
Ze sedikit penasaran dengan tubuh mahluk merah itu karena mereka tidak bereaksi dengan serangan tiba-tiba darinya dan ular api.
"Apakah mereka tidak akan bereaksi tanpa perintah mahluk itu?" gumam Ze.
Ze menggunakan satu lagi belati tanpa racun dan kembali menyerang mereka dengan belati yang dia bawa.
...****************...
Di tempatnya Jin hu terkejut melihat orang yang paling dia sayang dan rindukan walaupun baru beberapa hari tidak bertemu itu ada di belakang kelompok yang tidak dia tahu asal dan jenisnya apa itu yang saat ini menjadi lawannya.
"Ze? Mengapa dia berada di sana? Semoga dia tidak melakukan tindakan yang berbahaya untuk dirinya." gumam Jin hu dengan wajah cemas.
Dia dan kelompoknya tidak bisa keluar dari tabir yang menjadi pelindung istana atas awan itu meski melakukan berbagai macam cara. Itu karena kelompok yang berusaha merusak tabir pelindung itu telah melapisi luar tabir itu dengan tabir kurungan yang mencegah apapun di dalamnya untuk dapat keluar.
"Apa yang sebenarnya mereka inginkan dengan menunjukkan hal mengerikan itu pada kita?" tanya seorang kesatria yang mengernyit heran dan horor sekaligus melihat tindakan pemimpin mahluk aneh itu pada tubuh manusia yang dia tangkap.
"Entahlah, mungkin mereka ingin agar kita takut pada mereka." jawab rekannya.
"Lihatlah para mahluk atas tanah. Posisi kami dibawah tanah namun lebih kuat dari kalian para mahluk yang hidup di atas kami. Sedangkan kalian, mahluk dunia di atas kalian lebih kuat dari kalian. Kalian sungguh mahluk paling lemah." ucap pemimpin mahluk itu.
"Mereka bisa menggunakan bahasa kita." ucap seorang prajurit.
"Dia mengatakan bahwa mereka selama ini tinggal di bawah tanah?" tanya yang lain.
"Hanya suaranya saja dan tanah sudah bergetar. Apakah mahluk itu sangat kuat?" tanya prajurit lain yang mulai sedikit takut.
"Ha ha ha ha." kembali suara menggelegar terdengar.
"Aku akan menembus semua tempat istimewa dan suci kalian yang katanya tidak dapat dimasuki oleh sembarangan orang. Mahluk dunia bawah tanah akan menduduki dunia manusia dengan manusia sebagai budaknya." ucapnya lagi.
"Membuat kita semua menjadi budak? Apakah sama seperti mahluk merah yang mereka buat dari korban mereka itu?" tanya prajurit yang mulai takut itu lagi.
__ADS_1
"Dia tidak sekuat itu juga. Dia menggunakan energi untuk suara yang dia keluarkan agar terlihat sangat kuat." ucap Wen yuan.
"Jangan takut. Kita harus menghadapi mereka dengan sekuat tenaga. Lebih baik mati dengan bertarung dari pada mati dalam ketakutan." ucap Liu yu.
Jin hu tidak terlalu mendengar apa yang para prajuritnya ucapkan karena terlalu fokus pada Ze yang sangat dia cemaskan saat ini. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ze dan dia tidak dapat melakukan apapun karena tidak bisa menembus tabir yang mahluk bawah tanah itu buat.
"Bukankah itu Ratu istana atas awan kita?" ucap salah satu prajurit saat melihat Ze berlari dari belakang mahluk merah itu.
"Wah Ratu kita memang seorang pemberani." puji prajurit lain saat melihat Ze menyerang beberapa mahluk merah walaupun mahluk itu tidak bereaksi atas serangan Ze.
"Apa yang sebenarnya nyonya sedang lakukan tuan?" tanya Wen yuan.
"Entahlah, mungkin dia sedang menguji sesuatu." jawab Jin hu tanpa mengalihkan pandangan cemasnya dari sang istri.
"Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan sayang? Mengapa kau begitu suka menantang mara bahaya? Tidakkah kau tahu bahawa makhluk itu sangat berbahaya?" gumam Jin hu.
"Awas sayang....!" seru Jin hu saat salah satu mahluk merah dengan tubuh lebih besar hampir menghantam tubuh Ze dari belakang.
"Apakah kau baik-baik saja sayang? Apakah kau terluka? Mengapa kau nekat melakukan hal berbahaya seperti itu?" tanya Jin hu beruntun dengan wajah cemas.
"Plak....!" satu tamparan mendarat dengan sangat keras di pipi Jin hu.
Tidak perlu tanya siapa pelakunya karena hanya Ze yang berani melakukan hal itu. Semua orang yang ada di tempat itu terkejut melihat Ze menampar raja mereka.
"Apakah kau juga lupa bahwa kau juga dalam bahaya dan membuat aku cemas? Kau pergi tanpa memikirkan bahwa aku akan cemas akan keadaanmu?" bentak Ze menatap wajah Jin hu dengan tatapan tajamnya.
Ze sungguh dikuasai emosi memikirkan hal buruk yang bisa saja terjadi pada Jin hu jika segel dalam tubuhnya kembali aktif dan Jin hu dengan seenaknya memutuskan pergi tanpa menunggu pendapat darinya.
"Maaf sayang, aku sudah salah. Aku sangat panik mendapatkan laporan tentang apa yang terjadi di sini hingga langsung ke sini." ucap Jin hu sambil memeluk tubuh istrinya.
"Lupakan masalah itu. Kita akan bahas setelah ini selesai. Ada mahluk aneh itu yang menunggu untuk diatasi lebih dulu." ucap Ze melerai pelukan Jin hu.
__ADS_1
Ze masih marah bahkan sangat marah pada Jin hu. Tapi, mengingat ada hal lain yang lebih penting untuk ditangani Ze menekan rasa marahnya dan berusaha menganggap Jin hu sebagai rekan untuk bertarung saat ini. Tabir pelindung istana atas awan adalah satu-satunya harapannya agar keluarganya aman dan nyaman tanpa khawatir akan serangan mahluk yang menginginkan kematian mereka.
"Aku akan menghancurkan tabir kurungan mereka dan membuat tabir pelindung lain sebagainya gantinya agar tabir pelindung istana atas awan tidak lebih rusak lagi." ucap Ze.
"Apa yang harus kami lakukan nyonya?" tanya ular api.
"Siapkan beberapa kain putih bersih seukuran dengan kain ini karena aku kehabisan kain untuk bahan segel milikku." ucap Ze menunjukkan selembar kain putih berukuran kira-kira lebar 7 cm dan panjang 20 cm.
"Biar kami saja yang mengurus kain itu." ucap seorang prajurit diangguki dua rekannya.
"HM." hanya itu jawaban Ze dan mereka segera pergi dari tempat itu.
Ze mengamati beberapa mahluk merah yang dia serang sebelumnya dan mengangguk paham.
"Melukai mereka tidak akan berguna. Ternyata butuh racun pengurai untuk melawan mereka." gumamnya.
"Aku harus membuat lebih banyak lagi cairan pengurai segera." ucap Ze lalu menulis beberapa bahan yang dia butuhkan untuk membuat cairan pengurai.
"Beberapa orang pergi ambilkan aku beberapa bahan yang telah aku tulis dalam kertas ini." ucap Ze seraya menyerahkan selembar kertas pada seorang prajurit.
"Baik Ratu." jawab mereka dengan hormat.
"Jangan panggil aku ratu." ucap Ze.
"Baik nyonya." ucap Wen yuan dan Liu yu membuat contoh agar para prajurit paham panggilan apa yang harusnya mereka gunakan.
"Pergilah cepat." ucap Ze.
"Apa yang sedang kau rencanakan sayang?" tanya Jin hu namun tidak dihiraukan oleh Ze yang masih marah padanya.
"Maaf." ucap Jin hu lagi dengan sangat menyesal.
__ADS_1
"Jangan bahas itu dan aku tidak butuh penjelasan untuk saat ini. Kita hanya sebatas rekan untuk berperang dan setelah ini usai baru urusan itu kita lanjutkan." ucap Ze tegas tanpa bantahan.