
Tapi, mengingat walaupun pikiran putri Yin ying masih seperti anak kecil mengingat putri Yin ying tetap sudah tidak layak hidup dengan pria lain tanpa status bagaimana dengan menikahkan mereka saja?" tanya Ze membuat Huo nan terbatuk.
"Kakak ipar tap...
"Aku hanya tidak ingin kau melakukan kesalahan dan menjadi pria breng*ek nantinya." ucap Ze.
"Apakah kau tidak memiliki rasa kasihan pada putri Yin ying itu?" tanya Ze.
"Baiklah, jika keluarga dari putri Yin ying tidak keberatan aku akan menuruti keinginan kakak ipar." ucap Huo nan sambil melihat wajah tersenyum putri Yin ying yang menatap ke arahnya.
Ibu dari putri Yin ying menatap putrinya yang tersenyum sambil terus menatap wajah Huo nan yang kini juga tersenyum ke arahnya.
"Bisakah orang tua ini berbicara sebentar dengan putrinya?" tanya ibu Yin ying.
"Tentu, anda adalah ibunya. Tidak ada yang memiliki hak melarang anda untuk berbicara dengan dia." ucap Ze.
"Yin ying sayang, ikut ibu sebentar ya?" pinta lembut ibu Yin ying.
"Tapi Yin kecil mau sama kakak tampan." tolak putri Yin ying dengan wajah cemberut.
"Kau pergilah sebentar bersama ibu mu. Kau tidak ingin ibu mu bersedih karena kau menolaknya bukan?" bujuk Huo nan.
"Tapi....
"Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku akan disini menunggu mu." ucap Huo nan membuat Yin ying mengangguk pasrah.
"Yin ying sayang, apakah kau ingin tinggal bersama dengan putra mahkota Beicheng itu?" tanya ibu Yin ying.
"Tidak, Yin hanya ingin tinggal bersama kakak tampan saja tidak mau dengan putra kota itu. " ucap putri Yin ying.
"Mahkota sayang, bukan putra kota." ucap ibu Yin ying menerangkan sambil tersenyum.
"Tidak perduli, Yin hanya ingin bersama kakak tampan saja." ucap putri Yin ying dengan wajah cemberut.
"Kakak tampan yang Yin sebutkan adalah putra mahkota kerajaan Beicheng. Apakah kau ingin tinggal bersama dia?" tanya ibu Yin ying lagi.
"Iya, Yin mau terus bersama kakak tampan." ucap putri Yin ying girang.
"Tapi, jika Yin ingin tinggal bersama kakak tampan itu, Yin akan pergi dari tempat ini dan selamanya akan tinggal di istana miliknya." ucap ibu Yin ying.
__ADS_1
Putri Yin ying terdiam sejenak seolah sedang berpikir.
"Apakah tidak bisa kakak tampan saja yang tinggal di sini menemani Yin?" tanya putri Yin ying.
"Dia adalah seorang putra mahkota yang memiliki tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Yin harus memilih, tetap di sini dengan ibu atau ikut dengan putra mahkota dan tetap tinggal bersama dia selamanya." ucap ibu Yin ying.
"Di sini menyeramkan, Yin tidak ingin di sini. Yin hanya ingin bersama kakak tampan saja." ucap putri Yin ying.
"Baiklah, ibu akan tanya pada putra mahkota apakah Yin dapat ikut dengan putra mahkota." ucap ibu Yin ying.
"Ibu yang terbaik." ucap girang putri Yin ying.
Sementara di luar ruangan Ze mengejek Huo nan yang terus tersenyum setelah kepergian putri Yin ying dengan ibunya.
"Khem aku baru tahu kalau selera Huo nan itu gadis kecil yang masih sangat polos." ucap Ze membuat Huo nan memudarkan senyum nya.
"Jangankan dirimu, aku yang mengenalnya sejak kecil pun baru tahu selera Huo nan seperti itu." ucap Jin hu.
"Oh, itulah mengapa kau menjodohkan mereka langsung?" tanya Hui tu.
"Ya, dari pada dia nanti mengambil keuntungan dari kepolosan gadis itu lebih dulu. Lebih baik aku buat gadis itu menjadi miliknya saja agar dia tidak menjadi pria breng*ek." jawab Ze.
Sementara 3 orang itu tengah asik bercerita, Huo nan terdiam dengan wajah memanas karena malunya. Dia tidak menyangka bahwa kakak iparnya akan menangkap basah dirinya yang memang tidak tahan melihat wajah memelas putri Yin ying yang tampak menggemaskan itu baginya.
"Kakak ipar, aku tidak tertarik pada putri Yin ying seperti pria ke wanita. Aku hanya merasa gemas saja melihat tingkah kekanak-kanakan seperti itu." bantah Huo nan.
"Oh, apakah artinya aku salah sangka? Sebaiknya aku bicarakan ulang mengenai rencana perjodohan kalian sebelum menjadi bencana jika ada yang sakit hati." ucap Ze berpura-pura percaya pada sangkalan Huo nan.
"Jangan kakak ipar.... Eh maksud.....
"Aku hanya bercanda Huo nan, walaupun kau menyangkal apa yang aku ucapkan, aku tidak akan membatalkan ucapanku karena itu akan menyakiti orang lain." ucap Ze.
"Jangan berusaha menyangkal perasaanmu sendiri. Apa lagi kalau kau menyangkal dengan menghindari dia. Pegang ucapanku ini jika kau melakukan itu, kau akan menyesal di kemudian hari." ucap Ze lagi membuat Huo nan terdiam.
"Istriku tidak sedang menggurui mu. Apa yang dia ucapkan tidak lebih karena dia menganggap dirimu keluarga dan orang yang dia pedulikan walaupun aku tidak suka mengakui istriku perduli padamu." ucap Jin hu.
"Kakak ke 2, apakah kau ini sedang menunjukkan rasa peduli padaku atau kau ingin menunjukkan kepemilikan terhadap kakak ipar?" protes Huo nan.
"Keduanya benar." jawab Jin hu.
__ADS_1
Belum sempat Huo nan kembali memprotes kakak seperguruan nya itu, putri Yin ying dan ibunya sudah keluar dari ruangan. Putri Yin ying langsung kembali bergelayut manja pada lengan Huo nan.
"Bagaimana bibi? Apakah tidak masalah jika aku memanggil anda dengan sebutan bibi?" tanya Ze.
"Saya sungguh tersanjung jika yang mulia memanggil bibi." ucap ibu Yin ying.
"Sebagai seorang ibu walaupun tidak ingin lagi berpisah dengan putriku, demi kebahagiaan Yin ying aku bisa saja memberikan ijin untuk Yin ying menikah dan ikut dengan putra mahkota. Tapi,....." ucap ibu Yin ying ragu untuk meneruskan ucapannya.
"Tapi apa bibi?" tanya Huo nan spontan membuat Ze, Jin hu dan Hui tu tersenyum sambil melirik ke arahnya seolah mengejeknya.
"Sebagai putra mahkota tentu orang tua anda mengharapkan menantu yang dapat diandalkan dan memiliki banyak nilai lebih. sedangkan Yin ying ku anda lihat sendiri, tidakkah anda akan malu jika menikah dengan gadis dewasa dengan tingkah layaknya anak kecil?" tanya ibu Yin ying.
"Aku paham dengan kekhawatiran bibi. Tapi, dalam mengambil keputusan soal memiliki pendamping itu berada di tanganku. Karena aku tidak tertarik memiliki hubungan, ayahanda akan terima pasangan yang aku bawa asalkan itu seorang wanita." jelas Huo nan.
"Bagaimana bibi?" tanya Ze.
"Apakah orang lain tidak akan mengajukan protes jika calon permaisuri mereka bersipat kekanak-kanakan seperti Yin ying?" tanya ibu Yin ying.
"Begini saja, bagaimana jika pernikahan mereka tidak diadakan secara besar-besaran dulu. Kondisi putri Yin ying tidak akan selamanya seperti ini, akan tiba saatnya kondisinya akan menjadi normal. Saat itu terjadi baru kita adakan pesta meriah." tawar Ze.
"Bagaimana bisa seorang putra mahkota menikah tanpa acara meriah?" tanya pelayan dari ibu Yin ying.
"Kakak ke 2 dan kakak iparku menikah tanpa pesta meriah sedangkan mereka adalah raja dan ratu. Mereka tetap baik-baik saja." ucap Huo nan.
"Ampuni mulut pelayan tua ini yang mulia. pela.....
"Tidak perlu khawatir, setiap orang wajar memiliki pikiran yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kita tidak saling mengusik saja walaupun berbeda prinsip." ucap Ze.
"Pemikiran seorang ratu memang tidak pernah salah. Ratu selalu memiliki banyak pertimbangan setiap melakukan sesuatu." puji ibu Yin ying.
"Anda terlalu memuji. Aku hanya mengutarakan apa yang aku pikirkan saja bibi." ucap Ze.
"Jadi, kita akan membawa putri Yin ying pulang sekarang atau kembali dulu ke istana Beicheng untuk memberitahu pada paman Rui soal rencana pernikahan kalian?" tanya Ze pada Huo nan.
"Sepertinya kita tidak bisa meninggalkan putri Yin ying, lihat saja wajahnya sudah terlihat menyedihkan hanya karena kau menyebutkan masalah kita kembali ke istana Beicheng." ucap Hui tu.
"Apakah tidak masalah bibi jika kami membawa putri Yin ying? Aku akan berjanji selama mereka belum resmi menikah, putri Yin ying akan menjadi tanggung jawabku." ucap Ze.
"Baiklah, bibi percayakan Yin ying padamu." ucap ibu Yin ying.
__ADS_1