
Wen yuan mengernyit bingung melihat kehadiran istrinya itu di tengah keluarga dari istri tuannya itu.
"Mengapa Sie li ada di dalam ruangan ini bersama nyonya? Apakah tanpa sengaja aku membuat istriku ini sakit hati dan sekarang aku akan dihukum oleh nyonya?" batin Wen yuan yang mulai was-was dengan maksud panggilan Ze untuknya.
"Ah lihatlah, suamimu yang sangat tidak perhatian dan perduli pada istrinya itu telah tiba." ucap Luo yin yang pertama menyadari kehadiran Jin hu dan Wen yuan.
"Apakah yang nenek maksud itu aku?" tanya Jin hu yang terkejut mendengar ucapan sambutan dari Luo yin.
"Hm?" Luo yin bingung dengan pertanyaan Jin hu.
"Bukankah yang dipanggil oleh Ze adalah Wen yuan?" tanya Ji liu ku.
"Iya." jawab Jin hu.
"Maka kata sambutan itu untuk dia." ucap Liu ku berusaha untuk membantu agar Jin hu tahu bahawa masalah dia dan Ze belum sampai ke telinga keluarganya agar masalah mereka dapat mereka sendiri yang urus. Terlebih itu bukanlah masalah yang besar menurut Liu ku.
"Oh, aku pikir itu aku karena aku juga baru masuk ke dalam ruangan ini." ucap Jin hu sedikit lega karena tidak akan dihakimi untuk saat ini.
Berbanding terbalik dengan Jin hu yang merasa lebih tenang, Wen yuan sudah merasa tidak nyaman karena mengira akan mendapatkan hukuman berat dari Ze. Bahkan keringat sudah membasahi kening dan telapak tangannya sudah dingin karenanya.
"Mohon maaf nyonya, apakah aku melakukan sebuah kesalahan?" tanya Wen yuan lirih.
"Sangat salah." ucap Luo yin sengaja membuat Wen yuan gelisah sebelum mendengar berita baik untuk dirinya.
"Ibu." Mei yin kasihan melihat wajah ketakutan Wen yuan dan hendak mengatakan yang sebenarnya namun terhenti saat mendapat tatapan peringatan dari sang ibu yang kumat jahilnya.
"Ap....."
__ADS_1
"Bagaimana mungkin seorang suami yang baik dapat tidak tahu bahwa istrinya hamil. Kau bahkan tidak membawanya untuk diperiksa oleh tabi dan memilih untuk bekerja." ucap Luo yin lagi disertai senyuman bahagia.
"Itu bukan salahnya nenek, aku sendiri yang menolak untuk ditemani karena merasa bahwa diriku baik-baik saja." bela Sie li.
Sie li sudah terbiasa memanggil kakek nenek pada tuan besar dan nyonya besar Shi, bibik pada Mei yin dan paman pada Liu ku atas perintah mereka semua. Wen yuan diam membisu karena masih belum mencerna dengan baik ucapan Luo yin.
Setelah cukup lama mematung Wen yuan langsung berlari ke arah isterinya dengan air mata haru sudah membasahi pipinya. Dia langsung berlutut di depan sang istri yang sedang duduk di kursi.
"A aku a kan menjadi a yah?" ucapnya dengan senyuman bahagia namun air mata terus mengalir dari matanya.
Sie li mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan sang suami air matanya pun sudah mengalir tanpa dia sadari.
"Terima kasih." ucap Wen yuan sambil menyentuh dengan lembut perut sang istri.
"Terima kasih sayang." ucapnya lalu bangkit dan mengecup kening sang istri.
"Jangan pikir bahwa kau akan lolos dari hukuman. Kau jangan menganggap aku akan lupa dengan kesalahan yang kau lakukan karena ikut bahagia mendengar kabar baik dari mereka." bisik Ze dengan senyuman yang penuh arti membuat Jin hu menelan ludahnya dengan susah.
"Setelah urusanmu selesai di istana kau harus menemui aku di kediaman Phoenix untuk menerima hukuman yang pantas." tambahnya.
"Baik sayangku. Apapun akan aku lakukan asal kau tidak lagi marah padaku." ucap Jin hu.
"Apa yang kalian bicarakan berdua dengan berbisik?" tegur Luo yin.
"Bukan apa-apa nek." saut Ze.
"Kalian kapan memberikan kabar baik untuk kami juga?" tanya Luo yin.
__ADS_1
"Biarkan mereka menikmati masa awal pernikahan dengan tenang. Jangan menuntut agar memberikan kita cicit dulu sayang." ucap Jeong nam yang melihat wajah canggung Ze menerima pertanyaan itu.
"Tapi...."
"Biarkan semua berjalan dengan perlahan. Mereka juga perlu waktu yang tepat untuk itu. Sekarang ini, sangat tidak aman untuk Ze mengandung juga. Yah walaupun kita akan melindunginya dengan cara apapun jika dia hamil ditengah banyaknya masalah yang ada." ucap Jeong nam lagi.
"Apa yang ayah katakan ada benarnya juga. Kita pasti akan melihat Ze dan Jin hu junior saat waktunya tepat." saut Mei yin.
"Kalian memang benar. Maaf sayang, nenek tidak berniat untuk memberikan tekanan kepada kalian." ucap Luo yin.
"Nenek tidak salah, sudah sewajarnya nenek menanti kabar itu dengan tidak sabar mengingat bahwa aku adalah cucu tunggal kalian saat ini. Tapi,...."
"Tidak perlu dipikirkan, semua akan terjadi pada masanya. Untuk saat ini masa kalian untuk menangani berbagai masalah dan saat waktu untuk kabar baik itu datang kalian pasti akan memberikan kabar baik itu pada kami." ucap Liu ku memotong ucapan sang anak.
"Kalian tidak perlu merasa tidak enak dengan kabar baik kalian itu. Aku justru merasa sangat bahagia mendengar kehamilan Sie li." ucap Ze yang melihat wajah sendu Sie li.
"Ayo kita makan saja sebelum makanan ini dingin. Kau harus makan dengan baik untuk calon keponakanku." ajak Ze sambil memberikan peringatan kepada Sie li agar memperhatikan makannya.
Mereka makan dalam diam setelah itu. Ze memberikan resep ramuan herbal untuk Wen yuan cari. Ramuan untuk menguatkan kandungan isterinya juga agar daya tahan tubuh Sie li lebih baik.
...----------------...
Di persidangan
Di ruangan itu sudah ada Jin hu beserta para tetua dan pejabat istana yang Jin hu panggil untuk membahas masalah tawaran kerajaan negeri lain. Jin hu sebenarnya tidak ingin ambil pusing dengan mengurusi masalah yang hanya butuh kata tidak dia sudah dapat menghentikan rencana untuk kerjasama melalui pernikahan itu.
Jin hu hanya ingin mencegah agar nantinya tidak ada yang berani mengusik Ze dengan menyebutkan masalah itu di depan istrinya itu. Apa lagi ada yang berani menyarankan agar Ze menerima usulan itu demi kepentingan rakyat atau apapun itu. Jin hu tidak ingin ambil resiko membuat istrinya sakit hati ataupun pusing memikirkan hal itu.
__ADS_1
Dia lebih memilih menghabisi langsung orang yang berani memberikan saran untuk menyetujui kerja sama itu. Jika pun akan ada perjodohan itu bukan untuk dirinya. Jika para raja itu tidak keberatan, dia ingin menunjuk pejabat atau anak pejabat yang menerima perjodohan itu.