Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Rencana2


__ADS_3

Jin hu hanya pasrah mengikuti keputusan Ze yang tidak ingin ada lagi pembahasan masalah pribadi di tengah masalah lain yang harus dihadapi. Para ksatria istana atas awan semakin takjub dan kagum pada Ze melihat Jin hu, pemimpin yang mereka takuti dan hormati takluk oleh Ze.


Kelompok yang bertugas mengambil kain telah tiba. Mereka membawa sangat banyak kain yang telah dipotong dengan ukuran yang Ze inginkan.


"Ini kain yang anda minta yang mulai ra...." lapor dua orang prajurit pada Ze dan ucapannya terpotong oleh Wen yuan dan Liu yu yang sengaja menyela agar prajurit itu tidak menyebut Ze sebagai Ratu untuk menghindari nyonya mereka itu kembali tersulut emosi.


"Nyonya Jin." potong Wen yuan dan Liu yu bersamaan.


"A..." prajurit itu ingin bertanya namun rekannya menariknya pergi.


"Fyuh syukurlah." ucap pelan mereka berdua karena prajurit itu berhasil dibawa pergi.


"Ada apa kalian berdua memanggil dengan suara nyaring?" tanya Ze.


"Seolah aku ini seorang yang tidak dapat mendengar saja." protesnya.


"Maaf, kami hanya ingin tanya saja. Apa yang dapat kami lakukan untuk membantu?" jawab Liu yu.


"Untuk saat ini tidak ada." ucap Ze.


"Baik nyonya." saut keduanya.


Ze segera menulis mantra segel pada beberapa kain namun berhenti sesaat seperti memikirkan sesuatu.


"Kumpulkan sekitar 30 orang dengan kultivasi di atas tingkat 5 segera." ucap Ze.


"Baik putri." saut Wen yuan dan Liu yu.


Jin hu hanya diam di belakang Ze sambil melihat apa yang akan Ze lakukan dan Ze rencanakan. Jin hu tahu bahwa dia salah karena membuat Ze khawatir dan dia akan melakukan apapun tanpa bersuara agar istrinya tidak semakin marah padanya.


...----------------...


"Ratu tidak ingin dipanggil dengan gelar ratu." bisik rekan yang menarik prajurit itu pergi.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya prajurit itu bingung.


"Aku juga tidak tahu. Mungkin karena nyonya masih marah pada yang mulia atau karena yang mulia juga tidak mau dipanggil raja, kaisar bahkan pangeran sekalipun." jawab rekannya.


"Aku paham sekarang. Terima kasih karena menyelamatkan aku dari kemarahan nyonya kita itu. Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi padaku jika nyonya marah padaku. Sedangkan yang mulia saja dapat tamparan keras." ucapnya sambil menggigil ketakutan membayangkan amarah Ze.


...----------------...


Ze segera melempar kain bertuliskan mantra yang dia buat ke arah tabir setelah sebelumnya dia ucapkan mantra pada kain itu.


"Jimat penghancur segel hancurkan." ucap Ze.


"Duar....." suara ledakan yang sangat besar terdengar dari kain jimat yang tiba-tiba meledak saat Ze mengucapkan kata hancurkan.


"Krek krek krek prang." lapisan tabir yang pemimpin mahluk bawah tanah itu buat perlahan retak hingga hancur tak bersisa.


"Wah ajaib, tabir kurungan itu hancur dalam sekejap." seru seorang prajurit dengan tatapan takjub ke arah tabir yang sebenarnya sudah tidak ada.


"Memang nyonya kita adalah yang terbaik dan tiada duanya." puji prajurit lain.


Dia bukanlah iri atau tidak suka Ze semakin kuat. Jin hu hanya berpikir bagaimana dia dapat melindungi orang yang paling dia sayangi itu jika lawan yang Ze tidak mampu hadapi adalah lawan yang sudah pasti tidak dapat dia lawan juga.


...----------------...


Di luar tabir mahluk y mengakui diri mereka adalah makhluk bawah tanah terkejut sekaligus marah karena tabir kuat yang mereka buat, yang mereka percaya tidak akan mudah ditembus apa lagi dihancurkan itu telah hancur tidak bersisa.


Belum cukup mereka kesal karena melihat Ze dan ular api dengan mudah menembus tabir mereka sebelumnya, sekarang semakin kesal lagi karena tabir mereka dapat dihancurkan dengan mudah oleh orang yang sama.


"KURANG AJAR.......!" suara kemarahan sang pemimpin mahluk itu semakin menggelegar dan terasa semakin menggetarkan sekitarnya.


"AKU AKAN PASTIKAN BAHWA KALIAN AKAN MATI DENGAN CARA MENGENASKAN DAN MENGHANCURKAN TUBUH KALIAN AGAR TIDAK AKAN DAPAT KEMBALI BEREINKARNASI." ucapnya kembali masih dengan suara yang sangat keras.


"Kau pikir dengan penampilan jelek kalian dan suara mengguncang dunia kalian itu aku akan takut?" tanya Ze.

__ADS_1


"Tentunya tidak. Kelebihan kalian hanya ukuran tubuh yang tinggi namun tidak memiliki otak. Hanya menghadapi cacing seperti kalian aku tidak akan pernah takut." ucapnya lagi dengan senyum meremehkan.


"SIAPA YANG KAU SEBUT SEBAGAI CACING HAH?" tanya si pemimpin mahluk bawah tanah itu kesal.


"Jangan terlalu banyak mengerahkan tenaga dalam hanya untuk membuat kau terlihat hebat dengan mengguncang tanah saat kau bersuara. Nanti kau akan kehabisan tenaga sebelum bertarung." ucap Ze santai.


"Bukankah kalian adalah mahluk yang hidup di bawah tanah? Apakah aku salah menganggap kalian adalah cacing tanah yang menjelma jadi seperti sekarang karena bosan hidup di bawah tanah?" tanya Ze.


"Toh sama-sama mahluk yang hidup di bawah tanah ini. Aku tidak tahu mahluk apa lagi yang hidup di bawah tanah selain cacing." ucap Ze lagi membuat beberapa prajurit tertawa mendengarnya.


"Kurang ajar kau. Aku akan membuatmu menyesal. Cepat hancurkan segel pelindung dari istana atas awan itu." ucapnya kali ini tidak lagi menggunakan tenaga dalam hingga tidak lagi menggelegar.


Beberapa dari mereka kembali menyerang dengan kekuatan penuh ke arah tabir pelindung itu.


...----------------...


Wen yuan dan Liu yu maju bersama beberapa orang prajurit sesuai dengan yang Ze inginkan.


"Kami sudah mengumpulkan semua prajurit nyonya. Tapi..."


"Tapi kenapa?" tanya Ze.


"Hanya ada 26 orang saja termasuk kami yang memiliki tingkat kultivasi di atas tingkat 5." jawab Liu yu.


"Biar aku ikut serta dalam kelompok itu nyonya." ucap ular api untuk pertama kalinya setelah memasuki tabir karena sejak tahu sang tuan marah dia tidak berani untuk mengatakan apapun.


"Aku juga akan ikut dalam kelompok." ucap Jin hu.


"Hm dengan mereka artinya sudah lebih dari cukup karena kecepatan mereka jauh dari tingkat 5. Ambil kertas itu satu orang satu dan untuk kalian ambil 2." ucap Ze.


"Aku akan mengurung mereka dengan segel kurungan dan tugas kalian adalah meletakkan kain itu di sekeliling tabir yang mengurung mereka. Ingat untuk menggunakan kecepatan penuh karena selembar segel kurungan tidak akan mampu mengurung mereka yang berjumlah banyak terlalu lama." ucap Ze.


"Baik nyonya Jin." saut mereka semua kompak.

__ADS_1


Ze kembali melempar selembar kain dengan tulisan mantra yang sedikit berbeda ke arah luar tabir itu.


"Jimat segel kurungan penuh aktifkan." ucap Ze dengan nada suara yang sangat tinggi.


__ADS_2