
Pagi harinya Ze bangun lebih awal dan segera bangkit untuk membersihkan diri.
"Kau mau kemana pagi-pagi sudah bersiap?" tanya Jin hu.
"Aku ingin menemui ibu. Bukankah kau sendiri semalam yang mengatakan bahwa ibu mencari aku, sayang?" jawab Ze.
"Setidaknya beri kecupan selamat pagi dulu pada suamimu ini sayang." ucap Jin hu.
Ze hanya tersenyum melihat tingkah manja suaminya di pagi hari. Dia segera mengecup kening lalu bibir Jin hu.
"Sudah, sekarang kau bersihkan diri dan kita akan bertemu di ruang perjamuan." ucap Ze lalu bergegas pergi mencari ibunya.
"Ada apa ibu mencari aku malam tadi? Apakah ada masalah? Atau, mungkin ayah telah mengungkapkan perasaannya pada ibu?" gumam Ze.
Ze langsung mengetuk pintu kamar Mei yin. Mei yin langsung membukakan pintu karena tepat saat Ze tiba, Mei yin akan keluar dari kamar berniat untuk mencarinya lagi karena semalam tidak sempat bertemu.
"Masuklah, ibu baru akan mencarimu." ucap Mei yin.
Ze segera masuk ke dalam dan Mei yin kembali menutup pintu kamarnya.
"Ada apa ibu mencari aku? Apakah ada masalah?" tanya Ze.
"Mengapa jika aku mencarimu? Apakah ibu tidak boleh mencari putri ibu sendiri?" tanya Mei yin balik.
"Bukan itu maksudnya ibuku yang cantik. Aku hanya khawatir jika ibu dalam masalah. Karena tidak biasanya ibu mencari aku seorang diri tanpa membawa nenek bersama ibu." jawab Ze.
"Ibu ingin bercerita dan meminta pendapat darimu." ucap Mei yin.
"Tapi, kau harus janji tidak akan mengejek dan menertawakan ibu setelah ibu bercerita." tambahnya.
"Cerita tentang apa?" tanya Ze.
"Janji dulu." ucap Mei yin.
__ADS_1
"Baiklah ibuku sayang, aku janji tidak akan menertawakan dan mengejek ibu setelah mendengar cerita ibu." ucap Ze.
"Sebenarnya.......,"
"Sebenarnya apa?" tanya gemas Ze karena Mei yin hanya terdiam setelah itu.
Mei yin bingung harus bercerita seperti apa dan memulai dari mana.
"Ibu cukup cerita seperti biasa saja. Aku akan mendengarkan dengan baik dan tidak akan menyela." ucap Ze.
"Huft....." Mei yin menghela napas sejenak.
"Sebenarnya kemarin malam ayahmu mengungkapkan perasaannya pada ibu dan menginginkan ibu menjadi pendamping dirinya." cicit Mei yin sembari menunduk malu.
"Lalu apa masalahnya ibu? Ibu cukup katakan iya jika ibu bersedia lalu katakan tidak jika ibu tidak bersedia." ucap Ze menggoda Mei yin agar kesal pada tanggapannya.
"Jika itu ibu juga tahu Ze." ucap kesal Mei yin.
"Jika ibu telah bertanya pada diri ibu sendiri dan tahu jawabannya, maka utarakan langsung tanpa perlu memikirkan banyak hal. Kami akan selalu mendukung keputusan ibu." ucap Ze.
"Sebaiknya kita menuju ke ruang perjamuan saja dulu. Sebelum Jin hu mencari aku dengan tingkah konyolnya." ajak Ze.
Mereka berdua berjalan bersama menuju tempat perjamuan dimana yang lain telah berkumpul menunggu mereka berdua. Liu ku menatap Mei yin membuat Mei yin gugup. Liu ku lalu tersenyum melihat wajah malu Mei yin karena ditatap olehnya.
"Bukankah lusa kita akan berangkat ke kerajaan Kai?" tanya Ze.
"Iya." jawab Liu ku dan Jin hu bersamaan.
"Ada apa kau bertanya sayang?" tanya Jin hu.
"Tidak, aku hanya ingin memastikan bahwa hanya sisa dua hari waktu kita sebelum berangkat." jawab Ze sembari melirik Mei yin.
...----------------...
__ADS_1
"Aku mendengar bahwa kak Jin hu mengumumkan pernikahannya dengan wanita ja*ang itu bahkan mengukuhkan kedudukannya sebagai Ratu istana negeri atas awan ayahanda." adu putri Rou ruan dengan wajah sedih pada sang ayah.
"Bersabarlah sayang, biarkan wanita itu menikmati waktu sebagai Ratu dari Jin hu sebelum dia harus tersingkir demi nama baik Jin hu dan kerajaannya. Lagi pula setelahnya hanya kau yang akan menjadi Ratu di hati Jin hu itu." ucap Raja Kai menenangkan puterinya.
"Ayahanda benar, aku lebih baik berlatih lebih giat agar kak Jin hu semakin kagum padaku dan melihat bahwa aku lebih pantas bersamanya." ucap putri Rou ruan semangat lalu pergi dari ruangan ayahnya.
"Berlatih yang giat putriku agar kau berhasil membuat Jin hu bertekuk lutut dan ayah dapat memiliki wanita berwajah bak Dewi kecantikan itu." gumam Raja Kai sambil membayangkan wajah cantik Ze.
...----------------...
"Bagaimana mungkin putri yang dulunya dianggap sampah ternyata adalah keturunan Grand master Ji dan memiliki kemampuan yang sangat istimewa?" ucap permaisuri Doucheng dengan wajah kesal.
"Seharusnya kita menjodohkan dia dengan putra mahkota dari awal. Kita kehilangan banyak karena salah langkah." ucapnya lagi.
"Berhenti mengoceh karena aku lagi tidak ingin mendengar celotehan dari mulutmu itu." ucap Kaisar Lian membuat permaisurinya itu bungkam.
"Seharusnya aku tidak membuang Jin hu saat itu." gumamnya.
"Bahkan dibandingkan Liu sia yang seorang putri kerajaan, Ze yang merupakan keturunan grand master Ji jauh lebih istimewa." gumamnya lagi.
"Aku harus menarik kembali Jin hu sebagai pangeran istanaku jika ingin menarik pengaruh grand master Ji. Aku harus mempersiapkan semua untuk membujuknya kembali bahkan kalau perlu kedudukan putra mahkota aku langsung berikan padanya." gumamnya lagi membuat permaisurinya menggeleng tidak percaya apa yang dia dengar.
"Yang mulia, bagaimana bisa anda ingin melengserkan putra kita dari gelar putra mahkota?" tanya Permaisuri Doucheng tidak terima.
"Diam kau. Ini semua karena hasutan darimu sehingga aku mengabaikan putra yang sangat berharga bagi perkembangan kekuasaan kekaisaran Doucheng. Aku sudah memutuskan dan kau hanya perlu diam melihat jika tidak, jangan salahkan aku jika posisi permaisuri digantikan oleh wanita lain." ancam Kaisar Lian yang mulai kalap.
"Jangan yang mulia, baik aku hanya akan diam saja dan mendukung keputusan yang mulia." ucap permaisuri Doucheng ketakutan.
"Aku harus pura-pura setuju dan melakukan sesuatu untuk mencegah putraku kehilangan kesempatan menjadi kaisar Doucheng berikutnya." batin permaisuri Doucheng.
"Jika perlu, aku akan menyingkirkan kaisar bodoh ini sebelum dia melengserkan kedudukan kami ibu dan anak dari tahta istana. Aku tidak rela jika usahaku selama bertahun-tahun ini sia-sia hanya karena Jin hu yang tidak berguna itu kembali lagi ke istana." batinnya lagi.
Setelahnya mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing. Kaisar Lian sibuk dengan rencana membujuk Jin hu dan Ze agar kembali. Sedangkan isterinya sibuk menyusun rencana dalam otaknya untuk menyingkirkan Kaisar Lian sebelum Jin hu berhasil kembali ke istana dan merebut tahta putranya.
__ADS_1