
Hui tu mendorong tubuh 4 orang itu hingga berlutut di depan Jin hu. Dia lalu menunduk hormat bersama ular api pada Jin hu mengingat mereka berada di dalam ruangan pertemuan resmi istana.
"Siapa orang-orang itu?" tanya Jin hu.
"Mereka adalah orang-orang luar yang bisa dengan mudah keluar masuk negeri atas awan walaupun tanpa ijin dari anda yang mulia Raja." jawab ular api.
"Tanpa ijin dariku dan mereka bukan penduduk asli negeri ini?" tanya Jin hu dengan kening berkerut.
"Geledah setiap inci tubuh mereka dan laporkan jika ada kertas berstempel atau luka jahitan pada tubuhnya." ucap Jin hu.
"Baik yang mulia." Saut seorang Kasim.
"Aku bukan memerintahkan itu padamu. Hanya Xiao wang dan Hui tu yang boleh menyentuh mereka." ucap Jin hu tegas.
Kasim itu tertunduk takut mendengarkan ucapan Jin hu. Dia hanya mengucapkan maaf dan Jin hu hanya mengatakan agar tidak ada suara lagi sebelum proses penggeledahan selesai dan itu membuat semua yang ada di sana diam membisu.
Hui tu dan ular api segera melakukan tugas mereka tanpa menjawab lagi. Mereka tidak menemukan apapun yang aneh dari tubuh ke empat orang itu.
"Kami tidak menemukan apapun yang anda sebutkan yang mulia." lapor ular api.
"Apakah mereka sudah mengatakan bagaimana cara untuk bisa bebas keluar masuk negeri ini dan bagaimana kalian bisa tahu mereka bisa bebas keluar masuk negeri ini?" tanya penasehat istana.
"Mereka tidak ingin membuka suara bahkan mereka nyaris bunuh diri saat kami berhasil mengalahkan dan menangkap mereka. Beruntung kami berhasil mengiris bibir bawah tempat mereka menanam racun." jawab Ular api.
"Kami tahu kenyataan itu karena berhasil menyaksikan mereka keluar masuk dengan bebas melalui pintu lain negeri ini." jawab Hui tu menambahkan.
"Bagaimana bisa pintu itu ditemukan oleh mereka, sedangkan para pejabat saja hanya beberapa yang tahu tentang pintu itu?" tanya Guan yu.
"Itu yang harus dicari tahu dari mereka. Tapi, sangat sulit mencari jawaban dari mereka." jawab ular api.
"Hanya urusan sekecil itu sudah kau sebut sangat sulit? Apakah kalian berdua benar orangku?" ucap Ze yang tiba-tiba ada di tengah ruangan itu tanpa disadari siapapun sebelumnya.
__ADS_1
Mereka semua menoleh ke arah Ze dengan wajah terkejut karena tidak menyadari kedatangannya bahkan pintu yang terbuka pun mereka tidak menyadarinya.
"Sekuat apa Ratu ini? Dia mampu mengatur tekanan yang dia keluarkan untuk siapa saja di sekitarnya yang dia kehendaki tanpa mempengaruhi orang yang tidak dia inginkan untuk ditekan. Kedatangannya tidak sama sekali aku dan yang lainnya rasakan sebelum dia angkat bicara. Bahkan pencapaiannya tidak hanya tidak terlihat tapi dia bisa membuat orang melihatnya sebagai orang tanpa pencapaian. Sungguh sangat misterius sekali." batin Guan yu.
"Ratu ini terlalu kuat. Sangat disayangkan dia memilih untuk menjadi istri dari orang yang ingin aku singkirkan." batin orang yang baru saja dibicarakan oleh Liu ku dan Hui tu melalui telepati.
"Mengapa kalian semua menatap aku seperti hantu?" tanya Ze membuat semua orang terhenyak dan segera memberikan hormat dan menyambut kedatangan Ze.
Ze hanya mengangguk menanggapi sambutan mereka lalu berjalan mendekati Hui tu. Dia tersenyum melihat ke arah 4 orang yang sedang berlutut dengan tangan terikat itu.
Senyum yang di lihat sangat mengerikan dan membuat mereka yang mengenal baik Ze kasihan kepada orang yang ditatap Ze saat ini.
"Orang yang malang." batin Hui tu melihat ke arah 4 orang yang akan menjadi mainan Ze sebentar lagi.
"Semoga kalian cepat menemui raja neraka karena Ratu ini jauh lebih mengerikan dari kematian." batin ular api.
"Beruntung aku bukan di pihak lawan dari Ratu. Malangnya nasib orang-orang yang menantangnya dan menerbitkan senyum mautnya itu." batin Liu yu.
Jin hu melihat senyum istrinya hanya bisa membiarkannya bersenang-senang dengan menyiksa 4 orang itu hingga mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Jin hu tersenyum menatap bangga ke arah istrinya. Hui tu dan ular api membuka penutup kepala mereka semua.
"Deg....
Beberapa orang yang mengenali mereka kini sudah menahan napasnya. Mereka berharap seseorang segera menghabisi nyawa 4 orang itu sebelum mereka buka suara.
Tiba-tiba 4 buah busur mengarah kepada masing-masing 4 orang itu namun tertahan di udara persis sejengkal dari tubuh 4 orang itu. Mereka kecuali Jin hu dan orang yang sangat mengenal kekuatan Ze terkejut melihat itu.
"Syut...." Ze mengambil lalu melempar balik busur itu ke arahnya datang.
"Akh bruk." terdengar suara pekikan dan saat seseorang memeriksanya dua orang telah terkapar di luar ruangan itu.
"Ingin menghabisi orang tanpa seijin aku di hadapanku heh? Kalian belum cukup mampu untuk itu." ucap Ze.
__ADS_1
"Siapa atasanmu?" tanya Ze pada salah satu dari 4 orang itu.
"Aku tidak.... akh!" belum selesai ucapannya lehernya telah mengeluarkan darah akibat sayatan dari belati yang Ze pegang.
"Bukan jawaban yang aku inginkan." ucap Ze santai tanpa ada rasa menyesal sedikitpun bahkan dia masih tersenyum membuat mereka yang melihat itu bergidik ngeri.
"Ja jangan mendekat." ucap orang berikutnya yang Ze tatap.
"Membosankan." ucap Ze lalu menyayat lengan dua orang lain lalu meneteskan cairan pelebur pada luka mereka dan seketika itu mereka memekik kesakitan hingga menggelepar-gelepar di lantai.
Tubuh mereka perlahan melebur dan menghilang bagai debu di udara. Satu dari mereka yang tersisa sudah gemetar ketakutan bahkan dia telah mengencingi celananya sangking ngerinya melihat penderitaan rekannya itu.
Semua orang disana bergidik ngeri dan bersumpah dalam hati tidak akan berani mengusik Ratu mereka itu.
"Sekarang katakan yang seharusnya aku dengar sebelum aku membuat dirimu hidup bagaikan sampah." ancam Ze.
"Ba baik a akan a ku katakan." ucap orang itu terbata.
Beberapa orang hendak mengambil ancang-ancang untuk pergi namun tubuh mereka tidak dapat bergerak.
"Tanpa seijin dariku tidak ada yang dapat meninggalkan ruangan ini sejengkal pun." ucap Ze menatap tajam seseorang membuat orang itu pucat seketika.
"Lanjutkan." ucap Ze menatap ke arah orang yang masih terikat itu.
"Kami diberikan tugas membawa beberapa harta berharga untuk dijual ke luar dari negeri ini untuk ditukar dengan senjata atau pil untuk memperkuat seseorang. Kami juga di tugaskan mencari gadis dengan tanggal kelahiran tertentu untuk ditumbalkan." ucap orang itu.
"Tumbal untuk apa?" tanya Ze.
"Memperkuat mereka agar dapat menguasai kerajaan ini dan agar orang itu dapat mengambil alih kekuasaan sang Raja dengan mengalihkan stempel khusus negeri ini menjadi miliknya." jawab orang itu.
"Siapa orang itu?" tanya Ze.
__ADS_1