
"Ayolah, demi persaudaraan kita dan demi putrimu yang lainnya. Bukankah dia juga bukan putri kandungmu, dia lahir dari pernikahan pertama istrimu?" bujuk tuan Wu jin.
"Aku tidak perduli dari mana anda mendapatkan berita tentang pernikahan aku yang baru terjadi dan mengenai status putriku. Tapi, Ze bukanlah putri angkat ataupun tiri. Dia adalah putri kandungku, darah dagingku dan akan aku lakukan apapun untuk kebahagiaan dirinya termasuk mengakhiri hubungan apapun dengan siapapun di dunia ini." ucap Liu ku lalu berdiri dengan wajah menahan amarah.
"Aku masih menganggap hubungan kita sebelumnya sehingga aku menahan diri tidak menghancurkan dirimu yang berniat merusak kebahagiaan putriku. Tapi, lain kali kita bertemu dan kau masih memiliki niat itu dan mengungkapkan padaku, bersiaplah untuk berakhir di tanganku." ucap Liu ku lagi lalu pergi.
Setelah Liu ku pergi, ayah dan putrinya itu baru bisa bernapas lega karena Liu ku menekan mereka menggunakan tenaga dalam agar tidak mendengar alasan apapun lagi dari mereka yang akan membuat dirinya tidak tahan untuk mengakhiri hidup keduanya.
Walaupun Liu ku adalah adik seperguruan tuan Wu jin, karena pesatnya perkembangan pencapaian Liu ku, dia lebih kuat dari kakak seperguruan nya itu.
"Uhuk uhuk uhuk." Mereka berdua menghirup udara dengan rakus setelah beberapa saat tidak bisa bernapas akibat tekanan yang kuat dari Liu ku.
"Bagaimana ini ayah? Paman Ji tidak setuju dengan usulan ayah bahkan memutuskan hubungan dan mengancam ayah demi wanita tidak berguna itu." keluh Sia wu dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya.
"Ayah tidak menyangka dia yang biasanya akan melakukan apapun yang aku minta karena menganggap aku adalah saudara kini memutuskan hubungan tanpa berpikir panjang. Ayah tidak mengerti bagaimana bisa wanita itu menjadi putri kandung dari Liu ku." ucap tuan Wu jin sambil memegang dadanya yang masih terasa sesak.
"Apakah mungkin paman Ji selingkuh dengan saudara iparnya itu sehingga melahirkan anak haram? Itulah sebabnya kini mereka menikah setelah mendiang istrinya meninggal." tebak Sia wu.
"Itu sepertinya tidak mungkin, ayah sangat tahu seberapa besar Liu ku mencintai istrinya bahkan sampai rela mengorbankan hidupnya untuk keselamatan mendiang istrinya itu." ucap tuan Wu jin.
"Lalu bagaimana dengan aku sekarang ayah? Aku tidak akan pernah mau menikah jika bukan dengan Jin hu." ucap Sia wu.
"Tenang sayang, ayah akan memikirkan cara untuk mewujudkan impian dirimu itu." ucap tuan Wu jin sambil memeluk putrinya yang sudah menangis.
...----------------...
Di istana atas awan
Setelah mempersilahkan tamu mereka istirahat di tempat yang telah disiapkan pelayan, Ze dan keluarganya tengah berkumpul di kediaman kakek dan neneknya untuk menjelaskan masalah Hui tu karena Luo yin sang nenek sudah tidak sabar ingin tahu apa yang Ze sebut rahasia itu.
"Sekarang jelaskan pada kami." ucap Luo yin.
"Huft, baiklah aku akan cerita. Tapi, sebelum bercerita, aku ingin agar tidak ada yang menjeda karena aku akan malas untuk kembali melanjutkan cerita setelah terjeda." ucap Ze.
__ADS_1
"Baik, kami akan diam mendengar hingga akhir ceritamu." ucap Luo yin semangat diangguki oleh yang Mei yin dan Jeong nam sedang Jin hu hanya diam duduk di sebelah Ze sambil tangannya memainkan ujung rambut Ze.
"Hui tu sebenarnya adalah jiwa dari kaisar Si hui tu yang melegenda karena cerita tentang kerajaan besar yang mendapatkan kutukan menjadi hutan misteri." ucap Ze memulai cerita.
"A mmm." Luo yin yang ingin bertanya dibekap mulutnya oleh suaminya.
"Sayang, ingat jika masih ingin mendengar lanjutan cerita dari cucumu kau harus menahan keinginan untuk bertanya dan menyela ceritanya." bisik Jeong nam.
"Aku lupa." ucap Luo yin setelah Jeong nam melepaskan tangannya dari mulut sang istri.
Jeong nam hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kekonyolan istri kesayangannya.
Ze berlanjut menceritakan bagaimana dia bertemu pertama kali dengan Hui tu yang dalam bentuk telur dan bagaimana Hui tu menemukan tubuh yang sesuai dengan jiwanya tentunya tanpa menyebutkan tentang darahnya karena rahasia tentang darahnya adalah hal yang tidak baik jika banyak orang yang mengetahuinya.
Ze juga menceritakan bagaimana Hui tu menjadi telur dan menceritakan tentang pertemuan dengan keluarga Si tanpa menyinggung soal pertemuannya dengan tuan Wu jin.
Ze sangat yakin bahwa ayahnya tidak akan menceritakan masalah apapun kepada kakek, nenek dan ibunya agar mereka tidak khawatir berlebihan. Tidak lupa Ze juga menceritakan masalah Yang ruo dan bagaimana dia bisa ikut ke istana atas awan.
"Aku berharap kalian tidak ada yang mengungkit masalah keluarga Yang ruo ini agar dia bisa melupakan masalah itu. Setidaknya agar dia tidak merasa malu karena keluarga yang bobrok seperti itu." ucap Ze mengakhiri ceritanya.
"Iya, aku tidak menyangka akan ada orang yang sekeji itu." ucap Mei yin.
"Jika kau lupa, keluarga An jauh lebih keji dari mereka." ucap Luo yin.
"Sudahlah, jangan mengungkit manusia berhati iblis seperti mereka." ucap Jeong nam.
"Aku berharap kalian dapat menerima Yang ruo dalam keluarga ini. Dia anak yang baik dan berbakat yang sangat sayang jika hanya hidup di antara orang serakah dan picik." ucap Ze.
"Yang ruo adalah keluarga kita sekarang seperti Hui tu, Xiao wang dan cece." ucap Luo yin.
"Ya, apalah arti hubungan darah itu jika tidak saling mengerti, menghargai, menjaga dan saling menyayangi. Kita akan tunjukkan arti keluarga yang sesungguhnya pada anak baik yang malang itu mulai saat ini." ucap Jeong nam.
"Kalian memang yang terbaik. Aku beruntung karena memiliki kalian sebagai keluarga yang selalu ada di sisiku apapun yang terjadi." ucap Ze tulus.
__ADS_1
"Kami yang beruntung memiliki dirimu sayang." ucap Luo yin sambil memegang pipi Ze.
"Kau dan suamimu pasti lelah karena perjalanan yang cukup jauh. Sebaiknya kalian istirahat sejenak." ucap Jeong nam.
"Baik kakek, kami memang butuh istirahat karena besok harus kembali melakukan perjalanan menyusul Hui tu yang sedang melakukan sebuah tugas di luar sana." ucap Ze.
"Kau sudah akan pergi lagi?" tanya Luo yin dan Mei yin bersamaan.
"Kami harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan nyawa orang yang tidak bersalah dan demi dua bayi dari keluarga Ouyang itu nek, ibu." ucap Ze.
"Biarkan mereka melakukan hal yang menurut mereka baik. Jika mereka tidak melakukan sesuatu, kasihan dua bayi itu jika setiap saat harus dibayangi oleh bahaya dari orang-orang yang mengincar mereka." ucap Jeong nam.
"Baiklah, istirahatlah." pasrah Luo yin akhirnya.
Ze dan Jin hu akhirnya pergi ke kediaman mereka sendiri untuk istirahat. Mereka tidur siang dengan Jin hu memeluk tubuh Ze.
...----------------...
Di tempat Hui tu
Hui tu memutuskan untuk memeriksa gua tempat markas awal kelompok yang menamakan diri mereka klan Merak api itu.
"Sepertinya itu gua yang para pengawal bayi itu ceritakan." gumam Hui tu setelah melihat sebuah gua yang cukup besar di dalam hutan.
"Apakah mereka semua sudah memindahkan markas mereka ke kediaman keluarga Ouyang?" gumam Hui tu setelah mendekati gua dan ternyata tidak ada yang berjaga di sekitar gua itu.
"Aku akan memeriksa isi dari gua ini terlebih dulu. Siapa tahu aku dapat menemukan sebuah petunjuk dari sini." ucapnya lagi lalu berjalan perlahan memasuki gua yang tampak sangat sepi itu.
Hui tu memasuki gua perlahan, semakin berjalan ke dalam indra penciuman Hui tu menangkap bau busuk yang semakin tajam menusuk hidung.
"Apakah gua ini mereka gunakan sebagai pemakaman massal dari para korban mereka?" tanya Hui tu berupa gumaman setelah melihat ada banyak mayat dengan tubuh terkoyak saling bertumpuk di dalam gua itu.
Gua itu dipenuhi dengan tulang belulang manusia dan beberapa jasad yang sudah membusuk. Kebanyakan dari mayat itu adalah mayat seorang gadis yang masih muda dilihat dari bentuk tubuh mereka yang kecil.
__ADS_1
Selamat membaca 😊