
Aku menggunakan mata dewa dan melihat bahwa Mu ru yue adalah adik kandung dari pemilik tubuh yang kau gunakan itu yang dengan teganya membunuh orang tua dan kakaknya demi tahta. Dia lantas menyembah iblis agar tetap memiliki hidup panjang dengan kekuasaan dan tubuh yang selalu muda." jawab Ze.
"Gila, orang itu terlalu gila." ucap Hui tu.
Pangeran calon putra mahkota itu hanya terdiam mencerna ucapan Ze. Dia tidak menyangka bahwa dia akan menjadi tumbal juga nantinya jika tidak ada orang-orang yang sedang berbicara di depannya itu.
Hui tu dan Zili menatap pangeran yang masih terikat pada sebuah batang pohon itu.
"Apa yang harus kita lakukan pada calon putra mahkota ini?" tanya Zili sambil menatap Hui tu.
"Aku tidak memerlukan tahta dari kerajaan ini karena biar bagaimanapun, sejatinya aku bukanlah pangeran asli dari negeri ini. Sebaiknya kita biarkan dia hidup agar tahta tidak kosong saat sang permaisuri musnah nantinya." jawab Hui tu membuat pangeran itu menghela napas lega.
"Seorang pangeran yang ikut serta memberikan tumbal dan ikut melaksanakan ritual sesaat tanpa paksaan seperti dirinya tidak pantas menduduki tahta kaisar. Jika kita membiarkan dia hidup bahkan naik tahta, besar kemungkinan dia akan mengikuti langkah permaisuri untuk hidup lebih lama dengan tahta di tangannya." ucap Ze membuat pangeran itu merinding.
"Apakah itu artinya aku akan mati di tangan mereka?" batin pangeran itu.
"Kau tega menculik anak gadis berharga dari setiap keluarga untuk mati. Kau tidak pantas untuk hidup lebih lama lagi." ucap Ze lalu menghantam dada kiri pangeran itu menggunakan tenaga dalam.
Pangeran itu mengeluarkan darah segar dari mulutnya lalu mati seketika dengan mata terbelalak.
"Ayo, kita harus bergegas menemukan tubuh yang kita cari itu." ajak Ze setelah menelan pil roh dan meminum air suci untuk memulihkan tenaganya yang hampir habis terkuras karena menggunakan mata dewa.
"Ayo." saut Hui tu dan Zili.
Mereka bertiga bergegas memasuki dan menyusuri lorong tempat pangeran dan yang lainnya keluar sebelumnya.
"Di depan ada cahaya, sepertinya kita sudah berada di ujung lain dari lorong ini." ucap Zili.
"Aku juga berpikir sama." saut Hui tu.
"Sebaiknya kalian mencari tahu keberadaan orang lain di luar lorong ini menggunakan tenaga dalam. Aku tidak bisa melakukan hal itu untuk sementara karena menggunakan mata dewa sebelumnya." saran Ze.
"Tidak ada seorangpun yang berjaga di luar lorong." ucap Hui tu setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Ze.
"Iya, hanya ada beberapa orang yang sesekali lewat cukup jauh dari pintu lorong ini." saut Zili.
"Mereka sudah cukup merasa aman karena selama ratusan tahun tidak ada yang memasuki lorong tanpa ijin dari permaisuri. Para laba-laba itu juga sangat kuat membuat mereka menganggap tidak ada orang yang akan mampu mengalahkan mereka jadi penjagaan tidak perlu dilakukan." ucap Ze.
__ADS_1
"Memang benar kalau rasa aman dan nyaman adalah sebuah bencana." ucap Hui tu.
"Merasa aman memang baik untuk ketenangan hati tapi, terlalu merasa anyaman hingga melonggarkan kewaspadaan juga tidak baik." ucap Ze.
"Ayo kita keluar....! Tapi ingat, tetap waspada." ucap Ze.
Mereka bergegas keluar dari lorong dan dengan cepat berpindah dari setiap batang pohon, dinding dan atap bangunan agar tidak ada yang menyadari kehadiran mereka.
"Kediaman naga itu adalah tempat permaisuri kejam itu tinggal juga dimana dia meletakkan tubuh yang kita cari." ucap Ze.
Mereka saat ini sedang bersembunyi di atas sebuah atap bangunan yang dekat dengan kediaman permaisuri yang mereka maksud.
"Coba lihat, apakah permaisuri itu ada di dalam kediamannya atau tidak." ucap Ze.
"Aku merasakan kehadiran 3 orang di dalam sana. Satu dari mereka berada pada tingkat langit akhir sedang dua orang lainnya berada pada tingkat bumi level 4 dan 6." jawab Zili.
"Berarti dapat dipastikan bahwa yang terkuat dari 3 orang itu adalah permaisuri." ucap Ze.
"Bagaimana cara kita masuk ke dalam untuk mencari keberadaan wadah kehidupan dari para laba-laba itu tanpa menimbulkan keributan jika satu-satunya jalan menuju tempat itu ada 3 orang itu?" tanya Hui tu.
"Kalian coba buat keributan di luar. Buat kekacauan hingga mereka keluar untuk melihat keributan yang kalian timbulkan. Biar aku yang mengurus wadah kehidupan dari para laba-laba itu. Lagi pula hanya aku dari kita ber 3 yang tahu pasti dimana letak tubuh yang kita cari itu." saran Ze.
"Jika ingin menanyakan hal ini, kita tidak pada waktu yang tepat. Selesai urusan kita aku akan ceritakan tentang mata dewa itu." jawab Ze.
"Kalau begitu kami pergi untuk membuat keributan. " ucap Zili.
"Ya, hati-hati. " ucap Ze.
"Anda juga harus berhati-hati yang mulia." ucap Zili.
"Ya, aku akan hati-hati. " ucap Ze.
Hui tu dan Zili segera melompat turun dari atap setelah mendarat mereka langsung menggunakan kekuatan tenaga dalam mereka untuk menghancurkan beberapa benda yang berada di sekitar mereka. Bahkan, beberapa bangunan tidak lepas dari serangan mereka.
Beberapa prajurit yang mendengarkan keributan berdatangan dan akhirnya pertarungan terjadi.
...----------------...
__ADS_1
Di dalam kediaman permaisuri
Tiga orang tengah berbincang. Mereka adalah permaisuri dan 2 orang kepercayaannya bernama Pong hu dan Seng di.
"Kapan kita akan melakukan ritual pengorbanan keturunan untuk mempertahankan penampilan dan meningkatkan kekuatan kita?" tanya Pong hu.
"Besok malam, bawa satu dari anak-anak kalian ke tempat pemujaan aku juga akan membawa calon putra mahkota." jawab permaisuri.
"Duar....duar...duar...!" terdengar suara ledakan dari luar membuat mereka saling memandang dengan penuh tanya.
"Suara keributan apa itu?" tanya permaisuri.
"Sepertinya ada yang sengaja membuat keributan di luar." jawab pong di.
"Kling klang buk bak buk." kemudian terdengar suara perkelahian membuat mereka bertiga berdiri.
"Ayo kita keluar dan lihat, siapa yang berani membuat keributan di wilayah istana ini." ajak permaisuri.
Mereka bertiga segera keluar dari kediaman untuk melihat penyebab dari keributan yang mereka dengar.
...----------------...
Di atas atap
Ze dengan sabar mengawasi pintu keluar kediaman permaisuri. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pintu itu terbuka dan 3 orang keluar dari kediaman itu dengan langkah cepat dan wajah kesal.
"Saatnya aku yang bergerak." gumam Ze.
Ze segera melompat turun dari atap lalu dengan langkah yang sangat cepat memasuki kediaman permaisuri yang sudah kosong itu. Ze masuk ke dalam kamar permaisuri lalu menggeser meja kecil di samping tempat tidur. Dia menemukan tuas yang dia lihat sebelumnya saat menggunakan mata dewa.
Ze menarik tuas itu dan tiba-tiba dinding di sebelahnya terbuka membentuk sebuah pintu. Ze memasuki pintu itu. Di sana ada sebuah tangga mengarah ke arah bawah. Beberapa obor di dinding menyala dengan sendirinya kala Ze akan melewatinya.
Ze tiba di sebuah ruang yang cukup besar. Di sana ada beberapa buah meja besar di atasnya masing-masing terbaring seorang pemuda sedangkan di sekitar ruangan itu terdapat tulang belulang manusia berserakan.
"Ada banyak orang yang mati di tempat ini. Apakah ini artinya tubuh yang mereka gunakan sebagai wadah akan selalu diganti?" gumam Ze.
"Mereka semua masih hidup." ucap Ze setelah memeriksa denyut nadi mereka.
__ADS_1
"Bukankah dia pangeran yang menolak untuk membantu ibunya mencari tumbal dan bahkan menentang apapun yang ibunya lakukan dalam penglihatan mata dewa milikku sebelumnya?" ucap Ze saat memperhatikan wajah dari satu orang yang terbaring di atas meja.