
"Sudah berapa lama mereka memasuki desa ini?" tanya Ze.
"Mereka sudah berada di desa ini selama 15 hari dan tepat hari pertama mereka memasuki desa ini, mereka memangsa sekitar 6 orang warga." jawab pemuda itu.
"Siapa namamu?" tanya Hui tu.
"Namaku adalah Guang margaku adalah Rui." jawab Guang.
"Seluruh penghuni asli desa ini hanya memiliki satu suku kata untuk nama kami. Selebihnya hanya marga dari keturunan keluarga kami." jelas Guang melihat wajah berkerut Ze.
"Di mana warga yang lainnya berada?" tanya Ze.
Guang menatap ragu pada Ze mendengar pertanyaan dari Ze. Ze yang sadar dengan maksud tatapan Guang itu kembali bersuara.
"Aku hanya ingin memberikan segel pelindung di sekitar mereka bersembunyi. Aku khawatir kalau kelompok itu sudah menemukan tempat persembunyian mereka. Bukankah biasanya tepat tengah hari mereka akan muncul di sini? Lalu kemana mereka sekarang?" jelas Ze.
Guang tampak sedang berpikir lalu membelalakkan matanya berpikir kalau apa yang Ze katakan itu benar maka keluarganya serta warga yang lain yang sedang berada di dalam persembunyian saat ini sedang dalam bahaya.
"Tidak tidak tidak. Ku mohon jangan." ucapnya gusar lalu berlari menjauh.
Ze serta Hui tu dan Zili mengikutinya di belakang. Guang berlari dengan wajah cemas dan dengan air mata yang telah menetes tanpa dia sadari. Mulutnya terus menerus bergumam kalimat yang sama.
"Aku mohon lindungi mereka." gumamnya.
"Aaaaaaa aaaaaaa aaaaaaa toloooooong tolong." dari jauh samar-samar terdengar jeritan membuat Guang semakin mempercepat langkahnya.
Ze mendengar suara jeritan yang sama lalu merapal mantra segel pada tubuh Guang yang berlari kencang ke arah suara jeritan. Tubuh Guang tiba-tiba kaku dan seketika itu pula dia berhenti di tempatnya layaknya patung tidak bisa bergerak.
"Tetaplah di sini maka kau aman. Biarkan kami yang mengurus mereka semua." ucap Ze lalu segera berlari dengan kecepatan penuh ke arah suara jeritan itu.
Di depan sana Ze dapat melihat beberapa orang yang diseret oleh beberapa orang bertubuh tinggi besar. Seorang dari pria bertubuh tinggi besar itu mengayunkan pedang ke arah seorang warga yang berhasil dia tangkap.
"Jangaaaaaaan.......... " teriak orang itu sambil menutup matanya gemetar ketakutan.
"Duak...... " namun setelah beberapa saat orang itu tidak merasakan apapun membuat dirinya heran.
__ADS_1
Saat membuka mata yang dia lihat adalah orang yang akan memb*nuh-nya sudah terbaring di tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Kurang ajar.......!" seru rekan pria yang baru saja Ze tumbangkan dengan tendangan kearah belakang kepalanya itu.
"Seorang gadis kecil berani sekali kau melukai saudara kami dengan menyerangnya dari belakang." ucap geram yang lainnya.
Mereka sudah melepaskan orang-orang yang berhasil mereka tangkap sangking emosinya pada Ze.
"Aku akan membuat tubuhmu menjadi santapan hidup-hidup dan setiap daging di tubuhmu yang kami makan kau akan melihatnya dengan rasa sakit yang tidak tertandingi." ancam pria tinggi besar yang lain.
"Heh.... Silahkan saja jika kalian mampu melakukan itu." tantang Ze membuat mereka geram.
7 orang pria itu maju bersamaan menyerang Ze yang hanya diam di tempat sambil tersenyum sinis ke arah mereka.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria bertubuh besar itu saat mereka tidak dapat bergerak.
"Apakah gadis itu adalah seorang penyihir?" tanya yang lainnya.
"Kau..... Ternyata kau hanya menyombongkan kemampuan sihirmu saja sehingga kau berani melawan kami." ucap geram pria bertubuh besar itu pada Ze.
"Siapa bilang ini sihir?" tanya Ze dengan nada ejekan.
"Siapa juga yang memberikan kepercayaan diri pada kalian bahwa kalian akan baik-baik saja?" tanya Ze.
"Segel pelumpuh aktifkan.....!" seru Ze dan seketika itu juga tubuh beberapa pria bertubuh besar itu tumbang.
"Akh..... Bruk bruk bruk." persendian mereka seperti jeli yang tidak memiliki kekuatan menopang tubuh mereka.
"Akh mengapa seluruh tubuhku terasa lemah dan tidak dapat aku gerakkan sama sekali?" tanya salah satu pria bertubuh besar itu.
"Heh hanya orang-orang lemah ternyata. Membuang waktu saja meladeni kalian." ucap Ze.
Ze segera mengeluarkan belati miliknya dan bergerak dengan lincah menghampiri tubuh pria bertubuh besar itu.
"Sret akh... " Ze menebas leher mereka satu per satu.
__ADS_1
Tubuh pria bertubuh besar itu menggelepar di atas tanah hingga terkulai lemas dan kaku. Mereka menghembuskan napas terakhir mereka begitu saja.
"SIAPA YANG BERANI MENGHABISI ANAK-ANAK KAMI?" tanya seorang wanita bertubuh besar tinggi di sebelahnya seorang pria bertubuh besar juga sedang menatap marah ke arah tubuh pria bertubuh besar yang Ze bu*uh.
"Kalian buta? Di sini hanya aku yang memegang senjata dan senjataku ini berlumuran darah. Berarti mereka orang-orang yang tidak berguna itu ma*i di tanganku." ucap Ze santai.
"KURANG AJAR..... AKAN AKU HABISI KAU HINGGA TIDAK DAPAT BEREINKARNASI KEMBALI." ucap si pria.
Pria bertubuh besar itu mengayunkan gada besar kearah Ze. Sekilas jika dilihat dengan mata orang biasa maka tubuh Ze akan remuk jika terkena hantaman gada itu.
"Segel pelindung aktif." ucap Ze setelah merapal mantra dan menulis beberapa huruf di tanah dengan kakinya.
"Tring." gada terhenti di udara dengan suara benturan yang keras.
"Aku tidak percaya kalau aku tidak bisa melukai gadis kecil seperti dirimu." ucap si pria bertubuh besar itu.
"Tring trang tring trang." pria bertubuh besar itu terus menyerang Ze dengan gada yang terus menerus tertahan di udara.
"Membosankan, ternyata mereka hanya dapat menggunakan kekuatan fisik saja." ucap Ze.
"Siapa gadis itu? Dia berhasil mengalahkan mereka yang sangat kuat tanpa perlu bersusah payah." ucap seorang warga dengan berbisik.
"Entahlah, yang terpenting kita akan selamat jika gadis itu dapat menghancurkan mereka yang menjadikan kita seolah binatang ternak yang dapat di panen untuk di sembelih kapanpun." saut warga lainnya.
"Ya, kau benar. Semoga saja gadis itu dapat menghancurkan dua mahluk kejam yang tersisa itu." saut warga yang lain juga.
"Hm, mereka tidak pantas disebut manusia dengan kelakuan seperti itu. Menjadikan keluarga kita sebagai makanan mereka." saut seorang ibu dengan air mata mengingat anak gadisnya yang telah menjadi santapan mereka.
"Tenanglah ibu Li, kemat*an Cian dan yang lainnya akan terbalas sebentar lagi. Lihatlah mereka pasti akan ma*i seperti anak-anak mereka sebelumnya." ucap seorang wanita lain yang memenangkan wanita tua itu.
Yuhuuu Ze kembali beraksi
Maaf atas keterlambatan up nya
Kesibukan lain author membuat author tidak bisa up sebelumnya.
__ADS_1