
Ze mengangguk paham saat mendengar jawaban dari ular api.
"Bisakah kau untuk tidak menjadi lebih tidak tahu malu?" ucap sinis Hui tu melihat tingkah Jin hu yang langsung memeluk manja tubuh Ze setelah dia keluar dari batu dimensi.
"Apa yang salah?" tanya Jin hu santai.
"Bukankah di sini masih ada orang lain dan kau dengan tidak tahu tempat malah bermanja-manja seperti ini?" ucap Hui tu.
"Bukankah hanya kau dan ular api saja? Kalau seperti itu, kalian tinggal memalingkan tatapan kalian agar tidak iri dengan aku." sahut Jin hu membuat Hui tu kehabisan kata-kata dan memilih untuk pergi mencari sesuatu yang dapat dia makan.
Ular api memilih untuk mengikuti langkah Hui tu karena merasa hanya jadi pajangan di tempat itu.
"Jangan seperti ini di depan orang lain." ucap Ze.
"Kenapa?" tanya Jin hu dengan wajah sedih.
"Jangan memasang ekspresi wajah seperti itu. Sangat tidak pantas mengingat statusmu dan kepribadian dirimu." ucap Ze tanpa menjawab pertanyaan Jin hu.
"Sayang.... "
"Saat hanya ada kau dan aku saja, terserah kau mau bersikap dan bertingkah semaunya dirimu. Tapi, saat ada yang lain, kau harus menjaga sikap." ucap Ze membuat Jin hu yang awalnya ingin protes menjadi senang.
"Ini kau sendiri yang mengatakan bahwa aku bebas melakukan apapun saat hanya kita berdua. Jangan menyesal dengan ucapan yang telah kau ucapkan sayang." ucap Jin hu dengan senyuman yang membuat Ze merinding membuat Ze berfikir apakah dia telah melakukan kesalahan fatal yang akan dia sesali nantinya.
Saat Ze hendak mengatakan sesuatu, ceri emas dan kuda naga terbang keluar dari batu dimensi. Ze mengurungkan niatnya untuk protes dan memilih kembali pada rencananya.
"Apakah kondisi kuda naga terbang sudah stabil? Mengingat dia sudah lama aku buat tertidur, mungkinkah kondisi tubuh dan tenaganya tidak stabil?" tanya Ze pada ceri emas.
"Kuda naga terbang dalam kondisi baik-baik saja dan dengan tenaga penuh. Aku telah memberikan dia buah ceri emas milikku dan itu terbukti mampu memulihkan kondisi fisik juga energinya tuan." jawab ceri emas.
"Bagus kalau begitu. Terima kasih ceri emas." ucap Ze.
"Tidak perlu sungkan dengan mengucapkan terima kasih padaku tuan. Melakukan hal terbaik untuk tuan adalah merupakan tugas yang harus aku jalani sebagai tumbuhan roh kontrak milik anda." saut ceri emas.
"Bukankah sebelumnya aku sudah peringatkan pada kau juga ular api bahwa aku tidak suka kau memanggilku tuan? Melakukan sesuatu untukku bukan kewajiban. Kalian bebas menolak untuk melakukan itu jika kalian tidak bersedia untuk itu." protes Ze.
"Bagiku, kalian berdua termasuk poci adalah keluarga baru yang aku miliki. Jangan merendah di hadapanku lagi kedepannya." tambah Ze membuat ceri emas terharu.
__ADS_1
"Jangan menangis! Aku tidak butuh air mata, yang aku butuhkan adalah jawaban. Apa kau paham dengan yang aku ucapkan sebelumnya?" tegur Ze membuat ceri emas menghapus air mata yang terlanjur jatuh di pipinya lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Paham putri." jawabannya.
"Jangan memanggilnya putri, dia bukan lagi seorang gadis. Dia itu seorang istri dan panggilan putri sangat tidak nyaman di telingaku." protes Jin hu.
Ze hanya melirik Jin hu sambil menghela napas.
"Nyo.... "
"Panggil aku kakak atau adik saja." ucap Ze yang tidak suka dipanggil nyonya.
"Usiamu berapa?" tanya Ze.
"Dari mulai aku dapat bergerak, usiaku sekarang kira-kira sekitar 200 tahun." jawab ceri emas.
"Apa?" tanya Ze dengan nada agak tinggi karena terkejut.
"Bahkan usiamu lebih tua dari kakekku. Aku panggil nenek moyang pun kau pantas." ucap spontan Ze.
"Untuk kami usia 200 tahun adalah usia remaja. Kalau di usia manusia, usia kami sekitar 15 tahun." protes ceri emas.
"Kau masih terlihat muda dan kau paling cantik untuk diriku, sayang." ucap Jin hu.
"Berhenti menggoda ku." ucap Ze.
"Kalau seperti itu, kita saling panggil nama saja." saran Ze sambil menatap ceri emas.
"Tidak, aku tidak bisa memanggil anda dengan sebutan nama langsung. Tidak pantas dan itu terlarang untuk kami." ucap ceri emas dengan cepat.
"Terlarang? Larangan dari mana?" tanya Ze.
"Ini sudah aturan kontrak antara bintang roh dengan manusia dan tumbuhan roh dengan manusia sejak dulu. Itu tidak dapat dirubah." jawab ular api yang sudah tiba bersama Hui tu.
"Oh, lalu kalian dapat memanggilnya nyonya Jin saja." ucap Jin hu santai.
"Tapi..... "
__ADS_1
"Apakah status sebagai istriku adalah beban atau aib bagimu?" tanya Jin hu dengan wajah sendunya.
"Bukan seperti itu. Hanya.... "
"Lalu mengapa kau tidak ingin di panggil dengan sebutan nyonya Jin?" tanya Jin hu tidak memberikan Ze kesempatan untuk memberikan alasan.
"Ah, atau bagaimana dengan panggilan Yang mulia ratu Jin saja?" tanya Jin hu membuat Ze menggeleng.
"Tidak, lebih baik nyonya Jin saja." pasrah Ze akhirnya membuat Jin hu tersenyum penuh kemenangan.
"Sudah ditentukan, kalian dapat memanggil istriku dengan sebutan nyonya Jin." putus Jin hu.
"Baik." jawab ceri emas dan ular api bersamaan.
"Apa yang kalian bawa itu?" tanya Ze melihat Hui tu juga ular api membawa sesuatu dalam bungkusan daun di tangan mereka.
"Aku memetik beberapa buah yang dapat kita makan serta menangkap beberapa ekor ayam hutan." jawab ular api.
"Aku menangkap beberapa ekor ikan." jawab Hui tu.
"Oh, kalau begitu biar aku yang mengerjakan ayam dan ikan itu agar siap untuk dipanggang." tawar ceri emas.
"Aku akan menyiapkan apinya kalau begitu." ucap Hui tu sembari menyerahkan ikan yang dia bawa pada ceri emas.
"Biar aku saja yang mengerjakan itu." ucap ular api sambil mengambil alih ikan yang Hui tu serahkan sebelum diraih ceri emas.
"Kalian makan buah ini saja dulu untuk mengganjal perut." ucap Ular api sembari menyerahkan bungkusan berisi buah-buahan pada ceri emas.
"Kalian kembali masuk ke dalam batu dimensi. Aku dan kuda naga terbang akan melakukan perjalanan menuju ke dalam hutan kutukan sekarang." ucap Ze setelah mereka selesai makan.
Mereka semua hanya menjawab dengan anggukan.
"Berhati-hatilah, ingat bahwa keselamatan dirimu jauh lebih penting bagiku jika hanya dibandingkan dengan kebebasanku mencapai kultivasi." ucap Jin hu.
Ze hanya tersenyum sembari mengangguk sebagai tanggapan untuk ucapan suaminya. Jin hu memeluk Ze kemudian mengecup cukup lama kening Ze hingga dengan terpaksa dia kembali ke dalam batu dimensi bersama yang lain.
"Ayo kita pergi ke hutan kutukan." ucap Ze pada kuda naga terbang yang hanya mengangguk menanggapi ucapan Ze.
__ADS_1
Mohon maaf atas keterlambatan up novel. Karena beberapa alasan beberapa hari ini author tidak bisa up.
Selamat membaca😊