Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Tiga puluh empat


__ADS_3

Master Tang membawa Ze keruangan pribadi mereka dan memerintahkan agar tidak ada yang mengganggu mereka.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Tang biu hu.


"Apakah pemuda bernama Ming hui masih ada di sini?" tanya Ze.


"Ya, grand master meminta kami untuk selalu mengawasi gerak geriknya. Sebenarnya grand master tidak begitu suka pada pemuda bernama Ming hui itu tapi mengingat dia adalah orang yang kau kirim grand master hanya meminta kami lebih waspada padanya." jelas Tang Hui bi.


"Mengapa ayah tidak menyukainya dan mengapa ayah tidak mengatakan itu padaku sebelumnya?" tanya Ze heran.


"Entahlah, grand master hanya merasakan hal buruk pada diri orang itu. Katanya sesuatu yang jahat dan kuat ada di belakang pemuda bernama Ming hui itu." jawab Tang biu hu.


"Aku akan mencari tahu tentang dia nanti." ucap Ze.


"Apakah selama kami pergi tidak ada yang mengacaukan tempat ini?" tanya Ze.


"Tidak, semua orang tahu kalau grand master tidak suka keramaian sehingga tempat ini hanya menerima 2 hingga 3 murid saja. untuk meyakinkan orang bahwa grand master sudah tidak ada hubungannya dengan tempat ini kami meramaikan tempat ini dengan menerima lebih banyak murid dan menerima pelayan. Mungkin itu mengapa tidak ada yang mengacaukan tempat ini untuk mencari kalian." jelas Tang hui bi.


"Bagaimana kabar grand master saat ini? Sebelumnya beliau sempat terluka apakah beliau sudah sembuh dari lukanya itu?" tanya Tang biu hu.


"Iya, bagaimana kabar grand master dan dimana beliau saat ini?" tanya Tang hui bi juga.


"Ayah baik-baik saja dan berada di istana atas awan sekarang. Untuk sementara tempat itu adalah tempat teraman untuk mereka saat ini." jawab Ze.


"Dimana Jin hu? Mengapa pemuda itu tidak menemanimu kesini?" tanya Tang biu hu yang mulai sadar akan ketidakhadiran Jin hu di sisi Ze.


"Dia terluka dan harus memulihkan diri di tempat yang lebih aman. Aku kesini juga untuk menyelamatkan dia." jawab Ze.


"Bagaimana dia bisa terluka? Bukankah dia sudah sangat kuat? Siapa yang dapat melukainya?" tanya Tang hui bi.


"Terlalu panjang untuk diceritakan intinya dia terluka dan harus segera aku temukan obatnya." ucap Ze.


"Oh iya, aku lupa untuk memberi tahu satu hal penting pada kalian. Kami telah menikah di istana atas awan dan sengaja tidak menyebarkan beritanya untuk menghindari masalah." ucap Ze.


"Apakah kau masih menganggap kami ini keluarga?" tanya Tang biu hu dengan wajah kesal.


"Maaf guru, masalah yang ada tidak memungkinkan kami untuk mengundang orang diluar istana atas awan saat itu." ucap Ze menyesal.


"Sudahlah, bukan masalah yang terpenting Ze bahagia." ucap Tang hui bi.


Mereka melanjutkan berbincang hingga waktu untuk makan siang tiba.

__ADS_1


"kruyuk kruyuk." perut Ze berdemo minta diisi.


"oh ya Dewa kita terus saja berbincang tanpa berfikir bahwa Ze pasti lapar karena perjalanan jauh untuk kesini." ucap Tang biu hu.


"Ayo kita keruangan makan saja. Sudah waktunya makan siang sekarang, pasti sudah ada makanan yang di sediakan pelayan." ajak Tang biu hu.


Mereka menuju ruangan makan bersama dan Ze meminta seorang pelayan untuk memanggilkan rekannya di tempat istirahat mereka untuk segera bergabung di ruangan makan.


Mereka makan bersama dengan tenang dan setelah selesai mereka berniat menemui Ming hui di tempat dia bertapa.


"Grand Master menyarankan pemuda bernama Ming hui itu bertapa di belakang. Ayo kita ke halaman belakang untuk menemuinya." ucap Tang biu hu.


"Apakah selama di sini Ming hui tidak memperlihatkan gerak gerik mencurigakan?" tanya Ze.


"Selain dia kadang menghilang seminggu sekali pada saat tengah malam, semua tingkah dia biasa saja." jawab Tang biu hu.


"Menghilang? Kemana?" tanya Ze.


"Entahlah, beberapa kali kami mengikutinya dan selalu kehilangan jejaknya. Keesokan paginya dia sudah kembali di tempatnya." jawab Tang biu hu.


"Apakah kalian sudah pernah bertanya kemana dia pergi selama ini?" tanya Ze.


Ze terus bertanya tentang Ming hui pada gurunya sedang yang lain hanya diam menyimak saja.


"Itu dia di sana." ucap Tang hui bi menunjuk ke arah Ming hui dengan dagunya.


"Ming hui." panggil Ze.


Ming hui yang mendengar namanya dipanggil menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Ze.


"Putri Ze." ucap Ming hui.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Ze.


"Baik putri." jawab Ming hui.


"Apakah kau sudah dapat membuka pintu dari batu dimensi milikmu?" tanya Ze.


"Masih belum putri." jawab Ming hui.


"Mengapa bisa begitu?" tanya Ze.

__ADS_1


"Entahlah putri." jawab Ming hui.


"Coba pinjam batu dimensi miliknya putri." ucap Zili dengan telepati pada Ze.


"Dapatkah aku dan rekan ku meminjamnya untuk melihat dan mempelajari batu dimensi milikmu itu untuk mencari tahu cara membukanya?" pinta Ze.


"Baiklah, ini silahkan putri." ucap Ming hui akhirnya setelah cukup lama berpikir.


"Aku akan mengembalikannya saat kami telah mempelajarinya." ucap Ze.


"Kami harus melakukan hal lain kau lanjutkan saja kegiatanmu sebelumnya." ucap Ze.


"Baik putri." saut Ming hui.


Mereka pergi meninggalkan Ming hui yang menatap dengan tatapan yang sulit diartikan maksudnya. Ming hui terus menatap kepergian mereka hingga punggung mereka tidak lagi dia lihat.


Ming hui tampak sedang bergumam dan tersenyum entah apa yang dia gumam kan dan maksud dari senyuman nya itu.


"Sebaiknya kita berbicara di ruangan pribadi ayahku. Hanya itu tempat aman untuk kita berbicara." ucap Ze.


"Kalian lanjutkan saja urusan kalian dengan tenang. Kami harus mengurus beberapa hal di perguruan." ucap master Tang.


"Baik guru." ucap Ze.


"Baik master Tang." sahut Hui tu dan yang lain.


Ze dan yang lain melanjutkan langkah mereka menuju ruangan pribadi ayah Ze sedangkan master Tang pergi ke arah lain.


"Beberapa orang menatap mereka dengan heran pasalnya Ze dan rombongan begitu bebas memasuki area yang terlarang untuk mereka masuki. Kebetulan yang berjaga di daerah itu adalah orang lama kepercayaan grand master Ji sehingga Ze bebas masuk tanpa halangan.


"Putri Ze." sapa mereka sopan Ze hanya mengangguk.


"Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izin dariku." ucap Ze lalu masuk ke dalam ruangan diikuti Hui tu dan yang lainnya.


"Baik putri." jawab mereka sopan.


Ze masuk langsung duduk di salah satu kursi di ikuti yang lain yang juga duduk di kursi lainnya.


"Apa pendapatmu mengenai Ming hui itu setelah melihat dia tadi?" tanya Ze pada Zili dengan serius.


Hm, sekarang apa pendapat Zili? Ada yang bisa tebak? 😁

__ADS_1


__ADS_2