Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Lima puluh enam


__ADS_3

Ze menghentikan langkahnya sembari menghela nafas lega karena ternyata orang yang dia khawatirkan telah dia temukan dan masih merespon panggilannya dengan perlahan menoleh ke arahnya.


Dua orang itu tengah berdiri membelakangi Ze dan perlahan menoleh menanggapi panggilan Ze.


"Syukurlah guru baik-baik saja." gumamnya sembari tersenyum.


"Aku tidak dapat membayangkan jika guru tidak selamat." tambahnya.


Ze menangkap kejanggalan dari raut wajah gurunya saat kedua pria itu tepat menghadap ke arahnya dan melunturkan senyum yang baru saja tercetak di bibirnya.


"Astaga astaga jangan sampai itu terjadi. Guru tidak berniat melukai tubuhnya bukan?" gumamnya sembari mempercepat langkahnya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ze seperti bergumam.


"Mengapa berkorban hingga seperti ini demi aku."


"Aku sungguh tidak berguna dan hanya membawa nasib si*l pada siapapun di sisiku." tidak henti-hentinya Ze bergumam menyalakan dirinya sembari berlari ke arah sang guru.


Air mata mengalir begitu saja dari mata Ze melihat keadaan gurunya. Jin hu hanya mengikuti langkah Ze tanpa sedikitpun bersuara.


Wajah kedua master itu sudah sangat pucat dengan bibir membiru namun senyuman tidak luntur sedikitpun melihat keadaan murid kesayangan mereka berlari ke arah mereka dengan keadaan baik-baik saja.


Kedua pria tua itu tidak sedikitpun memasang raut kecewa ataupun takut akan keadaan mereka. Hanya ada rasa lega melihat Ze kembali dalam keadaan baik-baik saja.


"Ze kita baik-baik saja kak." ucap Tang hui bi.


"Ya, akhirnya kita dapat pergi dengan tenang karena masih memiliki kesempatan melihat dia sebelum waktu kita tiba." saut Tang biu hu.


"Tugas kita adalah memberikan pengertian agar dia tidak menyalakan dirinya." tambahnya.


Walaupun Ze ahli alkemis, mereka sangat yakin bahwa mereka sudah tidak mampu untuk diselamatkan karena racun yang terlanjur mereka minum adalah racun yang paling kuat dan belum ada obat yang mampu melawan racun itu.


Mereka tidak menyesal melakukan hal itu. Mereka hanya takut Ze akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang mereka alami.


Ze segera meraih tubuh Tang hui bi sedangkan Jin hu menangkap tubuh Tang biu hu yang hampir tumbang ke tanah. Ze segera menotok jalan darah para gurunya agar racun dalam tubuh mereka tidak semakin menyebar.


"Maafkan aku karena terlambat." ucap Ze dengan tangis membasahi pipinya.


"Aku hanya murid dan anak yang tidak berguna." tambahnya.

__ADS_1


Ze memeluk erat tubuh gurunya yang mulai melemah itu sambil menangis.


"Jangan menangis, kami bahagia dapat melihat dirimu dalam keadaan baik-baik saja." ucap Tang biu hu.


"Kau tidak bersalah, ini memang jalan takdir kami." ucap Tang hui bi sambil menghapus air mata di pipi Ze yang masih setia mengalir membasahi kedua pipinya itu.


"Maaf karena kami hanya mampu mendampingi dirimu sampai di sini saja." ucap Tang biu hu.


"Kami sangat bangga padamu dan tidak pernah kecewa sedikitpun padamu." tambahnya.


"Tidak, tidak akan kubiarkan terjadi sesuatu pada kalian." ucap Ze gelagapan karena panik kemudian memasukkan pil penawar segala racun pada mulut keduanya satu persatu.


"Uhuk uhuk uhuk." keduanya terbatuk lalu memuntahkan darah berwarna gelap.


Ze memeriksa keadaan gurunya dan rahangnya seketika mengeras.


"Mengapa bisa seperti ini?" tanyanya gusar.


"Apa yang terjadi?" tanya Jin hu melihat kegusaran istrinya.


"Organ dalam tubuh guru semua hampir hancur." jawab Ze dengan wajah yang semakin panik.


"Racun pembusuk." seseorang dari belakang mereka menjawab.


Orang itu adalah Hui tu yang menyusul karena mendengar seruan Ze sebelumnya. Karena khawatir dan penasaran akhirnya Hui tu menyusul Ze dan Jin hu.


"Huek.... huek....." guru Tang kembali memuntahkan darah.


"Guru.....!" seru Ze khawatir.


Tubuh dua pria tua itu semakin melemah dan hampir tidak lagi mampu untuk berbicara. Ze semakin khawatir melihatnya. Berbagai rasa berkecamuk di dalam hatinya melihat keadaan gurunya itu.


Rasa marah pada dirinya karena tidak dapat datang lebih awal untuk menolong mereka, rasa kecewanya karena gurunya tidak berusaha lebih percaya akan kemampuannya sehingga mengakhiri hidupnya, rasa benci pada mereka yang membuat keadaan seperti ini dan rasa khawatir akan keadaan gurunya.


"pil regenerasi, ya pil itu akan memperbaiki organ dalam tubuh guru." ucap Ze lalu mencari pil yang dia maksud di dalam kantong penyimpanan miliknya.


"Itu tidak akan berguna karena racun itu tetap akan terus membuat busuk atau merusak seluruh tubuhnya mulai dari dalam." ucap Hui tu.


"Ka mi su dah ti dak mam pu ber tahan dan ka mi su dah......" ucap Tang biu hu terbata yang langsung di bantah Ze.

__ADS_1


"Tidak..... Aku tidak mengizinkan kalian pergi dengan cara seperti ini." ucap Ze tegas.


"Apa yang dapat aku lakukan?" tanya Ze gelisah.


"Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan untuk keadaan ini." ucap Hui tu.


"Zili, dimana Zili? Dia pasti memiliki jawaban untuk ini." ucap Ze mencari keberadaan Zili.


"Zili........!" seru Ze memanggil Zili.


"Saya di sini putri." jawab Zili.


"Beritahu aku cara untuk menyelamatkan mereka dari racun pembusuk." ucap Ze.


Mendengar nama racun itu Zili membelalakkan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Bagaimana bisa racun sekuat itu ada di dunia bawah ini? Racun itu adalah salah satu dari 3 racun terkuat di dunia atas yang bahkan ras kamipun tidak dapat lolos dari Kematian jika berhadapan dengan racun yang sudah dinyatakan musnah karena pembuatnya telah tiada." ucap Zili semakin membuat Ze panik.


"Bukankah kalian tahu segalanya? Bagaimana bisa kalian tidak tahu cara menangani racun itu." bentak Ze.


"Kami juga memiliki batas putri." ucap Zili lemah.


"Mengapa putri tidak bertanya pada roh batu dimensi baru milik putri itu saja?" saran Zili.


"Tidakkah itu akan terlambat? Keadaan master Tang sudah sangat parah." tanya Hui tu.


"Berikan mereka setetes darah putri dan itu akan membantu memperlambat proses pembusukan pada tubuh dalam master Tang." ucap Zili.


Ze segera menggigit jarinya dan meneteskan darahnya pada mulut sang guru. Wajah kedua pria tua itu terlihat sedikit lebih tenang dari sebelumnya yang tampak menahan sakit yang tidak tertahankan.


"Tolong jaga mereka." ucap Ze lalu menghilang karena tubuhnya sudah memasuki batu dimensi tempat Silla berada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selamat membaca semua


Bagi yang memberikan dukungannya author ucapkan terima kasih.


Maaf kalau tidak bisa membalas setiap komentar dari kalian. Tapi, setiap ada waktu author selalu sempatkan membaca komentar kalian jadi silahkan utarakan pendapat kalian dan akan author jawab bagi yang membutuhkan jawaban.

__ADS_1


Sepertinya saya membaca komentar yang menanyakan mengapa cover novel ini berubah. Jawabannya adalah itu cover pemberian dari pihak MT dan NT jadi secara otomatis berubah.


__ADS_2