
Sia wu terbelalak mendengar ucapan Jin hu. Wajahnya yang berseri tiba-tiba berubah pucat pasi.
"Su suami? Ba bagai mana bisa? Apakah ini sebuah lelucon?" tanya Sia wu terbata.
"Lelucon? Apa maksud dari putri Sia wu dengan lelucon? Apakah pernikahan kami?" tanya Jin hu dengan wajah kesal.
"Tidak..... Ini tidak nyata...!" seru Sia wu kemudian berlari ke luar dari ruangan itu.
"Sia wu....!" seru tuan Wu jin khawatir.
"Maafkan kelakuan putri paman." ucap tuan Wu jin.
"Paman harus melihat keadaannya sebentar." ucapnya lagi lalu pergi dari tempat itu juga untuk menyusul putri kesayangannya itu.
"Kita pergi saja dari tempat ini. Tuan rumah yang tidak menghargai tamunya tidak pantas untuk kita tunggu." ajak Jin hu dan mereka segera berdiri dari tempat duduk masing-masing.
"Maaf tapi, tuan kami belum mengijinkan anda semua untuk pergi. Jadi...."
"Kami tidak perduli dengan ijin dari tuan rumah yang sangat tidak menghargai tamunya." sela Hui tu.
Mereka ingin menghadang langkah Ze dan yang lainnya namun tubuh mereka tidak mampu untuk bergerak karena Zili menekan mereka semua dengan kekuatan rohnya.
"Hanya kalian dan berharap dapat menghentikan langkah kami, jangan bermimpi." ucap sinis Huo nan lalu mereka semua berlalu pergi dari tempat itu.
...****************...
Di tempat Sia wu
Sia wu masuk ke dalam kamarnya dengan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya. Dia lantas membanting pintu lalu pergi ke arah cermin sambil memandangi wajah cantiknya. Kemudian dia mengambil sebuah gulungan dan membukanya yang ternyata adalah lukisan wajah dari Jin hu yang dia lukis sendiri.
__ADS_1
"Aku jauh lebih cantik dan tubuhku jauh lebih indah dari wanita itu. Kenapa kau malah memilih dia untuk menjadi pendampingmu?" ucapnya lantang pada lukisan yang dia pegang itu.
"Kenapa? KENAPA.......!" serunya dengan suara memekik keras lalu menyapu habis semua benda di atas meja rias miliknya dengan kasar.
Tuan Wu jin masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk lagi karena khawatir mendengar teriakan dan suara barang yang berjatuhan dari kamar putrinya itu.
"Sia wu sayang, kau kenapa jadi seperti ini?" tanya tuan Wu jin.
"Ayah tahu sendiri kalau sejak lama aku sudah menjadikan pangeran Jin hu sebagai suami masa depanku. Itulah alasan aku menolak semua pemuda yang mendekati aku. Tapi, mengapa justru dia memilih wanita itu menjadi istrinya?" ucap Sia wu sambil terisak.
Tuan Wu jin memeluk putrinya sambil mengelus sayang kepalanya untuk menenangkan hati putri yang selalu dia sayang itu.
"Kau harus bisa menerima kenyataan ini sayang. Kalian hanya pernah bertemu sekali dan itu hanya kau yang melihat dirinya sedangkan dia tidak pernah menyadari kehadiranmu. Tidak salah jika dia suatu saat tertarik dengan wanita lain karena dia seorang pria." ucap tuan Wu jin.
"Itu artinya jika aku hadir lebih awal di kehidupan dirinya maka aku yang akan menjadi permaisurinya saat ini kan ayah?" tanya Sia wu lemah.
"Putriku adalah gadis berbakat dengan wajah yang sangat cantik. Tentu saja tidak akan bisa ada yang menolak pesonanya. Tapi, ayah mohon kau harus berpikiran terbuka dan merelakan dirinya karena dia telah memiliki seseorang di sisinya." ucap tuan Wu jin yang menyadari bahwa Jin hu sama sekali tidak
"Tidak ayah, aku tetap ingin hidup di sisinya. Aku tidak perduli walaupun harus menjadi selir ataupun gu*dik sekalipun." ucap Sia wu sambil menghapus air mata di pipinya.
"Tidak, bagaimana bisa putri ayah yang berharga menjadi selir bahkan seorang gu*dik. Ayah tidak akan pernah menerima itu." tolak tuan Wu jin.
"Tapi, aku hanya menginginkan pangeran Jin hu sebagai pendamping dan aku tidak akan pernah menikah jika bukan dengan dia ayah." ucap Sia wu.
"Jangan konyol sayang. Di dunia ini masih ada banyak pemuda yang lebih baik dari Jin hu itu. Mengapa kau harus merusak masa depanmu yang cerah hanya untuk hidup sebagai roda ketiga dalam hubungan orang lain?" tuan Wu jin berusaha memberi pengertian putrinya.
"Jika ayah menyayangi putri ayah ini, tolong bantu aku ayah. Bukankah ayah dari wanita itu adalah saudara seperguruan ayah yang sudah seperti saudara bagi ayah? Ayah tentu dapat memintanya agar putrinya bisa menerima aku berada di sisi pangeran ah tidak raja Jin." pinta Sia wu.
"Tidak, bagaimana bisa putri ayah yang berharga menjadi selir?" tolak tuan Wu jin lagi sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Aku mohon ayah. Aku hanya akan sebentar menjadi selir. Aku sangat yakin dengan penampilan yang aku miliki yang lebih menarik dari wanita itu, dalam waktu singkat aku sudah dapat menggeser posisinya sebagai ratu." ucap Sia wu sambil berlutut di depan ayahnya.
"Aih.... Bagaimana bisa aku menerima ini." ucap tuan Wu jin.
"Aku mohon ayah." ucap Sia wu sambil menangis hingga membuat tuan Wu jin tidak tega.
"Baiklah, akan ayah coba. Lusa kita akan adakan pertemuan dengan Liu ku." pasrah tuan Wu jin akhirnya.
"Terima kasih ayah." seru Sia wu sambil memeluk ayahnya.
"Sudah-sudah, sekarang hapus air matamu dan kembali rias wajahmu. Kita harus kembali dan meminta maaf pada mereka untuk menghapus kesan buruk dirimu di depan mereka terutama Jin hu itu." ucap tuan Wu jin sambil membantu putrinya mengelap sisa air mata di wajah putrinya.
"Baik ayah." ucap Sia wu lalu segera bangkit membasuh wajahnya dan segera memperbaiki riasannya.
Tuan Wu jin sabar menunggu putrinya siap untuk kembali ke tempat yang dia percaya bahwa Ze dan yang lainnya masih setia menunggu dirinya kembali. Dia sangat yakin bahwa penjaga yang bertugas untuk menjaga tamunya tidak akan bisa di lewati oleh Ze dan yang lainnya untuk keluar dari kediaman.
"Bagaimana sekarang?" tanya Sia wu sambil memamerkan penampilan dan riasan barunya pada sang ayah.
"Putriku selalu cantik dan malam ini tampak jauh lebih cantik lagi." puji tuan Wu jin membuat sang putri tersenyum sangat manis.
"Ayo." ajak tuan Wu jin.
Mereka berjalan menuju ke tempat perjamuan. Sebelum tiba di sana mereka terkejut melihat beberapa orang penjaga dan pelayan yang tergeletak tidak sadarkan diri di luar lorong.
"Ada apa ini?" tanya tuan Wu jin saat seorang dari penjaga itu bangun.
"Maaf tuan, kami tidak dapat menahan mereka karena kekuatan mereka terlalu kuat. Kami bahkan dibuat tidak dapat berkutik dalam sekejap." lapor penjaga itu.
"Beraninya mereka mengacau di kediaman ketua akademi tangga langit ini." ucap geram tuan Wu jin.
__ADS_1
"Sudahlah ayah, ayah harus bersabar demi aku." ucap Sia wu.
"Huft, baiklah. Bereskan semua kekacauan yang ada." ucapnya pasrah lalu pergi dari tempat itu.