
Ingat kelemahan pria itu ada pada kalung miliknya. Hancurkan itu." tiba-tiba sebuah suara terdengar oleh telinga Hui tu membuatnya menjadi tidak fokus dan berhasil dimanfaatkan pria itu untuk melayangkan tendangan ke arah Hui tu.
Hui tu terhempas jauh hingga memuntahkan darah dari mulutnya. Dia menelan pil regenerasi pemberian Ze lalu bangkit kembali.
Hui tu dan pria itu kembali bertarung dengan sengit. Untuk Ze dan yang lainnya mereka tidak terlalu kesulitan untuk melawan mahluk itu karena tidak cukup kuat untuk menjadi lawan mereka tapi, yang menjadi masalah adalah mahluk itu terus saja bangkit kembali walaupun tubuhnya telah hancur lebur.
Pertarungan semakin memanas di bagian Ze dan yang lainnya karena tiba-tiba mahluk yang mereka lawan menyatukan tubuh mereka menjadi lebih besar dan kuat.
"Merepotkan." keluh Ze.
"Kakek tua segera lakukan tugasmu untuk menyingkirkan musuhmu itu. Karena tampaknya hanya dengan dia binasa mahluk menjijikkan yang kami lawan baru bisa binasa juga." seru Ze.
Hui tu mempercepat gerakan serangannya ke arah lawan hingga berhasil menarik paksa kalung yang dipakai pria itu sampai terlepas dari lehernya. Dengan kekuatan tenaga dalam Hui tu menghancurkan bandul kalung berbentuk kepala bertanduk berwarna hitam.
"Tidak......!" seru pria itu karena sumber kekuatan yang mempertahankan hidupnya hancur di tangan musuhnya.
Perlahan tubuh pria itu berubah menjadi menua berkeriput hingga kering. Setelah itu perlahan tubuhnya terurai menjadi debu dan menghilang. Sedangkan untuk mahluk jelek yang Ze dan yang lainnya lawan, tubuhnya tiba-tiba hancur saat bandul kalung itu dihancurkan oleh Ze.
"Ternyata semudah itu menghancurkan mereka." ucap Ze.
"Terlalu mudah hingga membuat aku kehilangan semangat." tambahnya lagi.
"Aku lupa soal kalung yang harus dihancurkan hingga tiba-tiba aku mendengar suara Wei guo menyebutkan masalah kalung itu." ucap Hui tu.
"Wajar kau pelupa mengingat usiamu yang sudah sangat tua kakek tua." ucap Ze mengejek.
"Tunggu, kau mendengar suara istrimu?" tanya Ze serius.
"Ya, sangat jelas." jawab Hui tu.
"Apa mungkin jiwa milik istrimu sama seperti dirimu yang masih terjebak dalam sebuah benda?" tanya Ze membuat Hui tu berpikir hal yang sama.
Mereka tanpa aba-aba lagi langsung mencari sesuatu yang terasa janggal di sekitar pemakaman itu.
"Di dekat akar pohon besar dekat makam istri temanmu ada tertanam batu Jiwa yang mengikat jiwa wanita itu. Karena ketulusan hati dan keinginannya untuk meminta maaf secara langsung kepada sang suami sebelum kematiannya batu Jiwa yang kebetulan berada di dekat makam itu menjaga jiwanya agar tetap bertahan." jelas roh pedang.
"Jadi ingat masa Hui tu menjadi sebutir telur yang selalu memberikan petunjuk padaku." gumam Ze.
Ze segera berjalan ke arah yang dijelaskan oleh roh pedang. Dia memanggil Zili dan memintanya untuk menggali tanah di depannya.
"Batu jiwa." ucap Zili setelah menemukan sebuah batu bundar berwarna abu-abu seukuran genggaman tangan orang dewasa.
__ADS_1
"Apakah itu yang menjadi wadah bagi jiwa Wei guo?" tanya Hui tu.
"Sepertinya iya." jawab Zili.
"Mengapa dia tidak mengeluarkan suara apapun?" tanya Hui tu.
"Kekuatan jiwanya terlalu lemah karena sempat membaginya untuk membuat dua pesan untuk dirimu." jawab Zili.
"Apakah kekuatannya dapat ditingkatkan agar dapat berkomunikasi atau bahkan hidup kembali seperti Hui tu?" tanya Ze.
"Iya yang mulia ratu. Dia dapat meningkatkan kekuatan atau kultivasi roh untuk meningkatkan kekuatan jiwanya. Tapi,......"
"Tapi apa?" tanya Hui tu menyela karena sudah tidak sabaran.
"Tapi hanya bisa dengan menggunakan energi kehidupan dari binatang ajaib yang diserap seperti yang Hui tu lakukan sebelumnya." jelas Zili.
"Itu artinya kita harus berburu binatang ajaib untuk bisa menghidupkan kembali kekasih hati si kakek tua?" tanya Huo nan.
"Tidak perduli bagaimana caranya aku pasti akan menghidupkan dirimu kembali." ucap Hui tu sambil menatap batu Jiwa yang telah dia ambil dari tangan Zili.
"Aku memiliki kandidat tepat untuk tubuh baru istrimu nantinya. Untuk itu dapat dikatakan satu kali mendayung dua tiga pulau terlampaui." ucap Ze sambil tersenyum.
"Apa maksud senyuman kakak ipar? Apakah tubuh baru itu masih hidup hingga saat ini dan telah menyinggung dirinya sehingga dengan memberikan tubuhnya pada istri Hui tu, dia sekaligus menyingkirkan musuhnya?" tanya Huo nan pada Jin hu.
"Mengapa juga aku bertanya pada si budak istri itu?" gumam Huo nan.
"Masukkan batu Jiwa itu ke dalam batu dimensi sebelum keluarga Si tiba di tempat ini. Kita harus merahasiakan hal ini dari siapapun." ucap Ze.
"Baik." ucap Hui tu lalu masuk ke dalam batu dimensi meletakkan batu jiwa di tempat dia selalu di letakkan saat masih berbentuk telur.
"Ayo kita keluar." ajak Ze setelah Hui tu keluar dari batu dimensi.
Mereka keluar dari pemakaman leluhur keluarga Si bertepatan saat kereta yang mengantar rombongan keluarga Si berhenti di depan gerbang pemakaman.
"Siapa kalian? Mengapa bisa keluar dari pemakaman leluhur keluarga Si kami?" tanya seorang wanita dengan nada tinggi.
"Kami.....
"Jangan-jangan kalian pencuri makam yang ingin mencuri harta makam?" tuduh wanita itu.
"Mereka itu orang kampungan yang diundang kakek buyut sebelumnya ke kediaman keluarga Si kita kakak ipar." tiba-tiba seorang wanita yang sebelumnya pernah berpapasan dengan mereka di depan kediaman keluarga Si muncul.
__ADS_1
"Oh, pengemis yang....
"Plak plak."
"Akh....." pekik mereka karena tiba-tiba menerima tamparan kuat yang membuat mereka terhempas.
"Beraninya kurang ajar pada tetua keluarga Si. Kalian hanya menantu dalam keluarga Si dan berani menghina tetua?" ucap si penampar yang ternyata adalah tuan Yok ji.
"Maksudnya apa?" tanya seorang pemuda tiba-tiba.
"Kita bahas ini di kediaman saja nanti. Tidak baik berbincang di pemakaman leluhur." jawab tuan Yok ji.
"Kami harus mengurus sesuatu dan akan mengunjungi kediaman keluarga Si besok sore saja." ucap Ze.
"Iya benar." Saut Hui tu tanpa tahu maksud urusan yang Ze maksud.
"Apa yang harus kita urus kakak ipar?" tanya Huo nan.
"Hukuman yang tertunda." jawab Ze.
"Masih saja dia ingat." gumam Huo nan.
"Aku tidak akan lupa untuk masalah kesenangan." saut Ze.
"Menyesal aku mengiyakan." gumam Hui tu.
"Baik kak eh tuan....
"Kau sudah bebas memanggil kakek tua ini dengan panggilan apapun karena iblis itu telah musnah." selain Ze.
"Apakah itu benar?" tanya tuan Yok ji bersemangat.
"Ya." jawab singkat Hui tu.
Sedangkan keluarga Si yang lainnya hanya berani mendengar tanpa bertanya lagi setelah melihat kemarahan tuan Yok ji pada dua menantu keluarga Si itu.
"Sukurlah, selama ini keluarga Si selalu khawatir dengan serangan tiba-tiba dari iblis itu. Sekarang kita bisa lebih tenang. Apakah itu berarti kakek buyut akan tinggal dalam keluarga Si kita?" tanya tuan Yok ji.
"Segeralah masuk karena kami harus pergi sekarang." ucap Hui tu mengalihkan topik.
Hui tu tidak ingin menetap di keluarga Si tapi, tidak tahu bagaimana caranya bicara agar keluarganya bisa terima keputusannya.
__ADS_1
"Apakah dengan melarikan diri semua akan selesai? Kau harus menjelaskan pada mereka apa yang kau inginkan kakek tua." ucap Ze.