Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Akhir kehidupan permaisuri Mu ru yue


__ADS_3

Ada banyak orang yang mati di tempat ini. Apakah ini artinya tubuh yang mereka gunakan sebagai wadah akan selalu diganti?" gumam Ze.


"Mereka semua masih hidup." ucap Ze setelah memeriksa denyut nadi mereka.


"Bukankah dia pangeran yang menolak untuk membantu ibunya mencari tumbal dan bahkan menentang apapun yang ibunya lakukan dalam penglihatan mata dewa milikku sebelumnya?" ucap Ze saat memperhatikan wajah dari satu orang yang terbaring di atas meja.


Ze menatap wajah pangeran yang dia maksud sambil berpikir.


"Aku sebaiknya bertanya pada Silla saja bagaimana caranya agar bisa memusnahkan para laba-laba itu tanpa membunuh orang-orang ini." putus Ze lalu segera menghilang masuk ke dalam batu dimensi.


"Silla.......!" panggil Ze dengan suara keras.


"Ada apa?" tanya Silla.


Ze kemudian menceritakan secara singkat masalah yang terjadi lalu bertanya bagaimana menyelamatkan nyawa pemuda yang menjadi wadah kehidupan dari para laba-laba itu.


"Kalau begitu, kau cukup memetik daun pohon jiwa sebanyak jumlah pemuda yang akan kau selamatkan itu. Letakkan daun pohon jiwa di atas kening mereka lalu konsentrasi untuk menyerap energi kehidupan dari tubuh mereka." jelas Silla.


"Dengan cara itu kau juga akan mendapatkan manfaat. Energi kehidupan dari para laba-laba itu akan menjadi energi murni yang akan meningkatkan kualitas roh dan tubuh mu. sedangkan untuk para pemuda itu, jika hati mereka baik, maka mereka akan hidup namun bila mereka memiliki hati dan pikiran picik, maka tubuhnya akan menjadi abu." tambah Silla menjelaskan.


"Baiklah, aku paham. Aku akan pergi memetik daun pohon jiwa." ucap Ze lalu melangkah menuju pohon jiwa.


"Karena ada 8 orang pemuda yang menjadi wadah kehidupan dari para laba-laba itu, berarti aku harus memetik 8 lembar daun pohon jiwa." gumam Ze lalu memetik daun sesuai jumlah yang dia inginkan.


Seperti biasa, Ze tidak akan memetik daun melebihi jumlah yang dia butuhkan. Setelah selesai memetik Ze segera keluar dari batu dimensi.


"Aku harus segera melakukan penyerapan energi kehidupan dari para laba-laba itu di tubuh mereka." ucap Ze lalu segera meletakkan satu persatu daun pohon Jiwa pada kening masing-masing pemuda yang masih tertidur di atas meja itu.


Ze duduk bersila pada sebuah meja kosong yang dia sengaja keluarkan dari batu dimensi. Ze kemudian memejamkan mata konsentrasi menyerap energi kehidupan dari tubuh 8 orang itu. Tubuh 8 orang itu bergetar mengeluarkan asap berwarna merah yang bergerak ke arah Ze.


Tubuh Ze sedikit terangkat hingga terlihat mengambang di udara. Tubuhnya mengeluarkan cahaya keemasan pudar yang semakin lama semakin terang dan pekat warnanya.


Setelah beberapa saat tubuh 8 orang itu tidak lagi bergetar dan asap berwarna merah tidak lagi keluar dari tubuh mereka. Tubuh Ze tetap melayang di udara dengan dikelilingi oleh cahaya keemasan yang sangat terang. Perlahan cahaya itu seolah meresap ke dalam tubuh Ze hingga hilang dan tubuh Ze kembali duduk di atas meja.

__ADS_1


"Tubuhku terasa lebih berenergi." ucap Ze.


Ze melihat 8 meja tempat para pemuda tertidur. Ternyata hanya 3 orang saja yang masih utuh dan pangeran yang disebut Ze menentang keinginan permaisuri adalah salah satu dari 3 orang itu.


Ze melihat 3 orang itu membuka mata mereka. 3 orang itu duduk sambil memegang kepala mereka yang masih terasa pusing.


"Akhirnya kalian bangun juga." ucap Ze.


"Akh...." pekik mereka sambil memegang kepala.


"Kau siapa dan ada apa dengan kami?" tanya salah satu dari mereka.


"Aku datang ke sini untuk menghancurkan kekejaman dan keserakahan permaisuri dari kerajaan ini. Seharusnya aku cukup menghancurkan tubuh kalian yang sudah menjadi wadah kehidupan dari para laba-laba itu tapi melihat kalian masih hidup dan tubuh kalian masih utuh, aku putuskan menyelamatkan nyawa kalian." jawab Ze.


"Ternyata ibunda sungguh-sungguh menjadikan aku sebagai tumbal." ucap sendu seorang dari mereka.


"Ya, kau juga mereka adalah tumbal demi keserakahan permaisuri yang keji itu." ucap Ze.


"Apa yang akan terjadi pada ibuku setelah kami selamat dari menjadi tumbal? Apakah beliau akan baik-baik saja dan dapatkah beliau memperbaiki diri jika ibuku bisa sadar bahwa yang dia lakukan adalah hal yang tidak seharusnya dilakukan?" tanya pangeran itu.


"Tidak dapatkah aku menggantikan posisi ibu?" tanya pangeran itu lagi.


"Seseorang harus menerima konsekuensi dari perbuatan yang dia lakukan. Tidak ada yang namanya mewakili untuk menjalani hukum alam yang terjadi." ucap Ze.


"Dia sudah sangat kejam padamu tapi kau masih ingin pengampunan untuk hidupnya? " tanya Ze.


"Beliau adalah ibu yang telah melahirkan aku. Kesalahan apapun tidak bisa mengubah kenyataan itu." ucap pangeran itu.


"Apakah itu artinya ibu dan ayah kami juga akan mendapatkan hasil yang sama yaitu kematian?" tanya pemuda yang lainnya.


"Jika mereka juga menjadi penyembah mahluk itu dan ikut dalam ritual, maka besar kemungkinan mereka juga akan mati." jawab Ze.


"Mereka pantas menerima konsekuensi dari perbuatan yang mereka lakukan. Mereka tidak hanya mengorbankan kalian tapi sudah ada ribuan gadis dan ratusan saudara kalian yang sudah menjadi tumbal. Satu nyawa mereka bernilai seribu kehidupan yang akan terselamatkan kedepannya jika mereka telah disingkirkan." ucap Ze.

__ADS_1


"Kau hanya bisa mengambil alih tahta kosong yang ditinggalkan oleh permaisuri dan menjalankan dengan baik tugas kau. Tidak ada gunanya menyesal atas apa yang telah terjadi. Kedepannya aku yakin kau akan menjadi pemimpin yang lebih baik." ucap Ze.


...----------------...


Di luar kediaman itu Zili dan Hui tu sedang bertarung melawan para prajurit, Permaisuri, rekannya juga para laba-laba yang telah berhasil menyusul. Setelah cukup lama bertarung dan mereka hampir kehabisan energi, tiba-tiba permaisuri, dua rekannya dan 5 laba-laba itu berteriak histeris.


"Bak buk bak buk." suara pertarungan antara mereka.


"Aku berharap wanita bodoh itu segera melakukan tugasnya karena aku hampir kehabisan tenaga." ucap Hui tu sambil terus bertarung.


"Aku juga sudah kelelahan melawan mereka yang tidak pernah kehabisan tenaga. " ucap Zili.


"Akh...Tidak.....!" pekik mereka sambil berlutut memegang kepala mereka yang terasa sakit.


"Apakah Ze sudah berhasil?" tanya Hui tu.


"Dari yang aku lihat, yang mulia sepertinya berhasil." ucap Zili.


Tubuh 8 orang itu perlahan menguap menjadi asap hitam tebal. para prajurit yang melihat hanya mampu terdiam di tempat tanpa tahu harus melakukan apa.


"Apakah sudah berakhir?" tanya Hui tu setelah melihat tubuh 8 orang itu hilang tanpa jejak.


"Kita tunggu yang mulia tiba dulu baru kita tahu apakah semua telah berakhir atau masih ada tugas lainnya di kerajaan ini." jawab Zili.


Setelah menunggu beberapa lama Ze keluar dari kediaman permaisuri diikuti 3 orang pemuda. Para prajurit menunduk hormat melihat salah satu dari mereka yang diketahui adalah pangeran dari negeri itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuhuuu


Cuap-cuap author kembali menyapa


Author hanya mau mengucapkan terima kasih atas dukungan semuanya dan semoga kedepannya kalian tidak bosan terus membaca dan memberikan dukungan kepada author.

__ADS_1


Selamat membaca


__ADS_2