
Rombongan mereka tiba di perbatasan negeri atas awan setelah cukup lama melakukan perjalanan. Para putri begitu bersemangat melihat kedatangan rombongan Jin hu.
"Akhirnya aku akan kembali bertemu dengan pria yang selalu aku impikan semenjak pertemuan waktu itu." gumam putri Rou ruan.
Dia sangat bersemangat untuk kembali melihat wajah tampan Jin hu. Putri Rou ruan itu sangat percaya diri bahwa jika Jin hu melihat dirinya, maka Jin hu akan terpikat dengan pesonanya yang selalu mampu menaklukkan hati para lelaki.
...----------------...
"Apakah kita telah tiba di perbatasan?" tanya Ze saat merasakan kereta berhenti bergerak.
"Iya sayang, kita telah tiba di perbatasan." jawab Jin hu.
"Ayo kita turun." ajak Jin hu.
"Aku di kereta saja." ucap Ze.
"Tidak bisa sayang. Kau harus tetap berada di dekatku. Jika kau tidak keluar dari kereta maka aku juga tidak akan keluar." ucap Jin hu sembari merapikan rambut Ze yang agak berantakan karena baru bangun tidur.
"ck ck ck kau itu seorang pemimpin." decak Ze.
"Aku juga seorang suami yang selalu ingin istriku berada di mana aku berada." ucap Jin hu.
"Aku malas untuk berjalan." ucap Ze memasang wajah memelas berharap Jin hu tidak akan memaksanya lagi untuk keluar dari kereta.
Ze sedang malas untuk menyaksikan drama atau hal-hal yang akan membuatnya kesal saat ini. Moodnya sedang tidak baik dan bisa berdampak buruk pada orang-orang yang akan membuat masalah walaupun itu hanya masalah kecil.
"Akh.... Apa yang kau lakukan?" pekik Ze saat merasakan tubuhnya terangkat.
"Karena kau malas untuk berjalan maka biarkan suamimu ini membantumu keluar dari kereta tanpa harus mengeluarkan tenaga untuk berjalan." ucap Jin hu dengan tersenyum.
__ADS_1
Jin hu keluar dari kereta dengan Ze dalam gendongannya. Ze hanya mampu pasrah dengan memeluk leher Jin hu dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya agar tidak perlu melihat raut wajah yang saat ini tidak ingin dia lihat.
Seperti dugaan Ze, saat mereka keluar dari kereta banyak raut tidak suka yang menatap ke arahnya. Jika dia dalam keadaan yang biasanya, Ze tidak akan terpengaruh dengan tatapan meremehkan, tidak suka, dan tatapan berarti buruk lainnya. Tapi, karena moodnya sedang tidak baik entah karena apa, Ze tidak ingin melihat tatapan itu.
Beberapa prajurit menyediakan tempat untuk Jin hu duduk saat melihat Jin hu turun dari kereta dengan menggendong Ze.
"Karena istriku sedang tidak bersemangat untuk berlama-lama di sini, aku akan langsung saja pada intinya." ucap Jin hu.
"Aku akan menerima tawaran untuk mengikat kerjasama dengan cara pernikahan ini." ucap Jin hu membuat semua rombongan para putri dan tetua Fu juga para pejabat istana tersenyum bahagia.
Ular api, Liu yu dan para prajurit terkejut mendengar ucapan Jin hu. Mereka menatap Jin hu seolah tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dengan ucapan yang keluar dari mulut Jin hu.
Ze tidak terkejut ataupun marah mendengar penuturan Jin hu karena Ze percaya dengan keputusan suaminya.
"Para putri silahkan memilih calon suami dari para tetua, pejabat istana atau putra-putra dari mereka sebagai calon suami kalian masing-masing." ucap Jin hu lagi dengan lantang membuat wajah berseri mereka berubah seketika menjadi kesal.
Ular api, Lui yu dan para prajurit menghela nafas lega setelah mendengar ucapan Jin hu itu. Mereka tidak bisa terima jika Ze harus memiliki saingan yang tidak sepadan untuk itu.
"Tidak ada kata tapi untuk keputusan yang aku buat aku harap kau ingat itu tetua Fu." ucap Jin hu tegas.
"Bagaimana mungkin kerjasama terjadi jika pernikahan yang terjadi hanya dengan bawahan saja?" tanya seorang putri.
"Aku adalah seorang putri dari raja yang memimpin kerajaan besar. Tidak mungkin aku rela menikah hanya dengan seorang bawahan." tolak putri dari kerajaan Zong.
"Aku juga tidak ingin." ucap putri lain.
Para putri satu persatu mengutarakan ketidaksetujuan mereka pada keputusan Jin hu. Mereka melakukan perjalanan jauh penuh dengan mimpi dan khayalan akan menjadi pasangan untuk Jin hu. Pemimpin istana negeri atas awan yang sangat tampan dan gagah. Bagaimana mungkin mereka akan terima untuk di sandingkan dengan hanya seorang pejabat istana saja.
Putri Rou ruan hanya diam menyimak di belakang sambil menatap kagum pada Jin hu tanpa menghiraukan bahwa Jin hu sedang memeluk Ze di atas pangkuannya saat ini.
__ADS_1
"Mengapa kita tidak mengajukan protes juga bibi Cuan?" tanya Nian.
"Biarkan saja kita mengamati dulu apa yang terjadi pada mereka yang bersikeras untuk tetap menjadi calon nyonya Jin hu. Setelah kita paham situasinya, kita akan putuskan apa yang harus kita lakukan." jawab bibi Cuan.
"Jika tidak bisa maka batalkan saja. Aku tidak butuh bantuan apapun dari kerajaan kalian untuk kerajaan milikku ini." ucap Jin hu.
"Tapi, kami datang jauh-jauh ke negeri atas awan untuk memenuhi undangan sebagai calon istri anda." ucap seorang putri.
"Iya benar." saut putri yang lainnya.
"Aku sudah memiliki seorang istri dan aku tidak memerlukan wanita lain sebagai istri lagi. Lagi pula yang mengundang kalian bukan aku maka itu bukan tanggungjawab aku untuk menerima kalian." ucap Jin hu.
"Aku tidak masalah jika anda memiliki istri. Bukankah sudah sepantasnya seorang raja memiliki banyak selir? Tapi setidaknya pilih salah satu dari kami yang seorang putri terhormat sebagai permaisuri bukan seorang wanita yang tidak sepadan untuk menjadi saingan kami itu." ucap seorang putri menghina Ze.
"Syut.... jleb .... Akh....!" Jin hu melemparkan tombak milik prajurit yang berdiri di dekatnya kearah putri itu tepat sasaran menembus dadanya.
"Putri....!" seru pelayan dan penjaga putri itu yang dalam waktu singkat meregang nyawa.
"Tidak ada yang dapat menghina istriku di depanku kecuali kematian yang menyambut mereka setelahnya." ucap Jin hu geram.
"Sudah di putuskan bahwa yang menyetujui untuk menikah dengan para pejabat atau putra mereka akan diterima sedangkan mereka yang menolak silahkan pergi sebelum aku kehabisan kesabaran." ucap Jin hu tegas.
"Tapi...."
"Sekali lagi kau mengucapkan kata yang bertentangan dengan keputusan yang aku buat kali ini, aku pastikan kau tidak akan berjumpa lagi dengan matahari esok hari." ancam Jin hu membuat para pejabat termasuk tetua Fu bungkam.
Para putri memilih untuk pergi dari sana sebelum nasib mereka sama seperti putri yang mati dibu*nuh begitu saja tanpa dapat melakukan apapun itu. Mereka juga tidak rela menikah dengan para pejabat ataupun anak mereka yang hanya para putri itu anggap sebagai bawahan.
"Mengapa kita tidak pergi juga tuan putri?" tanya Nian.
__ADS_1
"Tidak perlu banyak tanya. Kau akan tahu alasannya nanti." tegur bibi Cuan.