
"Mengapa harus menunggu besok?" tanya Hui tu.
"Perjalanan menuju pemakaman leluhur cukup jauh. Kalian baru tiba setelah melakukan perjalanan jauh jadi butuh istirahat dan besok para generasi muda keluarga Si yang lulus memasuki akademi tangga langit akan melakukan penghormatan kepada leluhur sebelum berangkat jadi lebih baik kita berangkat bersama besok." jawab tuan Yok ji.
"Tidak, tidak aman untuk berangkat bersama banyak keluarga Si. Mereka bisa dalam bahaya jika ternyata iblis itu telah berjaga di sekitar makam." ucap Hui tu.
"Iblis itu tidak tahu letak makam leluhur. Jika tidak, keluarga Si yang mengunjungi makam leluhur sudah banyak yang celaka." ucap tuan Yok ji.
"Siapa tahu dia hanya diam menantikan aku sehingga tidak mengganggu keluarga Si yang lainnya." ucap Hui tu.
"Apa yang Hui tu katakan ada benarnya juga. Anda cukup memberikan peta menuju pemakaman itu agar kami dapat pergi lebih dulu." ucap Ze.
"Tapi, setidaknya kalian masuk ke dalam dulu untuk sekedar membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Setelah sarapan kalian dapat melanjutkan perjalanan." pinta tuan Yok ji.
"Baiklah." ucap Hui tu yang tidak tega menolak permintaan dari tuan Yok ji lagi.
...----------------...
Di tempat lain di kediaman tuan Wu jin.
"Bagaimana ayah?" tanya Sia wu.
"Liu ku tidak bisa menerima undangan untuk bertemu karena memiliki tanggung jawab untuk menjaga istana atas awan selama putri dan menantunya tidak berada di dalam istana." jawab tuan Wu jin.
"Bagaimana jika kita yang mengunjungi paman Ji di istana atas awan? Aku penasaran ingin melihat tempat yang akan menjadi kediamanku kedepannya." saran Sia wu.
"Tidak, aku dengar kabar bahwa seorang dengan niat tidak baik dalam hatinya terhadap penghuni negeri atas awan akan ditolak oleh tabir. Jika kita ditolak oleh tabir maka Liu ku akan waspada terhadap kita dan pasti menolak keinginan untuk menjadikan dirimu selir dari menantunya." tolak tuan Wu jin.
"Bagaimana jika kita janjian di negeri tetangga istana atas awan. Tentu paman Ji tidak akan menolak jika tempatnya tidak terlalu jauh dari istana atas awan bukan?" saran Sia wu.
"Akan ayah coba." ucap tuan Wu jin.
...----------------...
Di istana atas awan
"Ada apa?" tanya Mei yin saat melihat suaminya termenung memegang sebuah surat.
"Tidak ada, aku hanya heran dengan undangan tiba-tiba dari saudara seperguruanku." jawab Liu ku sambil menarik Mei yin ke dalam pelukannya.
"Jangan seperti ini. Tidak enak jika ada yang lihat." ucap Mei yin dengan wajah bersemu.
__ADS_1
"Siapa yang akan melihat kita di dalam kamar kita sendiri. Lagi pula aku hanya memeluk istriku sendiri." ucap Liu ku.
"Masalahnya kita bukan lagi pasangan muda yang pantas bermesraan di......"
"Tidak ada yang namanya pasangan tua atau muda bagi pasangan suami istri untuk memadu kasih. Apakah kau tidak lihat ayah dan ibu sangat harmonis hingga saat ini karena tidak membiarkan usia menjadi patokan sehingga membuat hubungan menjadi hambar?" sela Liu ku.
"Bagaimana dengan undangan dari saudara seperguruanmu itu?" tanya Mei yin mengalihkan pembicaraan.
"Aku menolaknya karena tidak mungkin aku meninggalkan istana ini selama Jin hu dan Ze belum kembali." jawab Liu ku.
"Lalu, apa yang kau risaukan?" tanya Mei yin.
"Aku hanya memikirkan bagaimana caranya kita bisa bermesraan tanpa adanya gangguan selama sehari penuh." jawab Liu ku menggoda Mei yin.
"Dasar kau itu." ucap Mei yin memukul lengan Liu ku pelan karena malu dengan ucapan Liu ku.
"Semoga undangan itu tidak ada kaitannya dengan putrinya yang tergila-gila pada menantuku sejak lama. Karena jika iya, aku sendiri yang akan membuat mereka menyesal karena menginginkan kebahagiaan putriku hancur." gumam Liu ku saat Mei yin sudah keluar dari ruangan itu.
...----------------...
Ze dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju pemakaman leluhur keluarga Si. Di perjalanan Ze kembali berulah membuat semua yang ada di kereta kesal.
"Aku bosan." ucap Ze tiba-tiba.
"Sepertinya sebaiknya kita berhenti sejenak untuk melakukan permainan." jawab Ze.
"Apakah kau seorang anak kecil melakukan permainan?" protes Hui tu.
"Apakah kau tidak pernah kecil sehingga tidak menyukai permainan?" balas Ze.
"Atau kau takut kalah jika ikut dalam permainan? " tambahnya menantang Hui tu.
"Aku tidak pernah takut." ucap Hui tu.
"Baiklah, kalau begitu kita sepakat untuk melakukan permainan. Kita akan bertaruh siapa saja yang menang dapat meminta apapun dari yang kalah tanpa boleh di tolak." putus Ze.
"Baik setuju." saut Hui tu.
"Kalian bertiga bagaimana?" tanya Ze pada Jin hu, Huo nan dan Zili sambil melemparkan tatapan mata seperti sedang mengancam.
"Tentu setuju." saut Huo nan.
__ADS_1
"Apapun yang diinginkan istri maka suami akan turuti." ucap Jin hu.
"Tidak ada kata tidak untuk keinginan anda yang Mulia." saut Zili.
"Apa permainannya?" tanya Hui tu.
"Kita masing-masing akan menyembunyikan 3 buah bendera lalu kemudian mencari bendera dari lawan. Yang mendapatkan bendera paling banyak adalah pemenang yang berhak mengajukan permintaan atau perintah pada semua yang kalah tanpa bantahan sedikitpun." ucap Ze.
"Bukankah jika seperti itu kau akan menjadi pemenang mengingat kau memiliki mata dewa yang dapat memberikan petunjuk apapun padamu?" protes Hui tu.
"Iya, aku juga merasa jika itu tidak akan adil mengingat kemampuan kakak ipar." saut Huo nan.
"Tapi, apa itu mata dewa? Apakah sebuah artepak yang sangat berharga?" tanya Huo nan.
"Kemampuan untuk dapat melihat kebenaran apapun yang tersembunyi di manapun termasuk dalam hati sekalipun." jawab Hui tu.
"Aku bukan orang bodoh menggunakan mata dewa hanya untuk hal sepele. Mata dewa menyerap terlalu banyak energi yang dapat membuat aku melemah jika terlalu sering menggunakannya." ucap Ze.
"Baiklah, mana bendera yang akan digunakan?" tanya Hui tu.
Ze mengeluarkan 15 buah bendera kecil seukuran jengkal dengan 5 warna berbeda. Ze mengambil warna putih, Jin hu hijau, Huo nan biru, Hui tu hitam dan Zili warna kuning.
"Kita akan masing-masing menyembunyikan setiap bendera milik kita dan kembali berkumpul di tempat ini. Setelah itu kita akan berpencar kembali untuk mengambil bendera milik lawan dan kembali berkumpul untuk menentukan siapa pemenang diantara kita." jelas Ze.
"Mengapa aku harus mengikuti permainan kekanak-kanakan seperti ini." gumam Hui tu.
"Tidak ada kata mundur setelah setuju kakek tua." ucap Ze.
Mereka akhirnya berpencar untuk mencari tempat persembunyian yang sulit untuk ditemukan untuk bendera masing-masing.
"Kau harus membantuku menemukan bendera mereka roh pedang." ucap Ze.
"Mengapa kau membuat permainan konyol dan melibatkan aku untuk berbuat curang?" protes roh pedang.
"Aku sangat ingin mengerjai mereka tapi tidak memiliki cara untuk memaksa mereka melakukan hal itu jika tidak melakukan taruhan seperti ini." jawab Ze.
"Ayolah bantu aku." pinta Ze.
"Baiklah." pasrah roh pedang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Hayoo ada yang bisa tebak gak Ze mau melakukan keusilan apa pada 4 orang itu?
Apakah Ze akan menang atau akan jadi senjata makan tuan?