
Memikirkan istri yang dia sayangi akan sakit hati jika masalah itu berlanjut, Jin hu mengeluarkan aura mencekam yang membuat semua orang di dalam ruangan itu gemetar ketakutan.
Walaupun pencapaian Jin hu paling rendah di antara Ze, Hui tu dan hewan juga tanaman roh milik Ze, pencapaian Jin hu masih tetap jauh di atas penghuni dunia bawah. Jadi, tekanan yang keluar dari tubuh Jin hu tentu saja berdampak besar bagi semua yang berada di dalam ruangan itu.
Mereka semua sudah tidak bisa bergerak bahkan bernapas. Sebagian dari mereka sudah ada yang memuntahkan darah.
"Tuan....!" panggil Liu yu dengan nada yang sedikit lebih tinggi karena sudah tidak sanggup menerima tekanan aura dari Jin hu.
"Ah, aku lupa bahwa ada banyak orang di ruangan ini. Aku sedang memikirkan sesuatu yang membuat aku kesal sampai lupa kalau itu dapat berdampak pada yang lainnya." ucap Jin hu.
Aura mencekam di ruangan itu tiba-tiba saja menghilang dan mereka yang ada di dalam sana bernapas lega.
"Anda sedang kesal itu masalah anda yang mulia. Bagaimana mungkin kami harus mati konyol hanya karena anda sedang kesal." batin Liu yu.
"Apakah jika anda kesal kami harus mengorbankan nyawa kami?" batin seorang tetua.
"Hanya kesal saja dan itu bukan karena kami, kau sudah ingin membunuh kami semua. Bagaimana jika kau sedang marah besar dan itu ditujukan pada kami?" batin seorang Mentri.
"Mati saja kau dengan rasa kesal mu itu." maki yang lain tentu dalam hati saja.
Ada banyak sekali protes, makian bahkan kutukan yang tertuju untuk Jin hu namun hanya dalam hati para tetua dan pejabat istana itu. Mana berani mereka membuat Jin hu semakin kesal atau bahkan marah dengan ucapan yang tidak baik. Itu sama halnya dengan mengantar nyawa secara cuma-cuma pada malaikat maut.
"Sekarang aku ingin mendengarkan semua laporan tentang semua hal yang terjadi selama aku tidak ada di dalam istana ini." ucap Jin hu.
Beberapa orang mulai melaporkan satu persatu masalah yang pernah dan sementara ada di istana. Jin hu mendengarkan dengan santai semua laporan dari para pejabat istana itu. Hingga pada laporan yang Jin hu tunggu- tunggu, Jin hu mulai memperhatikan dengan seksama wajah semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Dua bulan terakhir beberapa kerajaan besar baik kerajaan di sekitar negeri atas awan ini maupun yang jauh mengirimkan surat tawaran kerja sama kerajaan dengan cara perjodohan." lapor seorang dari mereka.
__ADS_1
"Perjodohan? Aku masih belum memiliki keturunan, bagaimana bisa aku menerima perjodohan ini?" ucap Jin hu.
"Mereka menginginkan putri dari kerajaan mereka untuk menjadi pendamping anda yang mulia." ucap seorang tetua.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Tolak semua usulan itu dan aku tidak ingin masalah ini tersebar keluar dari ruangan ini." ucap Jin hu tegas.
"Tapi, mereka telah mengirim putri-putri mereka saat mendengar kabar bahwa anda sudah kembali dan mungkin beberapa hari ini akan tiba di negeri ini." ucap tetua Fu.
Dia adalah seorang pemimpin tetua yang sangat dihormati setelah Jin hu. Para pemimpin kerajaan besar itu mendengar rumor bahwa Jin hu sudah tidak lagi alergi pada wanita dan bahkan Jin hu berhubungan dengan seorang wanita biasa saja bahkan tidak berguna.
Mereka jadi bersemangat untuk mengirimkan putri terbaik mereka agar menjadi istri dari Jin hu. Mereka pikir bahwa putri mereka jauh lebih pantas menjadi permaisuri dibandingkan dengan wanita tidak berguna (Ze maksudnya).
Dengan mengikat kerja sama pernikahan mereka akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Putri mereka akan menjadi istri seorang jenius dan kerajaan mereka semakin berjaya mengingat banyaknya sumber daya yang dapat mereka ambil dari negeri atas awan jika mereka sudah menjadi bagian dari istana atas awan.
"Cepat sekali kabar kedatanganku ini tersebar. Apakah kalian telah berpindah tugas dari pejabat istana menjadi pembawa berita atau bahkan mata-mata untuk mereka?" tanya Jin hu.
"Aku tidak butuh alasan." potong Jin hu.
"Bagi putri yang bersedia menikah dengan kalian atau putra dari kalian silahkan saja. Bagi yang bersikeras untuk menjadi saingan untuk istriku, kembalikan pada kerajaan mereka masing-masing sebelum aku mengirim mereka sebagai tubuh tanpa jiwa (mati)." ucap Jin hu tegas.
"Tapi, mereka semua berasal dari kerajaan besar yang sebaiknya tidak kita singgung." ucap tetua Fu.
"Betul yang mulia." saut Mentri Xin yang merupakan Mentri pertahanan.
"Lalu, apakah aku harus takut pada mereka?" tanya Jin hu.
"Bukan takut, hanya saja tidak baik mencari masalah dengan mereka." jawab tetua Fu.
__ADS_1
"Tidak baik membuat masalah yang akan menimbulkan peperangan antara kerajaan." tambahnya.
"Ada berapa putri yang akan datang?" tanya Jin hu.
"Ada 15 orang yang mulia." jawab Mentri Xin dengan lebih semangat karena mengira Jin hu sudah terima.
"Maka aku putuskan untuk memberikan mereka semua pada keluarga kalian para tetua dan Mentri. Aku hanya memiliki satu wanita di sisiku sebagai kekasih, istri, permaisuri ataupun permaisuri yaitu Shi Ze lan yang menjadi nyonya Jin saat ini. Tidak ada selir atupun gu*dik di istana milikku ini selamanya." putus Jin hu.
"Tapi, bagaimana dengan peperangan yang mungkin bisa..."
"Bagaimana cara mereka menyerang negeri ini sedangkan untuk masuk ke dalam tabir saja mereka tidak akan bisa?" tanya Liu yu yang mulai jengah.
"Itu...."
"Liu yu saja yang bukan penghuni asli negeri ini tahu bahwa mereka yang bertujuan buruk tidak akan bisa menembus tabir negeri ini." cibir Jin hu.
"Kami...."
"Cukup satu kali aku tegaskan bahwa tidak ada wanita lain yang bisa menjadi pendampingku selain istriku saat ini dan itu berlaku selamanya. Bagi yang memiliki niat untuk mengganggu urusan dalam rumah tanggaku, maka mati adalah hukuman pasti dariku." ucap Jin hu tegas.
Jin hu tidak memberikan kesempatan kepada mereka membuat alasan yang akan membuat dia semakin kesal. Hanya membuang waktu saja mendengar alasan yang tidak berguna baginya. Jin hu sudah sangat bosan berada di ruangan itu dan ingin segera kembali ke kamarnya dan Ze.
"Jangan sampai masalah ini sampai ke telinga istriku. Jika ada yang menyampaikan masalah ini, maka terima hukuman mati untuk dirinya beserta seluruh keluarganya." ucap Jin hu lagi.
"Masalah apa yang tidak boleh aku ketahui?" tanya seorang wanita yang membuat Jin hu terkejut mendengar suaranya.
Semua orang menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka dan Ze sudah berdiri dengan tatapan tajam ke arah Jin hu.
__ADS_1
"Glek." Jin hu menelan ludah dengan susah melihat Ze.