Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Membantu


__ADS_3

Karena aku memiliki hutang budi dan percaya pada anda, aku memilih untuk ikut dengan anda karena aku merasa tidak lagi memiliki tempat yang nyaman di keluarga ini." putus Yang ruo.


"Tapi....


"Yang ruo hanya mengikuti aku leluhurnya. Apakah kalian masih memiliki keluhan?" tanya Hui tu.


"Sudah diputuskan kalau seperti itu. Siang ini juga kita akan kembali ke istana atas awan." ucap Ze.


Tidak ada lagi yang protes setelah itu dan akhirnya Ze dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan bersama tambahan satu orang.


Wajah beberapa orang terutama para tetua seperti tidak terima keberangkatan Yang ruo. Yang ruo adalah pemuda berbakat yang akan mengangkat nama baik keluarga mereka jika terus berada di dalam keluarga Si. Tapi, karena yang membawa Yang ruo adalah leluhur keluarga Si dan Yang ruo sendiri yang menginginkannya, mereka hanya bisa melepaskan Yang ruo pergi.


"Wajah orang-orang itu tampak masam mengantar kepergian kita." ucap Huo nan.


"Itu wajah mengingat salah satu dari pemuda berbakat yang bisa mengangkat nama baik keluarga mereka ikut dalam kepergian kita ini." ucap Zili.


"Apakah kau menyesal karena mengikuti kami? Masih belum terlambat untuk merubah pikiran selagi kita masih belum terlalu jauh dari kediaman keluarga Si." tanya Ze pada Yang ruo yang tampak murung.


"Aku tidak menyesal dengan keputusan ini. Aku hanya masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi sebelumnya." ucap Yang ruo.


"Terkadang harta, kekuasaan dan nafsu dapat membutakan mata dan hati seseorang. Jadi, tidak menutup kemungkinan orang terdekat yang seharusnya paling bisa kita percaya menjadi orang yang menikam dari belakang karena kebutaan itu." ucap Huo nan membuat semua kecuali Yang ruo menatap tidak percaya ke arah Huo nan.


"Ada apa? Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanya Huo nan bingung karena ditatap oleh semuanya bahkan Zili dan Hui tu menoleh ke dalam kereta.


"Apakah pangeran Huo nan kerasukan hantu bijak?" tanya Zili.


"Aku pikir racun itu sungguh telah mencuci otaknya." ucap Jin hu.


"Aku mulai berpikir mungkin saja Huo nan tertukar jiwanya dengan orang lain." ucap Hui tu.


"Apakah kita hanya perlu memberikan racun padanya lalu menyembuhkannya saat dia kembali konyol dan kekanak-kanakan?" tanya Ze.


"Ide yang sangat jenius." ucap Hui tu.


"Aku setuju." ucap Zili.


"Hm bukan ide buruk juga." ucap Jin hu.


Ucapan mereka berhasil membuat Huo nan menganga tanpa bisa berkata apapun selama beberapa saat sangking kesal sedangkan Yang ruo hanya diam menyimak saja sambil menahan tawa.


"Kalian berbicara buruk tentangku tepat di depan mataku seolah aku tidak ada di sini." ucap kesal Huo nan.


"Apa-apaan itu memberikan racun untukku. Apakah ingin membuat aku mati dalam keadaan masih muda dan perjaka?" protes Huo nan lagi.


"Jika tidak ingin mati perjaka, segeralah menikah sebelum mereka menjadikan dirimu bahan uji coba hingga menjadi mayat. Dengan begitu kau tidak akan mati perjaka." ucap Jin hu.


"Kau sedang mengutuk aku kakak kedua?" tanya Huo nan kesal.

__ADS_1


"Bukan mengutuk hanya memberi saran saja." jawab Jin hu santai.


"Huh sebaiknya aku diam saja dari pada mati karena kesal. Semakin banyak bicara mereka semakin menjengkelkan." gumam Huo nan yang memutuskan untuk diam mengabaikan ucapan ataupun tawa mereka.


"Kita akan kemana?" tanya Hui tu.


"Ke kerajaan Beicheng mengantar pangeran konyol kita ini karena sudah terlalu lama meninggalkan tugasnya." jawab Ze.


"Aku masih ingin melakukan perjalanan dengan kalian." ucap Huo nan.


"Walaupun setiap saat anda diperlakukan seperti tadi?" tanya Yang ruo ragu.


"Seperti inilah kami semua. Menunjukkan kekonyolan dan saling menggoda namun tetap saling perduli." ucap Hui tu.


"Kau benar kakek tua." ucap Ze.


"Tugasmu sebagai putra mahkota kerajaan Beicheng tidak boleh kau abaikan. Kau harus bertanggung jawab atas gelar yang kau sandang demi kerajaan dan rakyatnya." ucap Ze.


"Walaupun kadang tidak masuk akal, wanita bodoh itu memang benar. Kau tidak bisa egois demi kesenangan mengabaikan tanggung jawab sebagai calon pemimpin kerajaan." ucap Hui tu.


"Ya, aku tahu itu. Aku hanya mengatakan saja bahwa lebih suka melakukan perjalanan tapi, tugasku di kerajaan terutama untuk menjaga ayahanda tidak akan aku abaikan." ucap Huo nan.


"Kau bisa sesekali ikut dalam perjalanan kecil kami nanti. Tapi, sebelum itu kau harus memastikan kerajaan juga paman Rui aman saat kau tinggalkan selama ikut dengan kami." ucap Ze.


"Ya." ucap Huo nan.


"Apakah kau mendapatkan panggilan dari istana?" tanya Ze.


"Iya yang mulia." jawab Zili.


"Pergilah, mungkin ada hal penting yang menunggu mu." ucap Ze.


"Baik." ucap Zili lalu menghilang.


"Yang ruo, pindahlah ke depan." panggil Hui tu.


Yang ruo keluar sambil celingukan mencari keberadaan Zili. Pasalnya sejak awal kereta tidak berhenti ataupun mengurangi kecepatan dan Zili sudah tidak ada sedang suara orang melompat keluar pun tidak didengarnya.


"Dia sudah tidak di tempat ini." ucap Hui tu yang tahu apa yang sedang pemuda itu cari.


"Keberadaannya dan asalnya belum saatnya kau ketahui. Nanti kami akan menjelaskan tentang dirinya. Kau hanya perlu fokus meningkatkan kekuatan karena mengikuti kami akan ada banyak bahaya mengikuti langkah kita." ucap Hui tu lagi.


"Baik leluhur." saut Yang ruo.


"Panggil aku Hui tu saja." ucap Hui tu.


"Aku merasa janggal dengan itu." ucap Yang ruo.

__ADS_1


"Panggil aku paman Hui tu saja. Leluhur sangat janggal di telinga orang lain nantinya." saran Hui tu.


"Baik paman Hui tu." saut Yang ruo.


"Berhenti...." ucap Ze tiba-tiba membuat semua orang terkejut.


"Ada apa sayang?" tanya Jin hu.


"Ada apa wanita bodoh?" tanya Hui tu.


"Iya kakak ipar ada apa?" tanya Huo nan.


"Di depan ada aura membunuh yang kuat. Apakah kalian tidak menyadarinya?" tanya Ze balik.


"Tidak." jawab mereka kompak dengan kening berkerut.


"Sepertinya aura itu bukan ditunjukkan untuk kita. Jika itu benar, maka tidak jauh dari sini ada pertarungan yang sangat besar karena aura pembunuh itu terasa sangat kuat seolah ada dendam di dalamnya." ucap Ze.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Hui tu.


"Sebaiknya kita mendekat ke sana tanpa kereta untuk melihat apa yang terjadi dan agar tidak mengganggu pertarungan yang belum tentu bisa kita ikut campur." saran Ze.


"Yang ruo, kau tetap di dalam kereta. Jangan keluar apapun yang terjadi karena aku akan membentengi kereta ini untuk berjaga-jaga." ucap Ze.


"Ya, kemampuan kultivasi milikmu masih belum bisa untuk menghadapi masalah pertarungan." ucap Hui tu.


"Baik." ucap Yang ruo.


Mereka berempat akhirnya keluar dari kereta dan meninggalkan kereta setelah Ze membuat pelindung untuk kereta dan Yang ruo di dalamnya.


"Duar...duar....duar..." suara ledakan terdengar samar saat mereka sudah cukup jauh bergerak.


"Bak buk bak buk trang tring trang tring." suara orang baku hantam dan suara benda tajam bertabrakan juga makin kuat terdengar.


"Sepertinya ini pengepungan." ucap Hui tu.


"Menyerah sajalah, kalian tidak akan bisa kabur dari kami." ucap seorang pria.


"Kami tidak akan membiarkan kalian para pengkhianat mendapatkan tuan dan nona muda kami walaupun nyawa taruhannya." ucap pria lain yang tubuhnya sudah penuh luka.


Di sana sudah ada dua orang wanita yang menggendong dua bayi. 7 orang pria mengelilingi mereka sambil membelakangi untuk menjaga dari beberapa orang yang ingin menyerang mereka.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Hui tu.


"Karena itu menyangkut nyawa bayi kecil yang tidak tahu apa-apa, aku tidak bisa tinggal diam." ucap Ze.


"Kalau begitu kita membantu mereka?" tanya Hui tu.

__ADS_1


"Apakah masih perlu bertanya lagi maksud ucapanku?" tanya Ze balik sambil memutar bola matanya.


__ADS_2