
Kalau begitu anggap bonus untuk semua pelayan yang kau miliki sisanya. Tolong berikan ini pada pelayan yang tadi mengantar kami ke sini." ucap Ze sambil memberikan beberapa koin emas.
Baik nyonya, terima kasih banyak." ucap pemilik penginapan itu.
Ze dan yang lainnya di antar menuju kamarnya masing-masing dan disuguhi makan malam istimewa. Ze memutuskan Hui tu yang menempati kamar di sebelahnya untuk jaga-jaga kalau Hui tu membawa keluarga Si ke tempatnya untuk berbincang agar mereka lebih nyaman.
Ze dan Jin hu tinggal berdua di kamar mereka setelah selesai makan malam dan para pelayan membereskan semua serta menyiapkan air mandi untuk mereka.
"Aku ingin mandi lalu istirahat." ucap Ze.
"Tidakkah kau ingin menggunakan kesempatan yang sangat mendukung dengan suasana bulan madu ini untuk kita berusaha membuat pangeran atau putri Jin kecil sayang?" goda Jin hu sambil menarik Ze agar duduk di atas pangkuannya.
"Jangan berulah sayang. Aku ingin mandi karena sudah merasa tidak nyaman dengan tubuh lengket." ucap Ze.
"Aku tidak berulah sayangku. Aku hanya ingin juga segera merasakan kebahagiaan mendengar berita kehamilan dirimu seperti Wen yuan yang bahkan sebentar lagi sudah akan menimang anaknya." ucap Jin hu.
"Maaf."
"Itu bukan salahmu sayang. Kita hanya belum berusaha lebih keras untuk mewujudkan impian itu." ucap Jin hu.
"Maka...." Jin hu berdiri sambil mengangkat tubuh Ze ala bridal style.
"Ah apa yang kau lakukan?" tanya Ze yang terkejut refleks mengalungkan tangannya di leher Jin hu.
"Kita harus berusaha lebih keras untuk menghadirkan calon Jin hu atau Ze junior bukan? Maka aku sekarang ingin berusaha." ucap Jin hu sambil tersenyum menaruh tubuh Ze di atas tempat tidur.
Jin hu mencium kening, dua mata dan hidung Ze. Dia mengecup bibir Ze lama kemudian me*umatnya. (Kemudian silahkan berkhayal sendiri 😅)
...----------------...
__ADS_1
Di kamar Hui tu
Hui tu duduk menyender ke kepala tempat tidur sambil termenung.
"Sebenarnya apa yang ingin aku cari di tempat ini? Apakah akan ada yang berubah jika aku menemukan mereka?" gumam Hui tu.
"Kau tetap sudah tidak akan bisa aku temui dan putra kita juga sudah lama tiada. Apakah akan ada yang berubah setelah aku menemui keturunan dari putra kita yang selama hidupku tidak pernah aku ketahui keberadaannya dan tidak pernah aku temui?" gumamnya lagi sambil memejamkan mata membayangkan wajah dari mendiang istrinya.
"Kau terlihat sangat kurus dalam energi yang kau titipkan untuk diriku yang sudah sangat terlambat aku terima. Apakah itu berarti kau sudah sangat menderita mengurus putra kita seorang diri sembari menghindari orang itu?" gumam Hui tu kali ini air mata telah mengalir dari mata yang masih terpejam itu.
"Maafkan aku karena tidak cukup kuat untuk melindungi kau juga calon putra kita saat itu. Kau menanggung beban itu seorang diri dan masih memikirkan bagaimana aku bisa kembali bangkit dari kematian dengan mengorbankan dirimu sendiri. Apakah kau memang berniat untuk menghukum aku dengan perasaan bersalah seumur hidup?" tangannya mengepal kuat sambil menepuk dadanya yang mulai terasa sesak sambil mengucapkan kata itu.
Hui tu masih terus menangis hingga tertidur. Hui tu membuka mata dan heran melihat pemandangan berbeda yang dilihatnya.
"Bukankah seharusnya aku masih berada di dalam kamar penginapan?" tanya Hui tu entah pada Siapa.
"Siapa?" tanya Hui tu sambil menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah.
"Ya, ini aku." jawab wanita dengan pakaian serba putih sambil tersenyum namun dengan mata berkaca-kaca.
"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Hui tu berjalan mendekat ke arah wanita itu hendak memeluknya.
"Jangan mendekat, kita sudah tidak dalam alam yang sama. Aku hanya mendengar ratapan pilumu yang menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi makanya aku mendatangi alam bawah sadarmu hanya untuk mengatakan aku tidak menyalahkan dirimu sama sekali dan keturunan kita sudah tahu tentang kisah kita. Aku hanya ingin kau menemukan binatang itu yang sudah membuat banyak orang menderita karena aku yakin dia masih hidup. Tanyakan pada tetua dari keluarga kita tempat aku meninggalkan sebuah benda yang hanya dirimu yang dapat membukanya. Sudah saatnya aku pergi karena sudah terlalu lama menunggu untuk menyampaikan ini aku sudah tidak bisa bereinkarnasi sama sekali." jelas wanita itu dan perlahan tubuhnya mengurai dan hilang terbawa angin dan hilang.
"Tidak.... Wei guo jangan pergi. " teriak Hui tu seperti ingin meraih sesuatu lalu terbangun dengan mata yang masih berlinang air mata.
Hui tu sudah kembali berada di dalam kamar penginapan. Wanita yang masuk ke dalam mimpinya adalah mendiang istrinya yang menemuinya untuk terakhir kalinya.
"Aku akan menemukan iblis itu dan membalaskan dendam kita semua." ucap Hui tu.
__ADS_1
Hui tu segera bangkit dan segera membersihkan diri karena sudah saatnya mereka pergi ke ibukota untuk menemui cucu-cucu buyutnya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Mengapa kau terlambat?" tanya Huo nan setelah Hui tu memasuki kamar Ze yang sudah ada Huo nan dan Zili di dalam.
"Aku terlambat bangun karena dia datang dalam mimpiku menyampaikan pesan tentang petunjuk siapa iblis itu dan ada kemungkinan dia juga masih hidup hingga saat ini." ucap Hui tu.
"Sebaiknya kau sarapan dulu karena kita akan melanjutkan perjalanan menuju tujuan baru kita yaitu ibukota kerajaan Nansi. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi kedepannya dan apakah kejadian sebelumnya yang sering membuat kita tidak memiliki kesempatan untuk mengisi perut akan terjadi lagi dalam perjalanan ini." ucap Ze.
"Kakak ipar memang benar. Beberapa kali saat kita akan makan selalu ada kejadian yang membuat kita menunda waktu makan bahkan tidak bisa makan sama sekali." ucap Huo nan.
"Aku sudah mengantisipasi hal itu. Aku memesan beberapa makanan kering dan memasukkan ke dalam cincin penyimpanan milikku untuk berjaga-jaga." ucap Hui tu.
"Sejak kapan kau memiliki cincin penyimpanan? Apakah itu salah satu alasan kau terlambat?" tanya Huo nan.
"Aku mendapatkan ini di saat mencari batu sejati tingkat sedang untuk master tang. Aku melihat seseorang menjual beberapa dan aku membelinya. Walaupun ruang di dalamnya tidak cukup besar tapi lumayan untuk membawa beberapa bawaan yang merepotkan untuk dibawa begitu saja." jawab Hui tu.
"Soal makanan itu aku memesannya semalam sebelum aku tidur pada pelayan penginapan ini. " tambahnya.
"Berarti pria misterius itu memiliki tingkat kekuatan yang sangat besar atau bisa jadi dia menyembah iblis jika mendiang istri Hui tu menyampaikan bahwa dia masih hidup hingga saat ini." ucap Ze setelah Hui tu selesai sarapan.
"Kita hanya bisa tahu setelah menemui tetua keluarga Si dan menemukan kotak penyimpanan yang Wei guo maksud." ucap Hui tu.
"Ayo lanjutkan perjalanan kita. Kita harus melihat situasi dalam kerajaan sebelum kompetisi berlangsung besok." ajak Zili.
"Ya, Zili benar kita harus bergegas." ucap Hui tu.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ibukota.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like dan komentarnya 😊