Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
empat puluh satu


__ADS_3

Wakil ketua Song menelan salivanya dengan susah karena merasakan tekanan energi yang sangat kuat.


"Ba baik tuan. Akan hamba laksanakan tugas dari tuan tanpa sedikitpun kesalahan." ucap wakil ketua song dengan sedikit gugup.


"Bagus." ucap pria itu lalu perlahan tekanan energi yang sangat kuat itu menghilang.


"Sekarang kau bisa kembali dan tetap awasi gadis itu jangan biarkan dia lepas dari pengawasan kalian. Aku menginginkan dia dan harus mendapatkan dia. Kau harus ingat aku ingin dia berada di tempat ini dalam keadaan utuh tanpa luka sedikitpun." ucap pria itu.


"Kalau tugas seperti ini saja kalian keluarga Song tidak bisa lakukan, maka tidak ada gunanya lagi aku memberikan dukungan untuk kalian. Sesuatu yang sudah tidak berguna lagi maka akan aku hancurkan." tambahnya memberikan ancaman membuat wakil ketua Song menelan salivanya dengan susah.


"A akan ka kami laksanakan dengan baik tuan." ucap wakil ketua Song dengan gugup.


"Pergilah!" ucap pria itu.


"Baik tuan." saut wakil ketua Song sambil menunduk hormat lalu pergi.


Zili segera bersembunyi dibalik dinding saats wakil ketua Song keluar. Karena terburu-buru wakil ketua Song tidak memperhatikan dan curiga dengan keberadaan Zili sama sekali.


"Bagus, gadis yang ditakdirkan untuk menjadi ibu sang penjaga sudah tiba di negri ini. Sebentar lagi aku akan mendapatkan dia untuk menjadi milikku dan mendapatkan keturunan dari dirinya. Saat itu terjadi maka ras kami akan menjadi penguasa seluruh alam dan dimensi." ucap pria itu dengan semangat.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha" tawanya pecah setelah mengucapkan kata-kata itu.


Setelah itu pria itu berubah wujud menjadi seekor ular yang sangat besar lalu menghilang dari tempat itu.


"Ras ular?" gumam Zili.


"Ternyata ras ular dari negri siluman yang menginginkan putri yang menjadi orang dibalik keluarga Song." gumam Zili.


Sedangkan di sisi wakil ketua Song, dia segera kembali ke tempat dia selama ini bersembunyi selama berada di negri Douceng.


"Salam wakil ketua." sapa beberapa orang yang berada di tempat itu dan hanya di jawab anggukan kepala olehnya.


"Gu juo." panggil wakil ketua Song.

__ADS_1


"Ya paman?" sahut pemuda bernama Gu juo itu.


"Segera kembali ke kediaman utama dan laporkan pada ketua dan para tetua bahwa kita tidak bisa menghabisi gadis kunci hutan Fujian untuk saat ini karena orang itu menginginkan gadis itu dalam keadaan hidup. Kita masih belum mampu untuk menyinggung orang itu jadi kita tidak bisa melakukan apapun pada gadis itu." ucap wakil ketua Song pada pemuda bernama Gu juo itu.


"Mengapa dia menginginkan gadis itu kakak?" tanya pria lain yang baru masuk ke dalam tempat itu.


"Entahlah, kita tidak memiliki kemampuan untuk menentang bahkan walau hanya untuk mempertanyakan keinginan orang itu. Apa yang dia inginkan adalah sesuatu yang harus kita lakukan atau seluruh keluarga Song kita akan hancur di tangannya."jawab wakil ketua Song.


"Huft, bukankah itu artinya kita tidak akan pernah bisa untuk kembali menjadi keluarga kunci hutan Fujian karena sampai kapanpun kita tidak akan mampu mengalahkan orang itu?" tanya pria itu.


"Belum tentu, kita akan memikirkan cara untuk mengatasi orang itu. kita tidak bisa hanya selalu berada di bawah ancaman orang itu."ucap wakil ketua Song.


"Hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuk menyingkirkan orang itu. Kita masih sangat memerlukan bantuan orang itu untuk banyak hal terutama yang bersangkutan dengan menghancurkan kekuatan keluarga besar lainnya." tambahnya.


(Orang licik kalau ditolong pasti akan menghancurkan kita saat sudah tidak dibutuhkan p(╬ Ò ‸ Ó)q)


Ada yang curcol(≧∇≦)/


Kembali ke tempat Zili


Zili segera keluar dari tempat itu setelah melihat ular siluman itu menghilang.


"Kita kembali ke tempat tuan." ucap Zili pada Suho dan Doju.


"Baik pangeran." jawab keduanya.


Mereka kembali ke penginapan tempat Ze berada saat ini untuk melaporkan informasi yang Zili dapatkan sebelumnya.


Di tempat Ze


Ze tengah fokus meracik bahan yang dia dapatkan untuk membuat tinta khusus untuk membuat jimat segel untuk pengunci serta pembuka segel.


"Sisa menunggu hingga semua bahan ini mengental dan tinta ini sudah dapat digunakan saat telah dingin." ucap Ze dengan wajah penuh semangat.

__ADS_1


Ze saat ini tengah memasak seluruh bahan yang dia telah dia campurkan di atas sejati menggunakan wadah yang terbuat dari batu hitam.


"Beruntung aku mendapatkan api sejati dari Hui tu sebelumnya atau tinta segel ini tidak akan berhasil dibuat. Karena tinta segel ini harus dibuat mengental dengan memasaknya hingga menyusut menggunakan api sejati." gumam Ze.


Saat Ze tengah fokus membuat tinta segel, di luar sana beberapa orang tengah mengawasinya. Mereka tidak mendekat ke tempat Ze hanya mengawasi jika ada pergerakan dari Ze sehingga Ze mengacuhkan saja mereka.


"Huft, jadi juga akhirnya." ucap Ze sembari menghela napas lega.


Ze mencoba tinta yang sudah jadi di atas sebuah kertas berwarna putih. Lalu setelah menuliskan huruf segel dia melemparkan ke arah jendela.


Bertepatan dengan itu Zili dan dua orang pengikutnya itu memasuki kamar Ze lewat jendela itu.


"Akh, ada apa ini? Mengapa tubuhku tidak dapat bergerak?" tanya Zili.


"Akh, aku juga tidak dapat bergerak pangeran." ucap Suho.


"Wah wah wah, jimat segel yang aku buat cukup berhasil." ucap Ze dengan girang.


"Mengapa putri menjadikan kami bahan percobaan jimat segel?" tanya Zili.


"Aku tidak mengira bahwa kalian akan masuk saat ini. Aku hanya ingin melihat bentuk dari perlindungan dari jimat segel ini. Itu hanya kalian yang tidak beruntung karena harus terperangkap di dalamnya." bohong Ze memasang wajah polos tanpa dosa.


Tentunya Ze sudah merasakan kedatangan mereka bertiga dan sengaja menjadikan mereka sebagai bahan percobaan.


"Mana mungkin dengan pencapaian putri saat ini dan dengan aku yang tidak menutupi aura kedatangan kami putri tidak menyadari kedatangan kami." protes Zili tidak percaya dengan kebohongan Ze.


"Aku sedang fokus membuat tinta segel hingga fokus ku tidak teralihkan ke arah yang lain termasuk kehadiran kalian. Wajar jika aku tidak menyadari kedatangan kalian." ucap Ze masih bertahan dengan kebohongannya.


"Huft, terserah putri mengatakan apa. Tapi setidaknya lepaskan kami dari segel ini dulu." ucap Zili.


"Oh iya, tunggu sebentar aku akan menulis segel pembukanya dulu." ucap Ze.


Ze segera menuliskan huruf jimat di atas kertas putih polos. Setelah itu dia arahkan pada tabir dari segel yang dia buat sebelumnya. Zili dan yang lain segera terbebas dari segel itu membuat Ze girang namun mencoba memasang wajah datar agar Zili tidak semakin kesal.

__ADS_1


__ADS_2