Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Empat puluh lima


__ADS_3

"Kenapa tubuhku jadi kotor seperti ini?" tanya Ze.


"Itu tandanya proses pembersihan dan penguatan tubuhmu sudah selesai. Kau tinggal mandi untuk membuang semua kotoran-kotoran dari tubuhmu itu." jawab Silla.


Ze segera membersihkan dirinya dengan air suci yang ada di dalam batu dimensi itu. Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian yang dia pakai menggunakan pakaian yang ada di dalam cincin penyimpanan miliknya, Ze merasa ada yang berbeda dengan dirinya.


"Apakah ada yang berubah dari diriku? Aku seolah merasa berbeda tapi tidak tahu dari segi apa." tanya Ze.


"Bukankah kulitmu jauh lebih putih dan halus sekarang?" tanya Silla.


"Ah iya." jawab Ze.


"Itu tidak hanya memperbaiki pondasi dalam tubuhmu saja tapi juga memperindah tampilan luar tubuhmu juga." jelas Silla.


"Apa yang kau rasakan dari kekuatanmu?" tanya Silla.


"Aku merasakan tingkat kultivasi milikku meningkat satu level dan aliran energinya menjadi sangat stabil." jawab Ze.


"Ya benar sekali. Sekarang kekuatan yang ada di dalam tubuhmu sudah seimbang dan sangat stabil. Jadi, kau sudah bisa meningkatkan kultivasi dirimu lagi sekarang." jelas Silla.


"Ajaib, aku tinggal meraih satu level lagi dan aku sudah dapat menghancurkan segel pada tubuh suamiku." ucap Ze semangat.


"Ya, hanya tinggal satu level dan cara paling mudah adalah mencari lawan yang tangguh. Beberapa monster di dalam hutan kutukan memang sangat kuat. Kau dapat menjadikan mereka lawan mu." jelas Silla.


"Ah apa yang harus aku lakukan pada daun pohon jiwa ini?" tanya Ze.


"Tumbuk hingga halus lalu campur dengan air suci. Setelah itu lumuri pada seluruh tubuh suamimu dan hewan rohnya. Biarkan hingga kering lalu bilas setelah itu dia akan bebas dari pelacak apapun yang melekat pada tubuhnya." jelas Silla.


"Baik terima kasih banyak." ucap Ze.


"Aku harus bergegas untuk melakukan tugasku." ucap Ze lagi.


"Ya, Berhati-hatilah terhadap mereka yang menginginkan dirimu. Kau memiliki banyak rahasia pada dirimu yang membuat banyak orang bahkan mahluk kuat menginginkan dirimu." ucap Silla.


"Terima kasih telah peduli." ucap Ze.


"Bukan masalah kau harus bergegas." ucap Silla lalu Ze segera keluar dari batu dimensi itu.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun pada Hui tu, Ze segera kembali masuk ke dalam batu dimensi namun batu dimensi yang lain. Batu dimensi tempat Jin hu dan hewan rohnya berada saat ini.


"Cece, tolong ambilkan aku sesuatu untuk menghaluskan daun ini." ucap Ze setelah masuk ke dalam batu dimensi dan mendapati Ceri emas yang tersenyum menyambutnya.


"Baik putri." sahut ceri emas lalu segera mencari apa yang Ze butuhkan.


"Apakah ini bisa digunakan putri?" tanya ceri emas.


Ceri emas membawa dua buah batu yang satu berbentuk wadah dan satunya lagi berbentuk seperti tabung dengan ujung bulat.


"Ya, sangat bisa." jawab Ze lalu segera menerima batu itu dari ceri emas.


"Apakah ada lagi yang dapat saya bantu putri?" tanya ceri emas.


"Untuk saat ini tidak. Kau pergi saja lakukan apa yang ingin kau lakukan." jawab Ze.


Ceri emas segera pergi dari sana dan kembali ke batu tapa. Dia dan juga ular api berusaha untuk lebih kuat agar dapat melindungi tuannya yaitu Ze.


Saat Ze tengah serius menghaluskan daun pohon jiwa, tiba-tiba ada lengan yang melingkar di perutnya juga ada tubuh yang menempel dibelakangnya dengan kepala diletakkan di pundaknya.


"Apa yang sedang kau buat sayang?" tanya Jin hu.


"Ramuan agar kau juga kuda naga terbang mu dapat keluar dari batu dimensi tanpa rasa cemas dilacak oleh orang itu." jawab Ze.


"Apa yang sedang kau lakukan? Aku sedang mengerjakan sesuatu." tanya Ze kesal.


"Lakukan saja apa yang sedang kau kerjakan." ucap Jin hu.


"Bagaimana aku dapat bekerja di saat kau memeluk juga melakukan hal seperti ini?" tanya Ze pasalnya saat ini Jin hu tengah menciumi tengkuknya juga tangannya tidak diam saja.


"Aku amat sangat merindukanmu sayang." ucap Jin hu.


"Bisakah kau tenang dan tidak mengganggu aku dulu hingga ini selesai?" pinta Ze.


"Apakah kau tidak merindukan suamimu ini?" tanya Jin hu.


"Aku harus bergegas karena aku membutuhkan kuda naga terbang untuk membawa kita ketempat yang aman setelah aku selesai mengurus si Ming hui itu." jelas Ze.

__ADS_1


"Ada apa dengan dia?" tanya Jin hu.


"Ceritanya panjang dan akan aku ceritakan setelah ada waktu yang pas." jawab Ze.


"Dapatkah kau berhenti sebentar karena keselamatan kita dan semua orang sedang dipertaruhkan saat ini?" tanya Ze dengan tegas pasalnya Jin hu tidak hanya tidak berhenti tapi tangannya mulai nakal meraba hingga meremas sesuatu yang sangat sensitif dari tubuh depan Ze.


"Baik aku tidak akan menggangu dan tidak akan melakukan apapun. Cukup memelukmu saja tidak masalah bukan?" pinta Jin hu.


"Tolong ambilkan aku wadah dengan ukuran sedang lalu isi dengan air suci." pinta Ze pada Jin hu.


"Dengan senang hati suamimu laksanakan." ucap Jin hu lalu segera mengambil apa yang Ze butuhkan.


"Ini sayang." ucap Jin hu sambil menyimpan wadah berisi air suci di depan Ze.


Ze segera memasukkan daun pohon jiwa yang sudah dia haluskan ke dalam wadah berisi air suci itu. Ze mengaduk nya hingga tercampur rata lalu meminta ular api yang kebetulan selesai bertapa dan merubah bentuknya menjadi wujud manusia agar membaluri tubuh kuda naga terbang dengan ramuan yang dia buat tadi.


Ze membantu Jin hu membaluri tubuhnya dengan campuran daun pohon jiwa yang dihaluskan dengan air suci itu.


"Biarkan hingga kering lalu bilas setelah itu kau juga kuda naga terbang dapat keluar dari batu dimensi ini. Aku harus keluar dan kembali ke kediaman ayah untuk mengurus beberapa hal juga pemuda licik itu.


setelah kau selesai keluarlah dari sini dan temui aku." ucap Ze.


"Baik istriku. " saut Jin hu.


Ze segera keluar dari batu dimensi dan menemui Hui tu yang masih setia berjaga di dalam kamar itu.


"Ayo kita segera kembali ke kediaman ayahku." ajak Ze.


"Ayo." sahut Hui tu.


"Apakah kau dapat menangani si Ming hui palsu itu seorang diri kakek tua?" tanya Ze saat mereka sudah di atas kuda.


Ze memutuskan membeli kuda karena akan lambat jika menggunakan kereta.


"Bukan hal sulit." jawab Hui tu.


"Kalau begitu aku serahkan dia padamu dan aku akan membuat jimat segel pelindung agar kediaman ayahku juga orang-orang di dalamnya aman." jelas Ze.

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak berupa vote, like dan komen.


selamat membaca 😊


__ADS_2