
Ze mengikuti langkah Mei yin sambil tersenyum melihat gelagat Mei yin. Di sudut hati Ze merasa tidak tega melihat ibunya bersedih namun, dia melakukan itu demi kebaikan ibunya juga.
"Maaf karena harus membuat hatimu terbakar ibu. Aku hanya ingin ibu menyadari perasaan ibu yang sebenarnya terhadap ayah tanpa harus memikirkan pendapat orang lain. Ibu lihat saja disaat ibu terpuruk karena sakit hati tidak ada dari mereka yang akan perduli apalagi mengulurkan tangannya untuk membantu. Lalu mengapa ibu harus memikirkan pendapat orang lain dalam meraih kebahagiaan ibu?" batin Ze menatap ibunya.
"Ada apa Ze sayang?" tanya Luo yin karena tiba-tiba Ze menghentikan langkahnya.
"Aku lupa, hari ini aku ingin berkunjung ke rumah Wen yuan untuk melihat keadaan Sie li." jawab Ze.
"Kalau begitu nenek juga akan ikut. Nenek sudah lama tidak melihat Sie li." ucap Luo yin.
"Bagaimana denganmu Mei yin?" tanya Luo yin pada Mei yin di depannya.
"Aku pulang saja ibu. Kepalaku sedikit pusing karena lelah berkeliling pasar." jawab Mei yin tanpa menoleh lalu pergi tanpa menunggu tanggapan ibunya.
"Mei...."
"Biarkan cece saja yang menemani ibu ke istana. Mungkin ibu butuh istirahat dan waktu sendiri." ucap Ze.
Ceri emas hanya mengangguk saat Ze menatapnya lalu segera menyusul Mei yin.
"Apakah ada sesuatu yang penting terjadi yang nenek tidak tahu?" tanya Luo yin penasaran.
"Memang ada tapi itu bukan bagian aku untuk menyampaikan itu pada nenek. Nanti juga nenek akan tahu sendiri jika saatnya tiba." jawab Ze.
"Ayo kita ke tempat Wen yuan saja untuk menemui Sie li. Aku harus memastikan semua baik-baik saja untuk Sie li sebelum aku harus pergi dari istana ini lagi selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu." ucap Ze.
Ze berusaha mengalihkan perhatian Luo yin agar tidak mendesaknya untuk memberitahu dia masalah yang terjadi pada Mei yin.
"Kau memang benar, Sie li dan calon bayinya harus baik-baik saja. Aku telah menganggap Sie li sama dengan kamu sayang. Dia anak yang baik dan jujur nenek suka itu. Kau harus memastikan keamanannya karena nenek tidak ingin hal buruk terjadi pada cucu dan calon cicit nenek." ucap Luo yin.
"Ibu, Ze, kalian hendak kemana?" tanya Liu ku yang ternyata telah selesai dengan urusannya dan tidak sengaja berpapasan dengan mereka.
__ADS_1
"Kami ingin berkunjung ke tempat Wen yuan untuk melihat keadaan Sie li." jawab Luo yin.
"Biar...."
"Ayah sebaiknya kembali ke istana saja menemui ibu karena ibu tengah salah paham pada ayah." ucap Ze tentunya dengan telepati.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Liu ku.
"Bukan sedang tapi sudah. Lihat saja kejutan memusingkan dari putri kesayangan ayah ini di sana." jawab Ze.
"Mengapa kalian hanya diam?" tanya Luo yin.
"Ah aku lupa kalau masih ada yang harus aku urus di istana. Ibu aku pergi dulu." ucap Liu ku.
"Ada apa dengan orang-orang hari ini? Semua pergi terburu-buru tanpa mendengarkan pendapat orang lain." gumam Luo yin.
"Mungkin urusan ayah memang sangat penting nek." ucap Ze yang masih dapat mendengar gumaman Luo yin.
"Ayo kita ke tempat Wen yuan saja." ajak Ze sambil tersenyum melihat punggung Liu ku yang sudah pergi menjauh.
"Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?" tanya Luo yin sambil melihat ke arah pandangan Ze dan tidak ada yang lucu menurutnya.
"Bukan apa-apa nek. Aku hanya teringat sesuatu yang lucu." jawab Ze.
"Ayo kita berangkat agar dapat kembali cepat karena aku tidak ingin Jin hu akan berulah jika aku pergi terlalu lama." ajak Ze Dan mereka segera berjalan menuju ke arah rumah Wen yuan.
"Di mana grand master Ji?" tanya ular api pada Hui tu yang datang dan tidak lagi melihat Liu ku di tempatnya.
"Mungkin sudah kembali ke istana." jawab Hui tu.
"Mengapa terburu-buru sehingga meninggalkan kita?" tanya ular api.
__ADS_1
"Dia pasti sedang sibuk mengurus masalah yang baru saja tuan mu buat. Aku kasihan melihat ayah yang menjadi korban kebosanan putri kesayangannya itu." jawab Hui tu.
"Aku tidak paham."
"Tidak perlu dipikirkan, itu diluar kemampuan dirimu untuk memahaminya. Sebaiknya kita mengerjakan tugas lainnya saja karena waktu yang tersisa sebelum berangkat ke negeri Kai hanya tinggal sedikit." saran Hui tu.
"Itu tidak akan ada urusannya dengan wanita lagi bukan?" tanya ular api.
"Tidak, kali ini mungkin melibatkan pertarungan karena kita akan menerobos kawasan musuh di luar batas istana atas awan." jawab Hui tu.
"Itu jauh lebih baik dan sebaiknya kita segera pergi sebelum yang mulia Ratu tahu dan ingin ikut dengan kita." ucap ular api yang tahu tuannya ada di sekitarnya.
"Kau benar, jika dia ikut dalam misi ini kita hanya akan jadi penonton saja." Saut Hui tu lalu segera mereka pergi sebelum Ze menyadari keberadaan mereka dan tahu tugas mereka selanjutnya.
Ze dan Luo yin sudah sampai di rumah Wen yuan. Di sana mereka melihat Wen yuan tengah menggunakan pakaian dan riasan ala wanita penghibur sambil menari membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Wen yuan yang terkejut mendengar suara tawa Ze dan Luo yin lantas melompat ke balik bilik untuk bersembunyi. Kedatangan Ze memang tidak di umumkan atau diberitahu pada Wen yuan oleh pelayannya karena perintah Ze. Ze dapat bebas keluar masuk kediaman Wen yuan karena seluruh pelayan tidak ada yang berani menegurnya.
"Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Hanya ha ha ha ha ha." tanya Luo yin tanpa berhenti tertawa.
"Apakah gaji yang kau terima sangat kurang sehingga kau ingin menambah pendapatan dengan menjadi waria?" tanya Ze yang masih terus tertawa.
"Jangan tertawa seperti itu Ratu, salahkan saja istriku itu." ucap Wen yuan.
"Mengapa itu jadi salah Sie li?" tanya Luo yin.
"Dia merengek meminta aku agar berdandan seperti ini dan menari di depannya." jawab Wen yuan. sedangkan Sie li hanya tersenyum kikuk menggaruk tengkuknya.
"Kau ada-ada saja Sie li." ucap Ze sambil tersenyum melihat ke arah Sie li.
"Biarkan saja, biar Wen yuan ikut merasakan menderita di tengah kehamilan istrinya." ucap Luo yin.
__ADS_1
"Biar aku periksa keadaanmu untuk memastikan apakah tidak ada masalah dengan kadunganmu." ucap Ze.
"Kau ganti pakaianmu itu sebelum aku mual dan membuat kau menjadi Kasim." ancam Ze membuat Wen yuan pergi dengan kecepatan kilat dari tempat itu.