Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2

Pindah Dimensi Membalaskan Dendam Putri Yang Tertindas S 2
Empat puluh tiga


__ADS_3

Ze segera memanggil Hui tu saat dia keluar dari batu dimensi.


"Kakek tua apa kau mendengar ku?" tanya Ze tentunya dengan telepati.


"Ya, ada apa?" tanya Hui tu balik.


"Kita kembali ke kediaman ayahku. Tapi sebelumnya kita akan menyingkirkan para lalat di luar sana." ucap Ze.


"Mengapa kau ingin menangani mereka dengan cepat?" tanya Hui tu.


"Orang di balik mereka sudah diketahui dan tujuannya juga sudah jelas." jawab Ze.


"Lalu apa rencana mu selanjutnya?" tanya Hui tu.


"Aku akan menyingkirkan Ming hui palsu itu untuk selamanya, membuat segel pelindung agar kediaman ayahku beserta orang-orang di dalamnya aman lalu kita akan menuju hutan kutukan untuk menunggu Zili kembali." jawab Ze.


"Mengapa harus bersembunyi dan mengapa harus hutan kutukan?" tanya Hui tu.


"Pertama karena orang di balik keluarga Song itu adalah mahluk dari dunia atas yang sangat kuat. Kedua, karena hutan kutukan adalah salah satu tempat paling aman dari mereka. Hutan kutukan tidak akan dapat dimasuki oleh orang-orang serakah." jawab Ze.


"Kenapa tidak hutan Fujian saja?" tanya Hui tu.


"Ada yang ingin aku cari di hutan kutukan dan aku penasaran bagaimana wujud hutan kutukan itu." jawab Ze.


"Apa yang kau cari di sana?" tanya Hui tu.


"Sesuatu yang belum aku butuhkan saat ini tapi akan berguna suatu saat. Saat ini ada banyak yang menginginkan benda itu namun setahu aku belum ada yang mendapatkan benda itu karena tujuan mereka adalah keserakahan." jelas Ze.


"Lalu tujuan utamamu mendapatkan benda itu apa kalau bukan karena keserakahan?" tanya Hui tu.


"Itu demi kebaikan, keluarga dan karena rasa sayang. Bukan hanya karena sebuah ambisi." jawab Ze.


"Baiklah, sekarang aku akan menangani beberapa lalat di belakang penginapan ini dan sisanya itu bagian mu." putus Hui tu.


"Lakukan dengan cepat dan jangan sampai ada yang lolos apa lagi sampai memberi kabar pada atasan mereka." ucap Ze.


"Sekarang.....!" ucap Hui tu lalu melompat lewat jendela yang mengarah ke belakang penginapan itu.


"Sret krek jleb" dengan waktu sangat singkat 8 orang yang memantau mereka di sana kehilangan nyawa tanpa sempat melawan sedikitpun.


Hui tu menyayat leher seperti menyembelih hewan, memutar kepala hingga tulang lehernya patah menusuk tepat di jantung hingga mereka ma*i seketika.

__ADS_1


Ze dengan sigap keluar lewat jendela juga lalu naik ke atas atap penginapan itu. Ze mengamati sekitar dan mendapatkan semua posisi orang-orang yang mengamati penginapan tempat dia menginap.


"Aku harus menangkap satu orang dalam keadaan hidup untuk aku manfaatkan." gumam Ze lalu mengeluarkan beberapa jarum beracun miliknya.


Ze berpindah tempat dengan sangat cepat sehingga pergerakannya tidak dapat mereka lihat.


"Syut syut syut." Ze melemparkan beberapa jarum miliknya ke arah beberapa orang dan mereka segera tumbang.


"Sret sret sret." Beberapa orang sisanya harus ma*i dengan leher terpotong mengeluarkan darah dengan tubuh bergetar hingga menghembuskan napas terakhir.


"Apakah bagian mu telah selesai kakek?" tanya Ze pada Hui tu dengan telepati.


"Selesai tanpa cacat." jawab Hui tu bangga.


"Kalau begitu bantu aku mengamankan beberapa orang yang berhasil aku lumpuhkan untuk diinterogasi dan kita manfaatkan." ucap Ze.


"Hm." jawab singkat Hui tu dan segera menuju tempat Ze menunggu.


"Mengapa kau mengambil terlalu banyak dari mereka? Bukankah satu orang saja sudah cukup?" protes Hui tu setelah berhasil membawa 3 orang yang Ze lumpuhkan kembali ke dalam kamar Ze lalu diikat masing-masing di sebuah kursi kayu.


"Aku bukan peramal yang dapat menebak siapa dari mereka yang memiliki informasi dan siapa yang hanya menjalankan tugas tanpa tahu untuk apa tugasnya itu." ucap Ze.


"Sekarang bagaimana?" tanya Hui tu.


"Tidak kita selesaikan mereka dulu lalu urus Ming hui palsu itu. Takutnya atasan mereka curiga kalau tidak ada yang melapor dalam waktu yang lama." ucap Ze.


"Buat ruangan ini kedap suara." ucap Ze dan segera Hui tu membuat tabir agar suara di dalam kamar itu tidak dapat terdengar dari luar.


Ze menotok orang-orang itu di beberapa bagian membuat mereka kembali sadar namun tubuh mereka tidak dapat digerakkan. Hanya bagian kepala yang dapat bergerak.


"Akh mengapa kau mengikat aku?" tanya seorang dari mereka.


"Untuk mendapatkan beberapa informasi yang aku butuhkan dari kau dan mereka." jawab Ze dingin matanya menatap penuh intimidasi.


"Apa yang kau inginkan sedangkan kami tidak tahu apa yang kau butuhkan?" tanya orang itu berusaha tenang.


"I iya, kami ti tidak tahu apa-apa." ucap yang lain.


"Semua akan aku ketahui setelah ini. Apakah kalian berbohong atau tidak." ucap Ze sembari tersenyum sinis.


"Tidak ada lagi racun di bibir bawah kalian jika itu yang kalian cari." ucap Ze saat melihat wajah bingung mereka.

__ADS_1


Sebelum menyadarkan mereka Ze mencabut pil racun di bibir bawah dalam mereka. Pil itu fungsinya untuk mengakhiri hidup mereka sendiri agar tidak membongkar rahasia kelompok atau orang yang menyuruh mereka.


"Coba saja gigit lidah kalian maka aku akan merontokkan seluruh gigi kalian dan membiarkan kalian hidup tanpa gigi satupun." ancam Ze.


"sebenarnya aku ingin melihat kalian menderita dalam waktu lama seandainya aku memiliki banyak waktu. Tapi karena aku terburu-buru, hanya ini yang bisa aku lakukan." ucap Ze lalu dengan cepat memasukkan pil dalam mulut mereka dan membuat mereka terpaksa menelan pil itu.


"Apa tugas kalian di sini." tanya Ze.


"Mengawasi putri dari Grand Master Ji liu ku dan melaporkan semua informasi yang kami dapatkan." jawab ketiganya kompak.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Ze.


"Wakil ketua keluarga Song." jawab ketiganya lagi dengan wajah bingung.


"Siapa yang bertugas melaporkan informasi." tanya Ze.


"Aku... " jawab salah satu dari mereka.


"Di Nuo." jawab kompak dua orang lainnya.


"Sret sret."


"Mereka sudah tidak berguna." ucap Ze setelah menghabisi dua lainnya.


"Apakah gadis ini masih seorang manusia? Membunuh tanpa berkedip dan rasa bersalah." batin Di nuo.


Pria itu bergetar ketakutan melihat Ze yang menghabisi rekannya tanpa ragu. Sekujur tubuhnya kini dipenuhi keringat.


"Sekarang saatnya langkah selanjutnya." ucap Ze.


"Kapan kau harus melapor pada mereka? Apakah terjadwal atau hanya saat ada informasi tertentu saja?" tanya Ze.


"Setiap 3 malam sekali dan saat ada informasi penting saya harus melapor." jawab Di nuo.


"Kapan itu tepatnya?" tanya Ze.


"Nanti malam." jawab Di nuo.


"Mengapa aku begitu saja menjawab semua pertanyaan dengan jujur?" tanya Di nuo.


"Karena pil kejujuran yang kau telan sebelumnya." jawab Ze.

__ADS_1


Selamat membaca ☺


__ADS_2