saat ini hanya ada kita berdua di dalam batu dimensi ini?" tanya Jin hu.


"Ya, lalu?" tanya Ze masih tidak paham maksud suaminya.


"Bukankah kita sudah lama tidak melakukannya?" tanya Jin hu.


"Melakukan apa?" tanya Ze yang justru sibuk mengeluarkan sisa pil yang dia buat untuk Doju sebelumnya untuk dia simpan ke dalam tempat penyimpanan pil miliknya.


"Melakukan hal yang seharusnya kita lakukan agar segera datang nona atau tuan muda Jin di dalam sini." ucap Jin hu sambil memegang perut rata Ze.

__ADS_1


"Tapi.....hmm mmmm." protes dari Ze terhenti oleh bibir Jin hu yang sudah melu*at lembut bibirnya.


"Kau tidak bisa menolak lagi kali ini istriku sayang, karena kau sendiri yang sudah berjanji kalau aku bebas melakukan apapun saat hanya ada kita berdua." ucap Jin hu lalu mendorong pelan tubuh Ze agar berbaring kembali di atas selimutnya.


(Untuk yang terjadi setelahnya jangan tanya author ya😅 cukup pikirkan sesuai jalur pikiran masing-masing ☺️)


Setelah beberapa lama Zili menunggu di depan pintu kamar tempat Ze, akhirnya Ze keluar dari kamarnya bersama Jin hu. Wajah tertekuk Ze membuat Zili heran.


"Apa yang terjadi putri?" tanya Zili.


"Tidak ada hal penting, hanya saja ada seseorang yang membuat aku kesal." jawab Ze sambil melirik Jin hu dengan wajah kesalnya.


"Jangan terus menerus cemberut sayang, aku hanya melakukan sesuai janjimu." ucap Jin hu.


"Apa salahnya aku menagih janji yang memang sudah kau buat?" tanya Jin hu dengan senyuman penuh kemenangan.


"Menagih janji memang tidak salah tapi kau membuat aku susah untuk bergerak sesudahnya. Sekarang saja tubuhku masih terasa remuk." keluh Ze tapi hanya melalui bisikan karena malu jika Zili mendengar keluhannya.


"Maaf sayang, suamimu terlalu bersemangat. Lain kali aku akan melakukan lebih lembut." ucap Jin hu.


"Karena aku memang sedang bahagia." saut Jin hu.


Zili yang masih kurang paham dengan maksud percakapan suami istri itu hanya diam mendengarkan perdebatan mereka.


"Bagaimana dengan Doju?" tanya Ze mengalihkan pembicaraan agar Jin menghentikan kata-kata yang membuat Ze akan malu.


"Aku belum meninggalkan tempat ini jadi belum tahu perkembangan terkini keadaan Doju putri." jawab Zili.


"Tidak bisakah kau memanggil istriku dengan panggilan nyonya?" tegur Jin hu.


"Berhenti untuk mempermasalahkan hal itu setidaknya saat kita di istana ini. Setidaknya beri muka pada Zili yang seorang pangeran yang dihormati di tempat ini." tegur Ze.


"Baiklah, karena aku sedang senang kali ini aku tidak akan permasalahkan lagi. Keluar dari istana ini gelar nyonya Jin kau dan pengawal mu itu harus ingat." ucap Jin hu.


Zili hanya mengangguk menanggapi ucapan Jin hu. Zili sudah terbiasa melihat tingkah Jin hu yang kadang kekanakan saat bersama istrinya itu.

__ADS_1


"Ayo kita lihat keadaan Doju dulu. Setelah keadaan Doju lebih baik dan sudah bisa untuk aku tinggalkan, kau harus mengantar kami menemui kakak Ruri dan mengantar kami kembali ke dunia bawah." ucap Ze.


"Mengantar? Apakah itu artinya aku harus kembali dan menetap di negeri ini dulu?" tanya Zili.


"Ya, untuk saat ini kaisar dan Doju membutuhkan kamu lebih dari aku. Aku juga ingin agar kau mencari tahu tentang hubungan beberapa siluman yang bisa memasuki kawasan negeri hewan roh suci dengan penyebab Doju seperti ini." tambah Ze.


"Baik putri, akan aku cari tahu." ucap Zili.


"Ada sesuatu yang lebih kuat di belakang dua orang keluargamu itu dan kau harus hati-hati menyelidiki mereka." ucap Ze.


"Kau harus mewaspadai mereka. Jangan lupa selain melindungi kaisar, kau juga harus menjaga agar dirimu tidak terluka." tambah Ze.


"Baik putri, terima kasih karena telah diperingatkan." ucap Zili.


"Ini pil yang sama yang aku berikan untuk Doju. Aku masih bisa membuat itu lagi dan kamu lebih membutuhkan itu. Khasiatnya sama dengan pil penawar segala racun tapi itu berguna untuk penghuni dunia atas juga." ucap Ze sembari meletakkan sekantong pil yang dia maksud di tangan Zili.


"Terima kasih putri." ucap Zili dengan rasa senang dan haru karena Ze sungguh tidak hanya menganggapnya sebagai hewan kontraknya saja mengingat perlakuan Ze dan perhatian Ze padanya.


"Tidak perlu sungkan karena kita adalah keluarga." ucap Ze semakin membuat Zili memandang kagum pada dirinya.


"Ayo." ajak Ze dan mereka segera melangkah menuju tempat Doju berada saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nah author sudah up lagi nih


Yang nanya atau bilang di komen


"Kok gantung sih Thor?"


Sebenarnya author gak sengaja mo gantung sih. Sebenarnya author lagi mikir mau di buat seperti apa selanjutnya makanya di potong di bagian itu bab nya.


Author lagi gak dapet ide atau masih belum srek untuk ide lanjutannya. Author harus mikir bagaimana biar lebih enak dibacanya makanya di stop di situ untuk bab itu sementara author mikir lanjutannya.


Pasti gak enak dan gak akan baca lebih lanjut kalau ceritanya gak seru dan gak menarik bukan?

__ADS_1


Selamat membaca 😗


__ADS_2