
Ze segera membersihkan diri lalu keluar dari bangunan khusus miliknya di istana atas awan itu.
"Nyonya Jin." Sapa seorang wanita.
"Sie Li?" panggil Ze ragu.
"Iya nyonya?" saut wanita itu.
"Wah hebat, kau banyak berubah dari sebelumnya. Aku hampir tidak bisa mengenali dirimu." ucap Ze sambil memeluk tubuh mantan pelayan pribadinya itu.
"Selain tubuh yang menjadi sebesar ini aku tidak memiliki perubahan yang baik nyonya Jin. Anda justru semakin hebat saja." ucap Sie li.
Ze tidak sengaja memegang pergelangan tangan Sie li dan membelalakkan matanya karena terkejut.
"Apa kau sudah mendapatkan kabar baik itu?" tanya Ze memastikan apa yang dia rasakan dari denyut nadi Sie li memang benar.
Setelah menyedari arah pandangan Ze, Sie li tahu maksud kabar baik itu apa. Dia hanya mengangguk dengan menundukkan kepalanya karena merasa sedikit tidak enak memberi kabar kehamilannya pada Ze yang belum hamil sedangkan Ze lebih dulu menikah.
"Mengapa kau menundukkan kepala seperti itu? Ini adalah kabar baik mengapa kau seolah ragu mengatakan padaku?" tanya Ze.
"Hamba..."
"Aku belum hamil itu bukan alasan untuk kau ragu memberikan kabar ini dengan wajah bahagia di hadapanku." ucap Ze.
"Aku justru bahagia mendengar kabar itu. Ah satu hal yang harus kau ingat. Jangan mengucapkan kata hamba untuk dirimu terhadapku. Karena kau juga Wen yuan sudah aku anggap keluargaku sendiri kau jangan terlalu merendah di hadapan aku." ucap Ze.
"Terima kasih nyonya Jin." ucap Sie li.
"Andai bukan karena suamiku yang akan marah dan merajuk, aku lebih suka kau memanggilku Ze saja. Dia mengharuskan semua orang kecuali orang tua di keluargaku memanggil aku dengan sebutan itu." keluh Ze.
"Setidaknya yang mulia tuan Jin ingin agar semua orang tahu bahwa nyonya Jin adalah istri sah dari yang mulia tuan Jin." ucap Sie li.
"Apakah semua orang di istana sudah kau beritahu mengenai kehamilan mu ini?" tanya Ze.
"Aku baru mengetahui kabar ini setelah tabib memeriksa keadaanku tadi." jawab Sie li.
"Jadi, tujuanmu kesini adalah untuk mencari suamimu dan memberi tahu kabar gembira ini segera?" tanya Ze di jawab anggukan kepala oleh Sie li.
__ADS_1
"Wah betapa beruntungnya aku menjadi yang pertama setelah tabib itu tentunya mengetahui kabar baik ini." ucap Ze bahagia.
"Kau jangan terlalu banyak gerak dulu. Kandungan mu itu masih terlalu muda dan lemah. Aku akan membuatkan resep untuk memperkuat kandungan mu itu." ucap Ze.
"Baik nyonya Jin, terima kasih atas perhatian nyonya Jin." ucap Sie li senang.
"Hei kau kemari." panggil Ze pada seorang pelayan pria yang kebetulan lewat.
"Ya yang mulia nyonya Jin." saut pelayan itu.
"Panggilkan Wen yuan agar segera datang ke ruang perjamuan istana." ucap Ze.
"Baik yang mulia nyonya Jin." saut pelayan itu lalu segera pergi.
"Huh semakin panjang saja panggilan untukku." gerutu Ze.
"Apa ada yang salah nyonya?" tanya Sie li yang samar-samar mendengar gerutuan Ze.
"Bukan masalah besar. Ayo kita menunggu suamimu itu di ruang perjamuan. Aku lapar dan kau juga butuh asupan makanan untuk kehidupan baru yang kau bawa di perutmu itu." ucap Ze.
" Ampun Yang mulia, di luar ada seorang pelayan yang diutus oleh yang mulia nyonya Jin." lapor pengawal yang bertugas menjaga pintu agar tidak sembarang orang dapat masuk.
"Suruh dia masuk." ucap Jin hu yang langsung semangat karena mengira Ze sedang mencarinya.
"Baik yang mulia." saut pengawal itu.
"Katakan." ucap Jin hu sebelum pelayan itu sempat mengatakan sapaan hormat.
"Yang mulia nyonya Jin memberi perintah agar tuan Wen yuan segera menghadap padanya di ruang perjamuan." ucap pelayan itu yang tahu maksud ucapan "katakan" dari Jin hu artinya langsung pada intinya.
"Memanggil Wen yuan?" tanya Jin hu.
"Iya yang mulia." jawab pelayan itu.
"Pergilah, Wen yuan akan pergi ke sana segera." ucap Jin hu.
"Wen yuan." panggil Jin hu mengejutkan Wen yuan yang sedang memikirkan apa tujuan Ze memanggilnya sepagi ini.
__ADS_1
"Ya tuan?" saut Wen yuan.
"Apakah kau sempat bertemu dengan isteriku setelah selesai pertarungan kemarin atau kau melakukan kesalahan hari ini?" tanya Jin hu.
"Tidak tuan. Aku langsung pulang setelah usai pertarungan karena Sie li istriku kurang sehat dan hari ini setelah bangun dan membersihkan diri aku langsung ke tempat ini." jawab Wen yuan.
"Ayo kita segera kesana untuk melihat apa tujuan panggilan istriku ini. Berdoalah semoga dia tidak memanggilmu karena marah padamu karena istriku saat ini sedang kesal." ucap Jin hu membuat Wen yuan menelan ludahnya dengan susah.
"Semoga bukan hal buruk yang menjadi tujuan nyonya memanggilku saat ini. Jika tidak, melihat nyonya yang sedang kesal pada tuan, aku akan berakhir pada hari ini." batin Wen yuan sembari mengikuti langkah Jin hu.
"Apakah ada masalah lain selain yang sebelumnya dibahas selama aku tidak ada di istana ini?" tanya Jin hu.
"Tidak ada masalah yang besar tuan. Hanya saja..." ucap Wen yuan ragu.
"Hanya saja apa?" tanya Jin hu.
"Beberapa kerajaan besar memberikan undangan dan tawaran untuk hubungan kerjasama antara kerajaan melalui pernikahan." jawab Wen yuan.
"Setelah apa yang istriku inginkan terpenuhi, perintahkan semua pejabat ataupun tetua istana untuk berkumpul di aula sidang." ucap Jin hu dengan wajah kesal.
"Baik tuan." saut Wen yuan.
"Aku ingin lihat jika ada di antara mereka yang berani mengusulkan untuk menerima tawaran itu." ucap Jin hu pelan disertai senyuman yang sangat Wen yuan takuti.
"Semoga mereka semua tidak ada yang membangkitkan jiwa iblis dari tuan. Aku hanya dapat mendoakan agar mereka dapat bereinkarnasi menjadi seorang yang lebih baik jika itu terjadi. Nyonya Jin adalah satu-satunya yang dapat membuat tuan melakukan hal tidak masuk akal. Dia tidak akan membiarkan nyonya Jin kesal." batin Wen yuan.
"Mereka tidak akan berani tuan. Terlebih mereka sudah tahu dan melihat sendiri kemampuan nyonya." ucap Wen yuan.
"Hm, kita sudah hampir sampai di tempat isteriku. Jangan membahas ataupun mengungkit apapun mengenai itu di depan istriku." ucap Jin hu.
"Baik tuan." saut Wen Yuan.
"Tidak perlu mengumumkan kedatangan kami." ucap Jin hu saat pengawal akan melaporkan kedatangan mereka.
"Baik yang mulia." saut pengawal itu.
Jin hu dan Wen yuan masuk ke dalam ruangan setelah pengawal membukakan pintu untuk mereka. Di dalam ruangan sudah ada Ze, Sie li juga keluarga Ze. Mereka semua tengah asik berbincang tanpa menyadari kedatangan Jin hu dan Wen yuan.
__ADS_1