
Diam dan lihat saja apa yang terjadi. Kita tidak memiliki kemampuan untuk melawan mereka jika itu memang benar." ucap pengunjung lainnya.
"Kami ingin bertemu dengan tetua keluarga Si. " ucap Hui tu lalu membisikkan sesuatu pada Yang ruo.
"Ikuti saya." ucap Yang ruo yang tampak terkejut mendengar bisikan Hui tu.
Mereka berjalan mengikuti Yang ruo yang berjalan memasuki penginapan dan kemudian menaiki tangga. Semua orang yang melihat tuan muda keluarga Si sendiri yang mengantar rombongan Ze untuk bertemu tetua keluarga Si terkejut.
"Sepertinya mereka memang benar-benar orang penting. Bahkan tuan muda Si sendiri yang mengantar mereka menjumpai tetua keluarga Si." ucap salah satu pengunjung.
"Mereka sudah pasti orang penting. Mereka tidak hanya dapat menemui tuan Si bahkan tetua keluarga Si pun mereka dapat jumpai." saut yang lainnya.
"Beruntung kita tidak mencari masalah dengan mereka." ucap pengunjung a.
"Bukan tidak mencari masalah tapi belum mencari masalah. Aku sangat yakin jika tuan muda Si tidak datang tepat waktu kalian pasti akan ikut mengusir mereka dari tempat ini." ucap pengunjung b.
"Sudah-sudah, sebaiknya kita kembali pada kegiatan masing-masing sebelum kita mendapatkan masalah karena menggunjing keluarga kerajaan seperti mereka. Walaupun bukan anggota kerajaan Nansi ini, mereka tetaplah bukan orang yang bisa untuk kita singgung." ucap pengunjung c.
Di lantai 3 Ze dan yang lainnya sedang berdiri di depan sebuah pintu yang cukup besar.
"Tunggu di sini sebentar, aku harus melaporkan kedatangan kalian pada kakek buyut." ucap Yang ruo.
Yang ruo mengetuk pintu sebanyak 3 kali lalu tidak lama kemudian pintu terbuka. Seorang pemuda dengan wajah datar membuka pintu melihat Yang ruo pemuda itu menunduk hormat tanpa mengucapkan apapun.
"Aku ingin bertemu kakek buyut." ucap Yang ruo.
"Mereka datang bersama aku dan aku akan menyampaikan hal penting tentang mereka pada kakek buyut." ucap Yang ruo saat pemuda itu melirik ke arah Ze dan rombongan.
Pemuda itu menyingkir memberikan jalan pada Yang ruo agar dia bisa masuk ke dalam ruangan. Yang ruo masuk dan menjumpai tetua keluarga Si tidak lama orang tua itu keluar dengan sangat bersemangat.
__ADS_1
"Silahkan masuk." ucap orang tua itu.
Pemuda yang membuka pintu sebelumnya terkejut karena tetua yang sangat membatasi diri dengan dunia luar dan tidak ingin bertemu dengan sembarangan orang, kini tengah menyambut kedatangan para tamu yang tidak diketahui asalnya.
Mereka dipersilahkan duduk di kursi yang melingkari sebuah meja yang cukup besar. Hui tu mengeluarkan sebuah giok dan meletakkannya di atas meja.
"Silahkan ikuti orang tua ini." ucap orang tua itu yang awalnya seperti orang terkejut melihat giok itu lalu mencoba menetralkan mimik wajahnya.
"Mereka...." orang tua itu menghentikan langkahnya saat menyadari semua rekan Hui tu ikut berdiri mengikuti langkahnya.
"Mereka semua adalah kerabat dekatku. Tidak ada rahasia antara kami maka tidak masalah jika mereka ikut melihat apa yang harus aku lihat." ucap Hui tu.
Orang tua itu hanya kembali melangkah membuka sebuah pintu lemari lalu entah apa yang orang tua itu lakukan tiba-tiba dinding di sebelahnya bergeser lalu membentuk sebuah pintu. Mereka menuruni sebuah tangga dengan membawa sebuah obor.
Cukup lama mereka berjalan menuruni tangga hingga sampai mereka di sebuah ruangan dengan altar batu di tengah ruangan itu.
Hui tu menuruti segala ucapan orang tua itu. Setelah cukup lama Hui tu berdiri di atas altar itu, tiba-tiba sebuah cahaya keluar dari batu altar itu.
"Selamat datang di keluarga kita suamiku." seorang wanita muncul dari cahaya itu sambil tersenyum.
"Jika kau melihat pesan terakhir dariku ini, itu artinya kau sungguh ingin membalas dendam pada binatang itu. Dia adalah seorang pangeran dari dunia bawah tanah. Kau harus berhati-hati jika berhadapan dengan dia. Kelemahan dia ada pada kalung yang selalu dia gunakan karena kalung itu adalah penghubung antara dirinya dengan pangeran kegelapan. Dia mencari masalah dengan dirimu juga adalah untuk mendapatkan pintu dimensi dan membuka pintu menuju dunia kegelapan dan menghidupkan kembali pangeran kegelapan lalu menciptakan kegelapan di seluruh semesta ini. Hanya itu yang aku tahu. Maaf karena aku harus benar-benar pergi karena tenaga yang tersisa hanya mampu menciptakan bayangan sebentar saja. Aku mencintaimu." ucap wanita itu lalu menghilang dengan wajah tersenyum.
"Seberapa kuat pondasi roh dari wanita itu sehingga dapat membuat 2 pesan berupa energi yang dapat bertahan hingga ratusan tahun?" tanya Ze.
"Setidaknya kekuatan roh dari wanita itu sudah memasuki tahap ksatria." jawab Zili.
"Salam hormat kakek buyut." ucap tetua dan tuan muda keluarga Si.
"Maafkan kami yang tidak bisa mengenali kakek buyut." ucap mereka sambil menunduk hormat.
__ADS_1
"Jangan seperti itu. Walaupun jiwaku adalah seorang yang sudah sepuh dan merupakan kakek buyut kalian, tapi sekarang tubuh ini adalah tubuh pemuda yang tidak seharusnya kau sebagai orang tua itu tertunduk hormat do depanku." ucap Hui tu.
"Tetap jalani kehidupan kalian seperti semula karena aku harus mengurus dendam lama setelah ini. Aku hanya ingin melihat makam istri juga anakku sebelum pergi." ucap Hui tu lagi.
"Tapi...."
"Tidak ada kata tapi. Kalian selama ini baik-baik saja tanpa adanya aku. Jika iblis itu tahu kalau aku masih hidup dan berada di sekitar kalian, maka keluarga Si akan sungguh-sungguh hancur selamanya." ucap Hui tu.
"Biarkan kami menyediakan kamar untuk kakek....."
"Cukup panggil aku Hui tu saja karena akan sangat mencurigakan jika kalian memanggil aku kakek buyut." protes Hui tu.
"Karena perjalanan menuju makam cukup jauh sedangkan kompetisi demi masa depan generasi muda keluarga Si kita sudah akan dimulai besok, bagaimana kalau kita menuju makam setelah kompetisi berakhir?" tawar tetua keluarga Si.
"Tetua...."
"Sangat tidak pantas untuk kakek buyut memanggil cucunya sendiri dengan sebutan tetua. Anda panggil saja aku Yok ji." sela tuan Yok ji.
"Tidak, di dunia luar kita tidak boleh menunjukkan hubungan keluarga kita ini jika ingin keluarga Si baik-baik saja." tolak Hui tu.
"Baiklah, apapun keputusan kakek buyut akan cucu laksanakan." ucap tuan Yok ji.
"Kalau begitu kami akan segera kembali ke penginapan kami." putus Hui tu.
"Keluarga kita memiliki penginapan yang tidak akan kalah dari penginapan sekitar. Bagaimana bisa kakek buyut tinggal di penginapan lain?" ucap tuan Yok ji tidak terima.
"Itu lebih baik karena aku tidak ingin hal sekecil ini dapat menjadi petunjuk bagi pihak musuh untuk mengungkapkan diriku yang sebenarnya." ucap Hui tu.
Mereka kembali ke kamar tuan Yok ji dan setelah itu Ze dan yang lainnya pamit pulang. Mereka bahkan menolak jamuan karena Hui tu sangat tidak ingin keluarga Si yang sekarang kembali hancur seperti keluarga Si di masa lalu yang hampir punah.
__ADS_1