
Zalfa berjalan memasuki ruangan lain. Masih saja ia terngiang dengan dua wajah yang muncul secara bersamaan tadi. Dan ia sendiri bingung kenapa hatinya masih saja memikirkan Faisal. Mungkin karena cintanya terhadap Faisal memang masih subur dan tidak mudah baginya melupakannya begitu saja. Banyak hasutan di hatinya yang memintanya supaya terus memikirkan Faisal, pria yang jelas-jelas tidak halal untuk dia pikirkan saat ini. Inikah cobaan untuk Zalfa yang menjalani rumah tangga hanya berdasarkan niat untuk menutupi kejanggalan dalam dirinya semata dan berniat akan meninggalkan Arkhan setelahnya? Kenapa begitu sulit menjalani ibadah sesuai tuntunan yang benar? Kenapa ujian untuknya begitu rumit?
Zalfa menggeleng berusaha melenyapkan pemikiran buruk dalam kepalanya. Ia tidak boleh mengeluh, mungkin inilah cara Tuhan menguji imannya, apakah dia mau menjalani hidup sesuai dnegan tuntunan, atau malah melanggarnya.
Langkah Zalfa terhenti ketika mendapati Ismail di ruangan keluarga.
“Siapa tadi, Zalfa?” tanya Ismail.
Zalfa melirik Ismail dan menghela napas. “Soleh tadi minta Mas dateng ke rumahnya. Nyari siaran TV.” Zalfa mengalihkan pembicaraan. Ia sedang tidak ingin membahas Arkhan, atau pun Faisal.
“Dasar tuh bocah. Hari gini masih aja pake parabola.” Ismail geleng-geleng kepala. “O ya, kamu belum jawab aku. Siapa yang barusan dateng?”
“Mm… Dua orang yang bikin kepalaku hampir pecah.” Zalfa menghembuskan nafas.
Ismail tersenyum. “Bikin kepala pecah gimana maksudmu?”
“Arkhan dan Faisal.”
__ADS_1
“Maksudmu, mereka dateng bersamaan?” Ismail terbelalak tidak yakin.
“Kalau Mas ada di sana tadi, mungkin Mas bakalan ketawa jungkir balik ngeliat mukaku stres. Aku menikah dengan Arkhan hanyalah sebatas untuk beberapa saat saja, hanya untuk menutup aib andai saja aku mengandung anaknya. Dan aku masih berkeinginan untuk kembali pada Faisal. Tapi sepertinya keadaan berbalik menyudutkanku.”
“Sudahlah, lupakan Faisal. Dia masa lalumu. Ingat, restu orang tua sangatlah penting. Sementara Bu Hafizah nggak merestuimu. Ini udah jadi alasan kuat untukmu melupakan Faisal. Lalu bagaimana dengan orag tua Arkhan?”
Zalfa terdiam sesaat, kemudian menjawab, “Orang tua Arkhan menerimaku dnegan baik.”
“Nah. Sudah, jangan lagi mikir yang lain-lain. Aku hanya berharap kamu bisa membimbing Arkhan menjadi imam yang baik untukmu. Dia mualaf, dia butuh contoh dari muslimah sepertimu.” Ismail memilih pergi ke rumah Soleh dan tidak mau mendengar apapun lagi dari mulut Zalfa. Ia memasuki rumah sebelah setelah mengetuk pintu dan Soleh membukanya. Mereka langsung menuju kamar.
“Biasa. Penyakit lama. Mas pasti lebih tahu penyakitnya apa,” jawab Soleh sambil menyalakan TV.
“Kamu tuh ya. Afkirin aja ngapa barang rongsokan gini.”
“Hehehee...” Soleh tergelak. “O ya Mas, ngomong-ngomong gimana dengan Zalfa? Kudengar dia menikah dengan pria yang nggak dia cintai.” Soleh menyelidiki tanpa membuat Ismail curiga bahwa ia juga menaruh hati pada Ahsel.
“Ah, lu kepo aja ama urusan Zalfa.”
__ADS_1
“Aku Cuma ingin kasih masukan aja.”
“Ooh… Payah tuh anak. Galau akut. Cintanya gede banget buat si Faisal, sementara dia udah nikah sama Arkhan. Aneh, kan? Faisal itu cinta matinya Zalfa. Jadi.. Ah, nggak tau lagilah mau ngomong apa. Sepertinya Cuma Faisal yang ada di kepalanya.”
“Kalau boleh saran, tinggalin aja dua-duanya Mas. Kan adil, yuh.”
“Kamu nih. Bisa gantung diri Zalfa-nya kalo dua-duanya diputusin.”
“Hahaa....”
“Tapi yang pasti, Faisal itu pengaruh paling besar dalam diri Zalfa.”
Soleh mengangguk.
***
TBC
__ADS_1