
Putri Rou ruan terus menatap wajah Jin hu dengan tatapan kagum. Satu persatu para putri telah meninggalkan perbatasan dan untuk rombongan putri yang telah tiada itu, mereka membawa tubuh kaku tuan putri mereka dalam diam. Mereka tidak berani untuk mencari masalah pada Jin hu yang terpenting adalah membawa pulang tubuh tuannya.
"Rombongan yang masih tinggal itu dari kerajaan mana dan apakah maksud rombongan kalian tetap tinggal?" tanya ular api.
"Kami adalah rombongan pengawal dari putri Kai rou ruan yang berasal dari kerajaan Kai." jawab seorang pemuda.
"Kami datang bukan dengan alasan yang sama dengan para putri itu. Bahkan kerajaan Kai tidak mendapatkan undangan dari istana negeri atas awan." jelas bibi Cuan.
"Jika bukan kerana undangan dan keinginan untuk menjadi pendamping yang mulia, apa tujuan putri dari kerajaan Kai datang ke tempat ini?" tanya Liu yu.
"Lancang sekali kau sebagai bawahan biasa melontarkan pertanyaan pada putri Rou ruan yang sejatinya adalah seorang putri terhormat dari kerajaan Kai yang sangat besar itu." ucap tetua Fu.
Orang tua itu berusaha menj*lat putri Rou ruan agar mendapatkan dukungan dari putri yang menurutnya akan memiliki kesempatan yang besar untuk meraih hati Jin hu.
"Liu yu dan Xiao wang (maksudnya ular api) adalah saudaraku. Mereka jauh lebih berhak dari dirimu untuk mengucapkan apapun mewakili aku." ucap Ze yang tidak terima jika Liu yu dan ular api direndahkan.
Ze memberikan nama Xiao wang pada ular api karena tidak mungkin dia memanggil dengan sebutan ular api di depan orang lain yang akan membuka jati diri ular api yang sesungguhnya.
"Tapi nyonya Jin, mereka hanya seorang pengawal saja dan....."
"Akh....."
Belati Ze melayang dengan secepat kilat tanpa ada yang menyadari. Seketika itu juga Mentri bernama Pu lim itu tumbang dengan luka tusuk di mulutnya.
__ADS_1
"Mengapa anda membunuh menteri Pu lim?" tanya tetua Fu.
"Dia tidak mendengarkan apa yang aku ucapkan dengan baik. Sudah aku katakan bahwa mereka berdua adalah saudaraku dan masih tidak mengakui mereka. Apapun yang aku katakan adalah keputusan mutlak tanpa bantahan. Kesalahannya yang kedua adalah karena dia salah menyebutkan panggilan untukku yang seolah mengatakan bahwa dia tidak mengakui statusku sebagai istri sah dari suamiku yang seorang pemimpin tertinggi dari negeri ini." ucap Ze.
"Walaupun Mentri Pu lim salah, tapi hukuman mati hanya bisa dilakukan setelah ada keputusan melalui sidang." ucap menteri Gu wo.
"Apapun keputusan istriku adalah hukum yang berlaku. Kalian terlalu lancang dan semakin rakus akan rasa kepemimpinan karena terlalu lama memegang keputusan di dalam istana sehingga lupa siapa yang sesungguhnya adalah seorang pemimpin di sini." ucap Jin hu.
Putri Rou ruan menggeram kesal melihat Jin hu yang sangat membela Ze dan selalu menatap Ze dengan penuh kasih sayang.
"Kami tidak bermaksud seperti itu yang mulia. Tapi,....."
"Tidak seperti itu? Apakah lancang membuat keputusan tanpa sepengetahuan aku sebagai pemimpin dan lebih parahnya lagi memutuskan sesuatu tentang diriku adalah tindakan yang wajar sebagai seorang bawahan?" tanya Jin hu sembari menatap tajam pada mereka.
"Ampuni kami yang mulia." ucap mereka bersama sambil berlutut karena merasakan aura penekanan dari Jin hu.
"Ba baik yang mu mulia." saut mereka karena Ze sudah mengeluarkan aura kekuatannya.
"Ya Dewa, bagaimana mungkin aku lancang menyinggung yang mulia Nyonya Jin ini? Ternyata memang benar pencapaiannya sangat tinggi bahkan aku hanya merasakan aura kuat dari dirinya tanpa tahu seberapa besar pencapaiannya." batin Mentri Gu wo.
Para menteri terkejut bahkan tetua Fu tertegun merasakan aura kuat dari Ze. Orang di luar tabir tidak mengetahui apa yang terjadi hanya berpikir kalau Jin hu yang membuat mereka semua berlutut ketakutan.
Mereka yang ditekan oleh Ze semakin ketakutan melihat kemampuan Ze mengontrol tekanan auranya. Karena Ze dapat memilih siapa yang hendak dia tekan tidak seperti Jin hu sebelumnya yang menekan semua orang tanpa terkecuali dengan auranya. Para menteri dan tetua Fu merasakan tekanan hebat tapi prajurit di sekitar mereka tidak bereaksi sedikitpun yang artinya Ze tidak menekan mereka.
__ADS_1
"Kalian di luar sana belum menjawab pertanyaan dari saudaraku sebelumnya." ucap Ze lantang.
"Aku hanya datang untuk mengucapkan terima kasih kepada yang mulia tuan Jin hu atas pertolongannya sebelum ini." jawab putri Rou ruan yang sudah turun dari kereta dengan gaya yang sangat anggun mengeluarkan pesonanya.
Dia baru menjawab karena dia hanya akan menjawab atau menyahut jika itu pertanyaan atau pernyataan dari Jin hu atau paling tidak Ze. Karena dia menganggap orang lain tidak pantas untuk dia anggap ada. Bahkan jika bukan karena terpaksa ingin dia memaki Ze dan mengatakan bahwa Ze tidak pantas untuk bersaing dengan dirinya mengingat yang dia tahu dari berita yang berhasil dia dapat bahwa Ze adalah gadis yang telah diceraikan oleh tunangannya.
"Pertolongan?" beo Ze tidak ingat kalau suaminya pernah menyebut tentang menyelamatkan putri Rou ruan itu.
"Aku tidak ingat pernah menolong putri Kai bahkan aku tidak pernah bertemu dengan putri dari kerajaan Kai sebelum ini." ucap Jin hu bingung dan takut jika istrinya salah paham.
"Saat penyerangan dari mahluk aneh di perbatasan ini sebelumya aku juga menjadi korban." ucap putri Rou ruan lantang berharap Jin hu menatap ke arahnya karena walaupun dia berbicara sebelumnya, Jin hu hanya terus menatap Ze saja.
"Oh, jika hanya itu maka putri dari kerajaan Kai tidak perlu mengucapkan terima kasih karena kami hanya menyelamatkan para warga dan melindungi tabir negeri atas awan ini dan kebetulan saja putri juga korbannya. Putri bisa kembali kerajaan Kai tanpa beban budi." ucap Jin hu.
"Bagaimana bisa seperti itu. Aku tidak bisa tidak mengucapkan terima kasih dan tidak membalas budi anda walaupun hanya kebetulan." ucap putri Rou ruan.
"Maka putri Kai ini sudah mengucapkan terima kasih dan untuk membalas budi anda hanya perlu pergi dari sini tanpa menimbulkan masalah karena kami perlu mengurus masalah yang lainnya." ucap Ze.
"Berani-beraninya wanita ja*ang itu mengusir aku." batin putri Rou ruan geram.
Dia tidak bisa mengungkapkan kekesalannya pada Ze mengingat Jin hu sangat melindungi Ze. Putri Rou ruan mengepalkan tangannya hingga memutih untuk menahan amarahnya.
"Kalau begitu aku akan pergi dan akan kembali untuk berterima kasih dengan cara yang lebih baik di waktu yang tepat." ucap putri Rou ruan berusaha tersenyum padahal hatinya mengerang penuh emosi.
__ADS_1
"Mengapa kita harus pergi bibi Cuan?" bisik Nian.
"Kita harus memikirkan cara yang lebih baik menghadapi wanita itu. Dia telah sepenuhnya menguasai pikiran Jin hu itu." jawab bibi Cuan.