
Di Kerajaan Beicheng
Huo nan saat ini tengah sibuk menangani beberapa masalah. Dia harus mampu mengurus masalah pemberontakan, mencari tahu penyebab juga mencari tabib untuk penyembuhan penyakit ayahnya, serta harus mengatasi masalah kedudukannya sebagai putra mahkota yang terancam.
"Bagaimana?" tanya Huo nan dingin pada tabib yang baru orang kepercayaan nya dapat.
Ya, saat ini Huo nan tengah berada di dalam kamar ayahandanya yang tengah terbaring lemah. Jangankan untuk bangun, sedangkan untuk berbicara saja kaisar Beicheng sudah tidak sanggup membuat Huo nan semakin frustasi.
"Ampuni hamba yang Mulia putra mahkota. Penyakit yang diderita Yang mulia Kaisar sangat langka dan hamba belum bisa menerapkan pengobatan karena ini pertama kalinya hamba menemukan penyakit seperti ini." ucap tabib itu berlutut dengan tubuh yang bergetar ketakutan.
"Kau bisa pergi." ucap Huo nan.
"Kalian semua tunggu diluar saja." ucap Huo nan dan para kasim yang ada di dalam sana segera menunduk hormat lalu keluar.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada ayahanda?" tanya Huo nan pada sang ayah.
"Mengapa kondisi ayahanda seperti ini?" tanyanya lagi dengan wajahnya yang sendu.
"Jika saja aku tetap bertahan di negeri hewan roh Suci saat itu mungkin aku sudah tidak dapat melihat ayahanda lagi." ucapnya sendu.
Flashback on
Huo nan yang sedang fokus bertapa tiba-tiba saja merasa gelisah dan segera bangun dari tapanya.
"Ada apa?" tanya Zili karena saat Huo nan bangkit dengan gelisah dari tapanya bertepatan saat Zili datang untuk memeriksa keadaan mereka.
"Entahlah, aku merasa tidak tenang seolah sedang terjadi hal yang buruk. Aku terus kepikiran tentang ayahandaku apakah terjadi sesuatu pada beliau?" jawab Huo nan.
"Jika kau merasa khawatir akan keadaan di tempatmu maka kembalilah." ucap Zili memberi saran.
"Tapi, bagaimana dengan tapa ini dan yang lainnya masih dalam tapa aku tidak mungkin meninggalkan mereka." ucap Huo nan.
"Mereka akan baik-baik saja disini. Ada aku yang menjaga mereka dengan aman. Aku akan menjelaskan alasan mengapa kau pergi lebih awal saat mereka bertanya nanti." ucap Zili.
__ADS_1
"Soal tapamu, semua akan sia-sia jika kamu meneruskannya tapi tidak dapat fokus. Jika ada masalah yang cukup serius terjadi di sana, tentu masalah itu akan berakibat fatal jika kau menunda untuk mencari tahu dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia di tempat ini." ucap Zili membuat Huo nan yakin untuk kembali.
"Kau memang benar, dapatkah kau membawaku kembali ke dunia bawah?" pinta Huo nan.
"Aku akan membawamu langsung ke tempatmu di Kerajaan Beicheng." ucap Zili.
Zili segera membawa Huo nan kembali ke Kerajaan Beicheng saat itu juga.
"Terima kasih telah membawaku kembali." ucap Huo nan.
"Bukan masalah, aku harus segera kembali untuk mengawasi mereka." ucap Zili.
Zili segera menghilang dari hadapan Huo nan dan Huo nan segera masuk ke dalam kawasan istana. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui keadaan ayahandanya yang sudah sangat memprihatinkan.
Huo nan lebih frustasi lagi karena mendengar laporan tentang pemberontakan dan petisi dari beberapa pejabat untuk menggantikan posisinya dengan adiknya dari selir ayahandanya.
Flashback off
Huo nan menggenggam tangan ayahandanya dan meletakkan kepalanya di samping tubuh ayahandanya.
Huo nan mulai menangis tanpa suara, isakan tertahan yang keluar dari mulutnya semakin menambah rasa pilu bagi orang yang mendengarnya.
Kaisar Beicheng walaupun tidak dapat bergerak juga bersuara, beliau dapat mendengarkan semu keluhan putranya itu. Beliau ikut menitikkan air matanya merasakan kepiluan putranya yang harus menghadapi segalanya seorang diri.
"Maafkan ayahanda yang tidak dapat melakukan apapun untuk membantu meringankan beban mu. Ayahanda sangat yakin kalau kau adalah orang yang kuat. Kau pasti mampu mengatasi semua masalah ini." batin kaisar Rui.
"Apakah kakak ipar dan kakak kedua sudah kembali dari sembilan negeri ajaib sekarang ini? Jika kakak ipar ada setidaknya masalah penyakit ayahanda dapat teratasi dengan mudah." gumam Huo nan.
"Tapi bagaimana caranya aku mencari tahu akan hal itu?" gumamnya lagi.
"Cheng duan." panggilnya dan seseorang dalam hitungan detik sudah tunduk hormat di depannya.
"Kau dan beberapa orang kembalilah ke Kerajaan Doucan dan istana atas awan. Periksa apakah putri Ze dan tuan Jin hu sudah kembali." ucapnya.
__ADS_1
Huo nan sudah beberapa kali mengutus orang untuk mencari tahu keberadaan Jin hu dan Ze namun hasilnya nihil karena mereka belum kembali dari kawasan sembilan negeri ajaib.
"Baik yang mulia putra mahkota." saut Cheng duan dan dia segera pergi setelah mendapat isyarat kibasan tangan dari Huo nan.
"Kakak ipar segeralah muncul. Aku hanya dapat mengandalkan kakak ipar tentang masalah penyakit ayahanda." gumam Huo nan.
"Tenang saja ayahanda, aku pastikan ayahanda akan segera baik-baik saja setelah kakak ipar datang. Aku masih tidak ingin kehilangan ayahanda tanpa usaha apapun setelah aku sudah kehilangan ibunda saat itu." ucap Huo nan.
"Ayahanda istirahat dulu ya, aku harus menangani masalah lain agar setelah ayahanda sembuh nanti masalah ini sudah tidak ada lagi." ucap Huo nan lalu keluar dari kamar sang ayah.
"Jaga ayahanda ku dengan baik. Jika terjadi sesuatu pada ayahanda, aku pastikan kau juga seluruh keluargamu akan ikut dimakamkan pada hari itu." ucapnya datar.
Setelah semua masalah itu terjadi, Huo nan yang hangat dan ceria menghilang berganti dengan sosok dingin tak tersentuh.
Dia sangat waspada terhadap semua orang disekitarnya karena dia sangat yakin bahwa keadaan sang ayah saat ini pasti ada campur tangan orang dalamnya.
"Lapor yang mulia putra mahkota, pasukan yang kita utus untuk mengatasi para pemberontak telah gugur dalam pertempuran." lapor seorang pada Huo nan.
"Kurang ajar....! Bagaimana bisa dengan rencana yang sangat matang dan orang-orang yang sangat handal mereka semua dapat dengan mudah terkalahkan dalam waktu yang sangat singkat?" ucap frustasi Huo nan.
"Mereka semua terkepung di tengah jalan dan ternyata sudah banyak perangkap yang menanti mereka." jawab pelan orang itu takut dengan amukan Huo nan.
"Ada apa lagi ini. Mengapa mereka dapat memperkirakan kedatangan prajurit kita dan dengan mudah dapat menjebak mereka?" tanya Huo nan.
"I itu..... "
"Sudahlah, kau bisa kembali ke tempatmu. Aku butuh waktu sendiri untuk berfikir." ucap Huo nan sambil memijat pelan pangkal hidungnya.
"Pasti ini salah satu rencana dari mereka untuk menyingkirkan aku dari Kerajaan ini." gumam Huo nan.
jangan lupa memberikan dukungan kalian berupa like vote dan komen.
selamat membaca ✌
__ADS_1