
Sepertinya kita tidak bisa meninggalkan putri Yin ying, lihat saja wajahnya sudah terlihat menyedihkan hanya karena kau menyebutkan masalah kita kembali ke istana Beicheng." ucap Hui tu.
"Apakah tidak masalah bibi jika kami membawa putri Yin ying? Aku akan berjanji selama mereka belum resmi menikah, putri Yin ying akan menjadi tanggung jawabku." ucap Ze.
"Baiklah, bibi percayakan Yin ying padamu." ucap ibu Yin ying.
Mereka akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke kerajaan Beicheng untuk memberitahu langsung pada Raja Rui mengenai rencana pernikahan Huo nan dan putri Yin ying.
Karena Ze, Jin hu dan Hui tu datang dengan menggunakan kemampuan terbang mereka dan Huo nan datang menggunakan kuda tanpa kereta, mereka harus mencari kereta agar dapat membawa putri Yin ying.
Mengetahui hal itu ibu Yin ying menawarkan kereta milik mendiang suaminya dan diterima oleh Huo nan. Akhirnya Ze dan Jin hu pergi menggunakan kuda Huo nan berdua. Sedangkan, Hui tu ditugaskan untuk menemani calon pasangan baru di kereta agar Huo nan tidak mengambil keuntungan di perjalanan jika hanya berdua dengan putri Yin ying.
"Huo nan memiliki lebih banyak tugas setelah kerajaan Xin menjadi bagian dari kerajaan Beicheng." ucap Ze di atas kuda sambil bersandar pada tubuh suaminya.
"Ya, terlebih lagi karena hampir semua prajurit kerajaan Xin telah dimusnahkan, dia memiliki tugas tambahan untuk membentuk kembali sistem keamanan kerajaan. Tidak mungkin kerajaan besar hanya memiliki sedikit prajurit saja. Hal itu akan memancing kerajaan sekitar mengincar daerah kekuasaan miliknya ini yang cukup luas dengan wilayah yang cukup makmur." ucap Jin hu.
"Semoga si konyol dapat menjalankan tugas dengan baik. Rakyat di daerah ini akan makmur jika yang memimpin mereka bijak dalam memimpin mengingat letak strategis dari wilayah kerajaan ini dan aku lihat tanah di sekitar sangat subur." ucap Ze.
"Ya, memang benar. Tapi, kita akan pastikan bahwa tidak ada yang salah sebelum kembali meninggalkan dia dengan tanggung jawab yang semakin besar." ucap Jin hu.
"Yah kita memang harus selalu membantu dia. Siapa suruh kita sudah terbiasa memanjakan dia selama ini. Kita harus tetap membantu meringankan beban dia sebelum meninggalkan dia." ucap Ze.
Sementara di kereta
Hui tu memilih duduk di depan bersama kusir yang di utus oleh ibunya Yin ying. Tentunya kereta harus kembali untuk mereka gunakan nantinya untuk menyusul mereka saat rencana pernikahan sudah benar pasti.
Huo nan di dalam kereta menatap wajah tertidur putri Yin ying yang berbantalkan pahanya. Dia terus tersenyum sambil mengelus kepala gadis yang berhasil mencuri perhatian dirinya dengan tingkah kekanakannya.
"Mengapa aku merasa nyaman dia mendekati aku seperti ini? Apakah sungguh itu karena aku tertarik pada dirinya layaknya seorang pria pada wanita? Bukan sekedar tertarik karena menganggap dia adik kecil yang harus dijaga?" gumam Huo nan.
"Apakah keputusan menikahi dia sudah tepat? Aku khawatir jika suatu saat dia tidak lagi berpikiran layaknya anak kecil, dia akan menyesal dan menyalahkan kami terutama aku yang menikahi dia?" gumam Huo nan sambil terus menatap wajah tertidur itu.
Mereka tiba di istana Beicheng dan langsung disambut oleh raja Rui dengan wajah khawatir. Yang pertama tiba adalah Ze dan Jin hu karena mereka menggunakan kuda. Raja Rui menyambut mereka namun matanya seolah mencari sesuatu.
__ADS_1
Ya, pria itu mengkhawatirkan putranya yang pergi bertarung melawan kerajaan Xin yang besar dan dikenal kejam. Dia lebih khawatir lagi karena putranya menolak membawa prajurit.
"Huo nan baik-baik saja paman. Dia terlambat karena menggunakan kereta untuk kesini." ucap Ze menyadari kekhawatiran pria tua di depannya itu.
"Oh, syukurlah. Terima kasih karena telah membantu melindungi Huo nan." ucap raja Rui.
"Apa yang paman ucapkan itu seolah menganggap kami sebagai orang asing." Protes Ze.
"Maafkan paman, tapi bagi paman keberlangsungan kerajaan Beicheng ini memang penting tapi tidak lebih penting dari keselamatan Huo nan. Kalian tidak hanya menjaga Huo nan agar tetap baik-baik saja tapi juga membantu mengamankan kerajaan Beicheng ini. Paman hanya merasa bersyukur kalian ada sebagai keluarga walaupun tidak sedarah, kalian rela membantu tanpa berharap imbalan apapun." ucap raja Rui.
"Kalau begitu kali ini aku akan meminta satu hal sebagai imbalan." ucap Ze.
"Katakan apapun itu akan paman usahakan untuk berikan." ucap raja Rui.
"Aku hanya ingin apapun yang Huo nan minta nanti saat tiba di istana, paman setujui saja." ucap Ze.
"Hanya itu?" tanya Raja Rui.
"Tanpa kau pinta pun, paman akan selalu menyetujui apapun permintaan Huo nan. Jadi, paman pikir kesempatan untuk mengajukan permintaan kau hanya sia-siakan saja." ucap raja Rui.
"Belum tentu paman, hal ini mungkin akan cukup sulit bagi paman untuk menyetujui nya. Tapi, yakinlah bahwa apapun yang aku inginkan itu tidak akan berdampak buruk pada Huo nan." ucap Ze.
Raja Rui mengernyit bingung dengan ucapan Ze. Tapi, dia percaya bahwa orang yang pernah menyelamatkan nyawa nya itu tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan merugikan putranya. Terlebih karena Huo nan sangat menghargai dan menghormati dia.
"Baiklah, akan paman usahakan untuk menyetujui apapun keputusan Huo nan." ucap raja Rui.
Tidak lama setelah itu kereta yang membawa Huo nan, putri Yin ying dan Hui tu tiba di depan istana.
"Itu mereka telah tiba." ucap Ze melihat kereta berhenti.
Huo nan turun lebih dulu dari kereta. Melihat Huo nan yang tampak baik-baik saja raja Rui menghela napas lega sambil tersenyum bangga karena sekarang dia benar-benar percaya bahwa putranya yang selalu bersikap konyol telah memenangkan pertarungan antara kerajaan.
Raja Rui kembali mengerutkan dahi melihat sebuah tangan kecil yang sepertinya tangan milik seorang gadis menyambut uluran tangan putranya dari dalam kereta. Tidak lama seorang gadis cantik keluar dari kereta sambil tersenyum ke arah Huo nan dan lebih membuat raja Rui tidak percaya, Huo nan balas tersenyum dengan lembut ke arah gadis itu.
__ADS_1
Walaupun Huo nan sangat ramah dan berisik serta suka bergaul, dia terkenal tidak terlalu mudah akrab dengan wanita. Walaupun tidak anti dengan wanita seperti Jin hu, Huo nan tidak pernah terlalu dekat dengan wanita apa lagi tersenyum begitu tulus untuk wanita.
Melihat itu raja Rui seolah tengah bermimpi. Dia bahkan berpikir kalau putranya tidak akan pernah dekat dengan lawan jenis dan menikah karena dia sama sekali tidak ingin memaksa kehendaknya terhadap Huo nan.
"Siapa gadis yang bersama Huo nan?" tanya Raja Rui.
"Sebaiknya biarkan Huo nan yang memperkenalkan gadis yang dia bawa pada paman Rui." ucap Ze.
Huo nan membawa putri Yin ying ke arah ayahnya yang sedang menatap penuh selidik ke arahnya.
"Ayah." sapa Huo nan dan orang tua itu langsung memeluk tubuh putranya.
"Syukurlah kau baik-baik saja." ucap raja Rui.
"Siapa gadis cantik yang kau bawa kembali ini?" tanya Raja Rui.
"Sebaiknya kita berbicara di dalam saja paman." saran Ze setelah melihat ada banyak yang penasaran hingga mencuri dengar pembicaraan mereka secara diam-diam.
"Ah iya, ayo kita bicara di kediamanku saja. Di luar sini terlalu banyak telinga yang ingin ikut mendengar hal yang tidak seharusnya mereka dengar." ucap raja Rui yang mengerti arah pandangan Ze.
Mendengar ucapan raja Rui mereka semua segera melakukan tugas mereka karena takut ketahuan. Sedangkan raja Rui dan yang lainnya berjalan menuju kediaman raja Rui untuk berbicara.
"Sekarang jelaskan siapa gadis yang kau bawa kembali?" tanya Raja Rui semakin penasaran pasalnya gadis yang putranya bawa terus melengket pada putranya tanpa malu dilihat oleh orang lain.
"Dia adalah putri Yin ying, putri dari mendiang kaisar Yue dari kerajaan Xin yang berhasil aku kalahkan ayah." jawab Huo nan.
"Jika dia adalah putri dari kaisar Yue, dari yang aku dengar semua putri dari kaisar kejam itu tidak ada yang lolos dari tindakan bejatnya dan mereka semua dijadikan selir oleh ayahnya sendiri. Mengapa kau membawa bekas selir dari ayahnya sendiri? " tanya Raja Rui.
"Dia bukan selir dari kaisar Yue ayah." ucap Huo nan.
"Bagaimana bisa kaisar Yue melepaskan dia dengan penampilan yang sangat cantik itu?" tanya Raja Rui tidak percaya.
"Ada alasan yang tepat mengapa dia bisa lolos dari kebejatan ayahnya itu." ucap Huo nan.
__ADS_1