Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Putri kerajaan lain


__ADS_3

Jin hu ingin menjelaskan alasan dia pergi tanpa menunggu persetujuan Ze waktu itu namun dia teringat pesan ayah mertuanya.


"Biarkan Ze tenang dulu lalu meminta maaf padanya tanpa menyertakan alasan apapun yang membenarkan apa yang kau lakukan. Biarkan dirimu menjadi orang yang salah dengan begitu, dia setidaknya akan luluh."


"Wanita paling tidak suka saat orang yang mereka anggap salah tidak mau menerima saat disalahkan atau menerima dianggap salah tapi menggunakan alasan agar kesalahannya dibenarkan. Jika kau ingin masalah tidak semakin membesar, terima kesalahan tanpa harus menyertakan alasan."


"Maafkan aku istriku sayang, aku memang salah karena mengabaikan keselamatan aku dan membuat dirimu khawatir. Tidak ada alasan untuk membenarkan tindakan yang aku lakukan sebelumnya maka hukum saja suamimu ini. Aku tidak akan mengulanginya lagi jika hal yang sama terulang lagi." ucap Jin hu pada akhirnya.


"Bagus jika kau tahu bahwa kau telah bersalah. Tapi, kau tetap harus melakukan hukuman." ucap Ze yang sudah sedikit berkurang marahnya mendengar pengakuan Jin hu.


"Apapun hukumannya asal bukan jauh darimu sayang." ucap Jin hu dengan tersenyum.


"Ternyata saran ayah sangat berguna. Aku pikir mungkin ibu mertua dulu sama seperti Ze yang keras dan tidak ada ampun jadi ayah dapat memberikan saran yang tepat menangani amarah Ze." batin Jin hu.


"Setelah kau menyelesaikan masalah istana ini dan masalah gadis-gadis yang dikirim untukmu itu, kau harus terus berada di dalam batu dimensi untuk bertapa dan belajar jurus ilusi. Kau tidak aku ijinkan keluar dari batu dimensi hingga energi di dalam tubuhmu stabil dan kau harus menguasai seluruh jurus dalam kitab jurus ilusi yang akan aku berikan padamu nanti." putus Ze.


Senyum di bibir Jin hu menghilang seketika saat mendengar hukuman dari Ze. Itu sama halnya dia tidak akan berjumpa Ze dalam waktu yang sangat lama baginya.


"Sayang, bukankah itu sama halnya aku tidak bisa melihat dirimu dan berada di dekatmu dalam waktu yang sangat lama?" tanya Jin hu.


"Itu tidak benar. Kau memang tidak dapat melihat aku selama hukuman tapi kau tetap di dekatku karena batu dimensi selalu aku bawa bersamaku kemanapun dan kapanpun. Kalau masalah waktu, itu tergantung usahamu menguasai jurus dan mengendalikan energi didalam tubuhmu." jawab Ze.


"Aku lebih ingin menerima hukuman cambuk dari pada tidak melihat dirimu sayang." ucap Jin hu.


"Aku tidak akan tega membuat tubuhmu terluka dan kau tidak akan jera jika hanya hukuman cambuk. Jika kau masih mengulang kesalahan yang sama, maka kau akan aku kirim untuk bertapa di dunia atas agar jauh dariku lebih lama." ancam Ze.


"Tapi,....."


"Atau kau ingin hukuman itu sekarang? Aku bisa memanggil Zili sekarang juga jika kau mau." ancam Ze.


"Tidak sayang, baiklah aku akan menjalani hukuman yang pertama saja. Tapi,..." ucap Jin hu sembari tersenyum menatap Ze.

__ADS_1


"Tapi apa?" tanya Ze waspada melihat senyuman aneh suaminya.


"Kau sudah berjanji saat kita hanya berdua saja, aku bebas melakukan apapun bukan?" ucap Jin hu.


"Lalu?" tanya Ze.


"Aku menginginkan dirimu sekarang." bisik Jin hu.


"Apa kau gila? Ini ruangan persidangan." ucap Ze terkejut.


"Aku memang sudah gila karena dirimu sayang. Bukankah kau tidak menyebutkan bahwa tidak ingin melakukan di tempat tertentu? Kau hanya mengatakan bahwa aku bebas menginginkan itu saat kita hanya berdua." ucap Jin hu lagi sambil menyentuh pelan pipi Ze.


"Tap.....mmmmm mmmmmm" Jin hu sudah tidak membiarkan Ze protes dengan membungkam bibir Ze dengan bibirnya.


Ciuman lembut Jin hu akhirnya dibalas oleh Ze mengingat dia memang menjanjikan itu. Mereka terhanyut dalam permainan panas tanpa perduli dengan mereka yang berdiri di luar ruangan.


"Akh...."


"Astaga, mereka memang pasangan gila." ucap Liu yu kesal karena mendengar desahan Ze dan Jin hu di depan pintu masuk karena dia bertugas menjaga pintu agar tidak ada yang masuk.


"Ah uh ahhh hmmm pel ah anh uh." desahan Ze membuat beberapa orang yang mendengarnya terkejut dan wajah mereka memerah karena malu dengan suara itu terutama para pelayan wanita.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum otak kalian terganggu dengan suara di dalam sana dan yang tinggal tutup telinga kalian." ucap Liu yu.


"Apakah mereka tidak bisa menunggu malam untuk melakukan itu? Atau paling tidak pindahlah ke kamar kalian sendiri agar tidak menyiksa orang-orang." gerutu Liu yu yang wajahnya juga sudah merona karena malu mendengar suara desahan dari dalam ruangan yang dia jaga.


Para pelayan wanita sudah pergi dari tempat itu sedangkan mereka yang masih berjaga termasuk Liu yu hanya mampu pasrah disuguhi suara yang membuat mereka merinding.


"Nasibmu Liu yu, sungguh tragis memiliki tuan dengan kepekaan nol. Bahkan mereka tidak malu membiarkan orang lain mendengar aksi ranjang mereka." gerutu Liu yu.


Mereka cukup lama mendapatkan siksaan mendengarkan suara horor bagi mereka itu hingga akhirnya Jin hu keluar dari ruangan dan memanggil Liu yu.

__ADS_1


"Liu yu...!" panggil Jin hu dengan senyum kemenangan di bibirnya.


"Ya tuan?" tanya Liu yu.


"Ambilkan aku selimut di kamarku segera." ucap Jin hu.


"Baik tuan." saut Liu yu lalu segera pergi melaksanakan tugas. (Wen yuan dan Liu yu hanya memanggil tuan di luar persidangan karena perintah Jin hu)


"Kau keluar dengan wajah berseri tanpa malu menunjukkan bahwa kau telah melakukan itu dengan istrimu. Sedangkan kami harus pura-pura tidak tahu apa yang kalian lakukan." keluh Liu yu sambil berjalan cepat mengambil dan membawa selimut untuk Jin hu.


"Tok tok tok." Liu yu mengetuk pintu karena tidak berani untuk langsung masuk ke dalam ruang persidangan takut melihat hal yang tidak boleh dia lihat.


Jin hu membuka sedikit pintu dan segera meraih selimut tanpa menunggu Liu yu mengatakan apapun dia kembali menutup pintu.


Benar saja keputusan Liu yu untuk tidak langsung masuk karena Ze saat ini tengah tertidur karena lelah dengan tubuh polos dan hanya ditutupi oleh jubah Jin hu.


Jin hu tersenyum melihat Ze menyelimuti seluruh tubuh Ze lalu mengangkat dan membawa Ze kembali ke kediaman mereka agar Ze dapat tidur dengan nyaman di atas kasur.


"Kau pasti kelelahan. Maaf sayang karena aku tidak mengontrol diriku saat bersamamu." ucap Jin hu lalu mengecup kening Ze.


"Segeralah hadir kehidupan baru yang akan memberi warna baru dalam hubungan kami." ucap Jin hu di depan perut Ze lalu mencium perut rata istrinya itu.


...----------------...


Di luar istana beberapa rombongan telah tiba dan tidak bisa masuk ke dalam tabir.


"Ada apa ini? Mengapa tamu istana tidak bisa melewati tabir?" tanya seorang pengawal.


"Mungkin karena yang mulia tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam kecuali penduduk asli." jawab rekannya.


"Sebaiknya kita laporkan saja dulu pada pemimpin dan bertanya apakah kita harus melapor pada orang di istana." saran pengawal yang lainnya.

__ADS_1


"Ya, para putri ini adalah putri dari istana kerajaan besar. Kita tidak bisa membuat mereka menunggu terlalu lama."


__ADS_2