Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Extra part 1 Liu yu dan Fei ya


__ADS_3

Liu ku sedang dalam perjalanan mencari kalajengking salju atas permintaan putra mahkota Hu weiyan yang merupakan putra kesayangan Ze dan Jin hu. Anak laki-laki itu memiliki hobi membuat dan mengumpulkan berbagai jenis racun dan obat langka hampir mirip dengan ibunya.


"Selalu saja setiap mendengar ada sesuatu dengan racun yang sangat kuat pasti Hu weiyan akan sangat tertarik. Bagaimana bisa seorang bocah berusia 7 tahun dia sudah sangat tertarik pada racun? Sangat mirip dengan ibunya yang sangat ahli dalam membuat racun." keluh Liu yu.


"Buk bak buk trang tring trang. " tiba-tiba Liu yu mendengar suara pertarungan.


"Sepertinya ada yang sedang bertarung di depan." gumamnya.


Liu yu ingin memutar arahnya karena tidak ingin perjalanannya terganggu dengan mengurusi urusan orang lain karena Hu weiyan akan marah dan memberikan dia hukuman yang sangat tidak masuk akal jika dia terlambat membawakan apa yang anak kecil itu inginkan.


"Putar arah juga akan memakan waktu lebih lama." gumamnya lalu memutuskan untuk melihat apa yang terjadi di depan sana.


Liu yu melihat keadaan dari atas sebuah pohon besar. Di bawah sana dia dapat melihat beberapa orang sedang mengepung sebuah kereta yang hanya dilindungi oleh 4 orang pria.


Para pengepung itu berhenti sejenak untuk menyerang lalu menawarkan agar 4 orang itu tidak lagi melindungi orang yang berada di dalam kereta.


"Sebaiknya kalian tinggalkan saja putri pembawa sial itu untuk kami akhiri derita nya." ucap salah satu dari mereka yang mengepung.


"Iya, kalian juga bisa hidup lebih baik jika ikut dengan bos kami. Jangan sampai kesialan dari gadis sial itu menular pada kalian dan keluarga kalian." ucap yang lainnya.


"Tidak, kami adalah pelayan setia mendiang nyonya pertama dan kami akan selamanya menjaga nona Fei ya demi mendiang nyonya pertama." tolak salah satu dari penjaga itu.


"Kalau begitu jangan salahkan kami jika kalian harus ikut bertemu dengan raja neraka bersama dengan putri pembawa sial itu." ucap salah satu dari mereka yang mengepung kereta.


"Ini bukan urusanku. Aku bukan yang mulia ratu Jin yang luar biasa sehingga dapat mengalahkan orang dengan mudah." gumamnya lalu hendak melompat menuju dahan lain untuk menjauhi pertarungan yang berlangsung.


Langkahnya terhenti karena tidak sengaja melihat kain kereta tersibak dan menampakkan wajah cantik yang terlihat menyedihkan. Gadis cantik dengan rambut hitam panjang yang masih tampak cantik walaupun tanpa riasan dan pakaian mewah itu membuat Liu yu tidak tega membiarkan dia terluka.


"Huh sepertinya hari ini aku harus menerima hukuman dari putra mahkota cilik itu." ucapnya lalu segera melompat turun dan langsung menendang punggung seorang penyerang yang hampir berhasil menebaskan pedang ke arah kereta.


"Siapa kau ? Jangan ikut campur urusan kami." ucap salah satu pengepung itu.


"Itu menjadi urusanku sekarang karena kalian menyerang orang lemah di hadapanku." ucap Liu yu santai.


"Kau harus tahu, kami hanya untuk membantu orang lain agar terhindar dari malapetaka yang selalu menyertai si gadis sial yang berada di dalam kereta itu." ucap pengepung itu.


"Oh." ucap Liu yu.


"Sebaiknya kau menyingkir." ucap pengepung itu.


"Jika aku tidak mau?" tanya Liu yu.


"Maka dengan terpaksa kami harus memb*nuh Kau juga agar tugas kami segera selesai." ucap pengepung itu.


Mereka akhirnya bertarung melawan Liu yu dan dengan mudah Liu yu berhasil mengalahkan mereka semua.


"Terima kasih telah membantu kami tuan." ucap salah satu dari penjaga kereta nona Fei ya.


"Tidak masalah, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Liu yu.


"Nona muda yang kami bawa adalah nona pertama dari keluarga Situ."


Penjaga itu mulai bercerita


Keluarga Situ adalah keluarga bangsawan pertama di kerajaan Hua yang sangat besar. Nona pertama adalah putri pertama dari Xia lin dan Jiu wen yang merupakan nyonya muda pertama dan tuan muda pertama keluarga Situ. Karena Xia lin meninggal setelah melahirkan putri pertamanya bernama Fei ya, akhirnya Fei ya kecil disebut sebagai nona pembawa kesialan.


Kepala keluarga yang awalnya tidak percaya dengan sebutan nona pembawa sial akhirnya percaya dan mengasingkan Fei ya di sebuah wihara untuk membersihkan kesialan dari tubuhnya. Itu semua merupakan hasil campur tangan selir ayahnya Fei ya yang tidak terima karena Fei ya dijodohkan dengan putra mahkota kerajaan Hua. Dia ingin agar putrinya yang menerima berkat perjodohan itu oleh sebab itu dia selalu memberikan cerita buruk mengenai Fei ya yang membawa sial padahal kesialan itu dia yang membuat.


"Hidup Fei ya cukup tenang saat awal tinggal di wihara hingga saat hampir tiba waktu pernikahan yang telah ditentukan keluarga kerajaan dan keluarga Situ tidak merubah perjanjian perjodohan, akhirnya selir Jung mengirim beberapa pembunuh bayaran untuk menghabisi Fei ya.


"Jadi nona Fei ya sedang dalam perjalanan menuju ke kediaman keluarga Situ untuk bertemu dengan calon suaminya?" tanya Liu yu.


"Benar tuan." jawab seorang penjaga.


"Apakah anda memang menginginkan perjodohan itu? Jika iya, aku akan membantu mengawal perjalanan anda menuju ke kediaman keluarga Situ karena dari yang aku lihat selir dari ayahmu pasti tidak akan tinggal diam sebelum anda meninggal." ucap Liu yu.


"Sebenarnya jangankan nona, kami pun tidak setuju nona kami menikah dengan putra mahkota yang terkenal mata keranjang yang memiliki banyak selir itu. Tapi, ini adalah keputusan kepala keluarga." ucap penjaga itu.


"Jika nona Fei ya tidak ingin menjadi permaisuri dari putra mahkota itu, bagaimana jika kita membuat wajah nona Fei ya tampak buruk agar putra mahkota menolak untuk menikahinya?" saran Liu yu.


"Bagaimana caranya?" tanya Fei ya akhirnya membuka suara.


"Aku bekerja pada putra mahkota kerajaan istana atas awan yang memiliki berbagai macam racun dan racun perusak kulit merupakan salah satu dari koleksinya." jawab Liu yu.


"Apakah tidak akan berbahaya bagi nona kami jika harus menggunakan racun?" tanya pengawal itu.


"Aku lebih ingin kehilangan wajah ini dari pada harus hidup dengan lelaki seperti putra mahkota itu." ucap Fei ya yakin.


"Tenang, selain racun putra mahkota kami juga memiliki penawarnya." ucap Liu yu.


"Tapi nona, jika perjodohan dengan putra mahkota dibatalkan maka keluarga Situ akan benar-benar membuang anda. Bukankah mereka masih mempertahankan nona karena perjodohan ini?" tanya seorang gadis yang ternyata dari tadi bersama Fei ya di dalam kereta.


"Keluarga yang hanya menerima anggota keluarganya hanya karena tujuan tertentu bukanlah keluarga." ucap Liu yu.


"Lalu bagaimana dengan nona kami jika keluarga membuangnya?" tanya pelayan kecil itu.


"Aku bisa menawarkan kalian semua ikut ke istana atas awan dan bekerja pada putra mahkota atau putri kerajaan kami. Asal kalian tulus maka tidak akan ada yang memberatkan kalian nantinya. Bagaimana? " tawar Liu yu.


"Walaupun harus menjadi pelayan sekalipun aku lebih rela dari pada harus hidup dengan lelaki yang tidak bisa menghargai wanita." jawab Fei ya.


"Kalau begitu kami juga akan ikut dengan nona kami." ucap pelayan itu.


"Ya, kami juga." saut semua penjaga.


"Suit suit, (anggap suara siulan aja ya)" Liu yu bersiul dan seekor burung tiba-tiba datang dan segera bertengger di pundak Liu yu.


"Antar surat ini pada putra mahkota." ucap Liu yu sambil mengikat sebuah surat pada kaki burung itu.

__ADS_1


"Burung itu mengerti ucapan anda?" tanya Fei ya kagum melihat burung yang mengangguk lalu segera terbang.


"Itu adalah hewan roh, jadi wajar jika dia memahami ucapan pemiliknya." jawab Liu yu.


"Sebaiknya kita cari tempat yang lebih aman untuk menunggu elang langit membawa apa yang kita butuhkan." saran Liu yu.


"Tinggalkan kereta itu, kereta itu mempermudah musuh mendapatkan posisi kita." ucap Liu yu saat Fei ya ingin kembali naik ke atas kereta.


Mereka berjalan menuju ke dalam hutan. Tidak sengaja Fei ya terpeleset dan hampir saja kepalanya menghantam batu besar. Fei ya hanya memejamkan mata berharap rasa benturan tidak akan terlalu sakit dengan begitu.


Ternyata Liu yu berhasil meraih pinggang ramping gadis itu sebelum kepalanya terbentur pada batu besar itu. Wajah mereka saling berhadapan membuat Liu yu semakin terpesona melihat wajah dengan mata tertutup itu.


Fei ya perlahan membuka matanya karena sekian lama menunggu rasa sakit tidak juga dia rasakan.


"Deg.." jantung Fei ya tiba-tiba berdetak lebih cepat karena matanya bertemu dengan tatapan mata Liu yu.


Mereka terdiam dengan tatapan mata masing-masing yang masih fokus dengan debaran jantung yang semakin kencang.


"Khem." deheman seseorang menyadarkan mereka hingga dengan terpaksa Liu yu harus melepaskan belitan tangannya dari pinggang ramping gadis itu.


"Maaf." ucap Liu yu.


"Tidak, justru aku harus berterima kasih karena anda, aku tidak harus merasakan rasanya kepala ini terbentur pada batu besar itu." ucap Fei ya.


"Biar aku memegang tangan anda agar tidak terjatuh lagi. Di sini permukaan tanah cukup licin." ucap Liu yu sambil mengulurkan tangannya.


Tanpa ragu Fei ya menerima uluran tangan itu dengan perasaan yang tidak karuan karena debaran jantung yang semakin kencang.


"Ada apa dengan jantung ini? Apakah aku memiliki penyakit pada jantung sehingga berdebar sangat kuat seolah ingin keluar dari dadaku?" batin Fei ya.


"Jika kau merasakan jantungmu berdetak lebih cepat saat dekat dengan seseorang yang tidak menakutkan menurutmu, maka itu artinya kau menyukai orang itu." tiba-tiba ucapan seorang kenalan yang sering berkunjung ke wihara terbersit dalam ingatan Fei ya.


"Oh tidak, apakah itu artinya aku menyukai orang yang baru saja aku temui yang bahkan namanya saja tidak aku tahu ini?" batin Fei ya lagi.


"Boleh aku tahu siapa nama anda tuan?" tanya Fei ya.


"Kau boleh memanggil aku Liu yu saja tanpa embel-embel tuan Di depannya nona." jawab Liu yu.


"Kalau begitu aku boleh menggunakan kata kau bukan anda untuk menunjuk diri anda?" tanya Fei ya.


"Lakukan sesuka anda nona." jawab Liu yu yang mati-matian berusaha menutupi kegugupan nya karena baru pertama memegang tangan seorang gadis.


"Jika begitu kau harus memanggil aku Fei ya saja dan jangan gunakan kata anda." ucap Fei ya.


"Baiklah. " ucap Liu yu.


Mereka beristirahat di dalam hutan dan setelah cukup lama elang langit milik Liu yu akhirnya kembali membawa dua kantong kecil dan selembar surat.


Kantong merah itu racun dan kantong hijau adalah penawarnya. Cukup oles sedikit pada kulitnya untuk menimbulkan luka melepuh tapi itu tidak akan sakit. bubuk di kantung hijau campur dengan air untuk membasuh luka untuk menawarkan racun nya.


Ingat pesananku harus kau bawa saat kembali


"Apakah kau tidak takut kalau itu akan merusak kulitmu selamanya?" tanya Liu yu.


"Aku percaya padamu lagi pula aku tidak perduli dengan tampilan yang penting bisa bebas dari orang breng*ek itu." jawab Fei ya.


"Gunakan tudung ini agar tidak ada yang melihat penampilan itu sebelum tiba di kediaman Keluarga Situ." ucap Liu yu yang langsung dilakukan oleh Fei ya.


Liu yu kembali meraih tangan Fei ya tanpa ragu dan rasa jijik membuat Fei ya menatap heran ke arahnya.


"Apakah kau tidak merasa jijik memegang tangan gadis dengan wajah buruk seperti ini?" tanya Fei ya.


"Tidak, aku tidak perduli walaupun kau terlihat seperti ini." jawab Liu yu.


"Kau tetap cantik di mataku." sambung Liu yu pelan.


"Terima kasih." ucap Fei ya tulus.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Liu yu sambil menatap wajah di balik kain tipis yang menutupinya.


"Karena mau menolong orang asing seperti kami dan tidak jijik walaupun tampilan aku seperti ini." jawab Fei ya.


Sementara mereka saling berbincang, para penjaga dan pelayan Fei ya hanya diam-diam memperhatikan interaksi mereka. Mereka sangat senang melihat nona mereka bisa berbicara banyak dengan orang lain yang sangat jarang terjadi.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman keluarga Situ. Di sana mereka disambut oleh kepala keluarga Situ. Liu yu menyamar menjadi salah satu penjaga Fei ya dan tinggal di kediaman Keluarga Situ sebagai penjaga kediaman yang ditempati Fei ya. Tidak ada yang curiga dengan penutup wajah yang Fei ya gunakan mereka hanya menganggap hal itu karena Fei ya malu karena tidak terbiasa bertemu dengan banyak orang.


Mereka pergi ke istana setelah beberapa hari Fei ya kembali ke kediaman keluarga Situ. Liu yu tetap ikut mengawal Fei ya atas permintaan Fei ya. Walaupun sebenarnya tanpa Fei ya minta Liu yu akan tetap mengikuti dia.


Keluarga mereka disambut dengan sangat baik oleh keluarga kerajaan. Semua wajah tampak bahagia kecuali selir Jung putrinya yang tidak rela dengan perjodohan fei ya dengan putra mahkota.


Saat tengah-tengah perbincangan tentang rencana perjodohan berlangsung, Fei ya pura-pura tidak sengaja menjatuhkan penutup wajah dan hal itu berhasil menarik perhatian semua orang.


"Bukankah ibu dari nona pertama keluarga Situ terkenaldengan kecantikan yang bak dewi? Mengapa putrinya berwajah buruk seperti itu?" tanya salah satu tamu istana.


"Tidakkah kau dengar bahwa dia memiliki nasib sial dan akan menularkan kesialan pada orang disekitarnya?" bisik tamu lainnya.


Ada banyak desas desus yang membuat keluarga Situ dan keluarga kerajaan geram karena malu.


"Ayah, aku tidak ingin menikahi gadis jelek dengan nasib sial seperti itu." ucap putra mahkota.


"Tapi, bagaimana dengan perjanjian perjodohan itu?" tanya Raja kerajaan Hua.


"Bukankah hanya antara aku dengan putri dari keluarga Situ? Bagaimana jika calon pengantin wanita diganti dengan nona kedua saja?" tawar putra mahkota.


Mendengar ucapan putra mahkota selir Jung dan putrinya sangat bahagia. Tetua keluarga Situ dan raja kerajaan Hua akhirnya memutuskan untuk segera melanjutkan perjodohan dengan calon mempelai wanita yang lain.


Setelah kembali ke kediaman keluarga Situ, seluruh anggota keluarga melakukan pertemuan dan hasilnya Fei ya di hapus dari silsilah keluarga Situ selamanya yang artinya Fei ya harus meninggalkan kediaman keluarga Situ karena dianggap telah membuat malu keluarga.

__ADS_1


Akhirnya Liu yu membawa Fei ya kembali ke istana atas awan dan disambut baik oleh seluruh keluarga kerajaan istana atas awan.


"Kau sudah kembali Liu yu?" tanya Luo yin yang melihat Liu yu datang.


"Paman mana pesananku?" seru Hu weiyan dari kejauhan.


"Aku sudah membawanya di sini." jawab Liu yu.


Fei ya keluar dari kereta membuat perhatian Luo yin mengalihkan perhatian ke arah gadis itu.


"Siapa gadis cantik yang kau bawa pulang Liu yu? Apakah calon istrimu?" tanya Luo yin membuat Liu yu dan Fei ya salah tingkah.


"Bukan seperti itu nenek, dia....


"Sebaiknya kita bahas di dalam saja. Kasihan gadis cantik dibiarkan berdiri di luar kepanasan." sela Luo yin.


"Baik nenek." ucap Liu yu.


"Heit, sebelum membawa kakak cantik masuk ke dalam istana, berikan pesananku dulu." ucap Hu weiyan menarik tangan Liu yu.


"Jangan ganggu paman Liu yu dulu Weiyan sayang." ucap Luo yin sambil mengelus sayang kepala cucunya.


"Ini ambillah." ucap Liu yu sambil memberikan dua kantong berisi apa yang Hu weiyan inginkan.


"Terima kasih paman Liu yu." seru Hu weiyan lalu segera pergi dari tempat itu.


"Kau terlalu memanjakan anak itu. Sampai kapan kau akan terus mencarikan berbagai jenis racun untuk dia olah?" protes Luo yin.


"Siapa suruh kita semua terlalu menyayangi anak itu. Aku jadi tidak bisa menolak segala keinginannya." ucap Huo nan.


"Ada apa ibu?" tanya Mei yin yang baru tiba.


"Biasa Weiyan meminta Liu yu mencari binatang dan tumbuhan beracun." jawab Luo yin.


"Siapa gadis cantik ini ibu?" tanya Mei yin yang melihat Fei ya yang hanya diam melihat mereka.


"Ah ibu hampir lupa. Tadi mengajak gadis cantik ini untuk masuk ke dalam istana." ucap Luo yin.


"Siapa namamu gadis cantik?" tanya Luo yin.


"Nama hamba Fei ya, nyonya." jawab Fei ya.


"Jangan panggil nyonya Fei ya, panggil aku nenek seperti Liu yu memanggil aku." ucap Luo yin.


"Apakah tidak masalah?" tanya Fei ya.


"Aku juga bukan cucu dari nenek. Beliau menganggap aku sebagai cucu karena sudah lama ikut dengan beliau." ucap Liu yu.


Perlakuan hangat keluarga kerajaan istana atas awan terhadapnya membuat Fei ya merasa bahagia.


"Fei ya sebenarnya keturunan keluarga bangsawan Situ yang diusir karena dianggap pembawa sial." ucap Liu yu.


"Bagaimana bisa ada keluarga seperti itu?" tanya Luo yin geram.


Liu yu akhirnya menceritakan apa yang dialami oleh Fei ya. Mendengar itu Luo yin memutuskan untuk menerima Fei ya sebagai anggota keluarga.


"Terima kasih." ucap Fei ya.


"Tidak ada kata terima kasih untuk keluarga Fei ya sayang." ucap Luo yin.


"Ibu benar sayang, mulai sekarang kau adalah bagian dari keluarga kita." ucap Mei yin.


Akhirnya Fei ya diterima dengan baik oleh seluruh keluarga kerajaan istana atas awan. Dia hidup lebih layak dan bahagia di dalam keluarga itu.


Perlahan hubungan Liu yu dan Fei ya semakin akrab membuat Luo yin yang menganggap Liu yu sebsgai cucunya sendiri memutuskan untuk menikahkan mereka.


Tentunya mereka tidak menolak untuk dijodohkan karena dari awal mereka memang saling suka tapi malu untuk mengutarakan perasaan masing-masing.


Pernikahan mereka digelar dengan meriah dan Fei ya langsung diboyong oleh Liu yu langsung ke kediaman yang sudah dia sediakan untuk keluarga nya jika telah berkeluarga nantinya.


Fei ya kini tengah duduk dengan gugup dalam balutan pakaian pengantin dan kain penutup kepala yang menutupi wajah cantiknya. Dia semakin gugup setelah mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali. Fei ya dapat mendengar ada suara langkah kaki mendekat ke arahnya.


Fei ya mer*mas tangannya karena gugup saat Liu yu yang sudah berstatus sebagai suaminya duduk di depannya.


"Bolehkah aku membuka kain penutup kepala ini?" tanya Liu yu.


Fei ya yang tidak bisa bicara karena gugup hanya mampu mengangguk saja. Liu yu perlahan membuka kain dan perlahan wajah tertunduk istrinya dapat dia lihat.


"Mengapa menunduk?" tanya Liu yu dan Fei ya hanya menggeleng.


"Apakah kau tidak menghendaki pernikahan ini?" tanya Liu yu ragu.


"Bu bukan i tu, a aku ha nya malu." jawab Fei ya gugup.


"Untuk apa kau malu dengan suamimu sendiri?" tanya Liu yu mengangkat dagu sang istri.


Perlahan mata Fei ya mulai berani menatap ke arah suaminya. Pandangan mereka bertemu dan perlahan wajah Liu yu mendekat ke arah wajah Fei ya.


"Bolehkah?" tanya Liu yu sebelum sempat mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya.


Fei ya hanya mengangguk dan dengan segera Liu yu menyatukan bibirnya dengan bibir mungil sang istri. Tidak hanya saling menempel saja perlahan Liu yu mel*mat bibir sang istri dengan lembut. Fei ya akhirnya membalas lum*tan bibir sang suami dan perlahan Liu yu membaringkan tubuh sang istri.


(Untuk lebih jelasnya mengenai hal selanjutnya yang dilakukan oleh pengantin baru kita itu, kalian silahkan berkhayal sendiri 🤭)


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mohon maaf karena update double yang tidak disengaja membuat kalian semua terganggu. Tapi, Author janji akan mengganti setiap bab yang terulang itu dengan ekstra chap seperti ini.

__ADS_1


Sekali lagi mohon maaf atas segala kesalahan yang membuat para pembaca terganggu dan mungkin kecewa.


Terima kasih atas pengertiannya dan selamat membaca.


__ADS_2