Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Masalah hati Liu ku


__ADS_3

Ze kembali ke kamarnya dan mendapati suaminya masih terlelap dalam tidurnya. Dia tersenyum melihat itu lalu naik ke atas tempat tidur dan ikut berbaring kembali di sebelah suaminya. Jin hu yang merasakan kehadiran Ze di sebelahnya segera memeluknya dan kembali tertidur karena masih mengantuk.


Setelah cukup lama tidur, mereka bangun hampir bersamaan. Ze hendak bangun tertahan oleh pelukan lengan Jin hu di perutnya.


"Sayang aku ingin membersihkan diri. Aku ingin menemui ibu dan yang lainnya karena belum sempat menemui mereka tadi karena terlalu lelah." ucap Ze.


"Kita mandi bersama kalau seperti itu." tawar Jin hu.


"Tidak, jika mandi bersama denganmu aku tidak akan bisa mandi dengan cepat." tolak Ze.


"Ayolah sayang, kau telah meninggalkan aku cukup lama dan masih ingin menghindari aku?" bujuk Jin hu.


"Baiklah." pasrah Ze pada akhirnya membuat senyum kemenangan terbit di bibir Jin hu.


Benar saja tebakan Ze, mereka menghabiskan waktu cukup lama mandi bersama. Bahkan saat mereka selesai mengenakan pakaian, waktu makan malam telah tiba. Mereka berjalan menuju ruang perjamuan dimana yang lainnya telah tiba di sana.


"Kita akan menuju kerajaan Kai beberapa hari lagi bukan?" tanya Liu ku memulai pembahasan setelah mereka selesai makan malam dan pelayan telah selesai membereskan makanan di meja.


"Iya, ayah memang benar." jawab Jin hu.


"Siapa saja yang akan pergi dan siapa yang harus tinggal mengawasi istana?" tanya Hui tu.


"Iya, itu penting untuk diputuskan terlebih dahulu agar tidak ada masalah serius yang akan timbul setelah kita kembali dari negeri Kai itu." Saut Liu ku.


"Dapatkah aku ikut?" tanya Mei yin.


"Tidak....!" tolak Liu ku langsung.


"Mengapa?" tanya Mei yin.

__ADS_1


"Tidakkah kau lihat bagaimana tatapan lapar tua bangka bau tanah itu ke arahmu? Di istana ini saja dia berani berlaku seperti itu bagaimana di istana mereka nantinya." jawab Liu ku.


"Ayah ada benarnya ibu. Perjalanan ini tidak akan mudah mengingat yang akan kami datangi adalah wilayah musuh terlebih masih ada beberapa musuh lainnya yang harus diantisipasi kemunculan tiba-tiba nya." ucap Ze membenarkan ucapan ayahnya sambil melirik ayahnya penuh selidik.


"Apakah ayah memiliki perasaan khusus kepada ibu? Mengapa dari ucapannya dan nada bicaranya aku merasa bahwa ayah bukan berbicara seperti seorang kakak yang khawatir melainkan seorang pria yang cemburu?" batin Ze.


"Jangan pikir ayah tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan Ze." ucap Liu ku melalui telepati.


"Tapi apa yang aku katakan benar bukan ayah?" tanya Ze.


"Ayah tidak tahu. Jangan bahas sekarang karena kita sedang membahas hal penting lainnya." jawab Liu ku.


"Ayah berhutang cerita dan penjelasan padaku nanti." ucap Ze.


"Baiklah, aku tidak akan ikut." pasrah Mei yin dengan wajah sendunya.


"Ibu tidak perlu sedih. Saat semua telah selesai di atasi, kita akan berjalan-jalan ke berbagai negeri yang indah bagaimana?" tawar Ze agar ibunya senang.


"Lalu selain Ze, siapa lagi yang akan ikut dalam perjalanan ke negeri Kai itu?" tanya Jin hu.


"Cukup ayah yang memang seorang alkemis dan Hui tu saja yang ikut. Biarkan Ular api dan ceri emas yang tinggal untuk menjaga dan mengawasi istana." putus Ze.


Semua hanya mengangguk setuju dengan putusan Ze. Mereka lalu membahas banyak hal termasuk kabut pelahap itu. Ze juga menjelaskan bahwa telah ada yang akan mengurus masalah itu saat Hui tu bertanya bagaimana mengatasinya.


Mereka semua selesai dengan berbincang-bincang tentang berbagai masalah dan memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing kecuali Ze dan Liu ku yang diajak Ze untuk membahas masalah yang sebelumnya mereka bahas melalui telepati.


"Sekarang jelaskan bagaimana perasaan ayah pada ibu." ucap Ze setelah mereka berdua berada di taman belakang hanya berdua.


"Ayah tidak tahu dengan jelas. Ayah hanya merasa nyaman selama beberapa bulan bersama dengan ibumu di istana ini. Awalnya ayah hanya menganggap kalau ayah hanya nyaman karena menganggap bahwa itu terjadi karena perasaan saudara saja. Tapi, ayah merasa marah dan sangat tidak terima saat pria lain menatap ibumu." jelas Liu ku.

__ADS_1


"Bukankah sudah jelas bahwa ayah telah mengembangkan rasa saudara menjadi rasa ingin memiliki? Lalu apa salahnya mencoba untuk melangkah lebih jauh lagi?" tanya Ze.


"Ayah takut dan kecewa pada diri ayah." jawab Liu ku membuat Ze mengernyit.


"Kenapa kecewa?" tanya Ze.


"Ayah mengkhianati dia sekarang dengan memiliki perasaan lain pada ibumu." jawab Liu ku sambil menunduk sedih.


Ada penyesalan dari sorot matanya. Dia merasa mengkhianati janji untuk setia pada mendiang istrinya yang telah lama meninggal.


"Ayah tidak mengkhianati ibu Ruan yan. Perasaan bukan kita yang tentukan. Itu akan hadir dengan sendirinya karena terbiasa atau karena kebutuhan. Ayah telah lama hidup sendiri menderita sakitnya cinta yang telah meninggalkan ayah selamanya. Ibu pasti akan mengerti bahwa ayah juga butuh seorang yang merawat dan mendampingi ayah diusia tua ayah. Ibu pasti senang jika tahu ayah bahagia dengan orang yang tepat." jelas Ze sambil menggenggam tangan ayahnya.


"Sekarang bayangkan saja. Jika suatu saat ibu memilih untuk memiliki pendamping karena telah jenuh hidup sendiri, apakah ayah akan rela melihat dia dengan orang lain? Jika iya maka lepaskanlah karena ayah tidak mencintai ibu. Tapi jika tidak rela, maka perjuangkan sebelum ada yang berhasil merebut hatinya." ucap Ze lalu melangkah pergi meninggalkan ayahnya yang sedang meresapi ucapan Ze.


"Apakah aku akan rela melihat dia dengan pria lain?" gumam Liu ku.


"Tidak, aku tidak akan rela." gumamnya lagi.


"Sayang, apakah kau kecewa jika aku memilih mencintai seseorang walaupun kau tidak akan pernah bisa aku lupakan?" gumamnya lirih sambil menatap langit.


"Apakah kau sungguh akan ikut bahagia atau justru akan terluka jika aku memilih menghabiskan hari tuaku dengan wanita lain?" gumamnya lagi.


Liu ku mengeluarkan sebuah kalung titipan istrinya yang diserahkan oleh Jeong nam. Pesan istrinya yang disampaikan Jeong nam melalui sepucuk surat saat itu tidaklah masuk akal menurutnya.


Surat itu hanya bertuliskan "Pecahkan bola dalam bandul kalung itu saat hatimu telah memilih wanita lain untuk hidup mendampingi dirimu kelak" dan tanggapan dari Liu ku saat itu adalah "Bodoh, bagaimana mungkin aku dapat memilih wanita lain jika hatiku sudah dipenuhi oleh dirimu?"


Walaupun telah meninggal, Ruan yan tetap hidup di hati Liu ku selamanya. Hingga saat ini dia merelakan kepergian sang istri dan hatinya memilih Mei yin yang selalu bersamanya memberikan warna lain dalam hidupnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Author bingung antara stop sementara selama bulan Ramadhan atau tamat ya novel ini? Walaupun bukan novel vulgar tapi banyak kekerasannya jadi berasa tidak baik up selama bulan Ramadhan.


Kasih saran dong😅


__ADS_2