
Zalfa merasakan tangannya disentuh oleh Arkhan dan didorong ke bawah.
“Mas Arkhan!” Zalfa menarik tangannya dan memukul punggung pria itu.
“Kenapa?” Arkhan menoleh ke samping supaya bisa mendengar suara Zalfa di belakang. Meskipun dia menyetir motor dengan kelajuan sedang, namun tamparan angin cukup menjadi penghalang suara untuk sampai ke telinga.
“Ini di jalan, jangan suruh aku pegang yang aneh-aneh.” Ingin sekali Zalfa mencakar hidung mancung Arkhan.
“Memangnya ada apa? Pegang apa maksudmmu? Perutku begah dan sulit bernafas jika kau memeluk terlalu ke atas, aku hanya menurunkan letak tanganmu.”
“Ooh…” Zalfa nyengir lebar. Dia kembali melingkarkan lengannya ke perut Arkhan, kali ini lingkaran lengannya di posisi perut agak ke bawah sesuai permintaan Arkhan. “Kita berhenti di kafeku ya!”
“Kau mau bekerja di sana?”
“Bukan. Kita makan di sana. Kamu belum pernah ngerasain masakan ala kafeku kan?”
Sebenarnya Arkhan ingin menolak permintaan Zalfa mengingat masakan di kafe milik Zalfa bukanlah seleranya, tapi bagaimana perasaan Zalfa jika dia menolaknya? “Baiklah!”
Motor berhenti di depan kafe. Arkhan melepas helm sambil memperhatikan sisi depan kafe yang sedikit berubah sejak terakhir kali dia berkunjung ke sana. Bukan hanya kehidupan Zalfa saja yang berubah total, tapi kafe pun juga berubah. Kehidupan seperti roda yang terus berputar, kadang di atas dan kadang di bawah.
Zalfa sudah masuk ke dalam kafe.
Langkah Arkhan terhenti saat ia bertabrakan dengan seseorang di pintu. Sial! Arkhan mengutuk dalam hati. Kaosnya terkena es krim oleh lawan tabrakannya. Sontak Arkhan mengibaskan kaosnya saat rasa dingin menjalar di kulit dadanya.
“Bisakah kau pakai matamu saat berjalan?” geram Arkhan menatap gadis belia yang baru sjaa keluar dari kafe.
Bukannya mersa bersalah, gadis belia yang ditemani dua orang sebayanya itu malah menjerit histeris. Heboh.
“Ini kan Arkhan. Astaga ini Arkhan, mualaf yang ngajinya merdu banget itu.”
__ADS_1
“Ooh… yang fasih ngajinya itu ya kan? betul nggak sih?”
“Eh iya bener, ini orangnya. Lebih ganteng aslinya.”
Ketiga gadis belia tampak heboh membicarakan Arkhan seperti sedang melihat actor idola.
Arkhan yang tadinya kesal, kini malah berubah bingung dan mengernyit heran saat salah seorang gadis mendadak maju dan mencium pipinya meski si gadis mesti harus rela berjintit saat mendaratkan bibir ke pipi Arkhan.
Hampir tak percaya, Arkhan benar-benar merasa seperti orang gila saat itu. dia yang mejadi seorang penjahat dengan pekerjaannya dulu, kini malah dikagumi banyak orang. Dia bahkan tidak tahu jika namanya masih sibuk diperbincangkan di sosial media.
“Arkhan, foto bareng ya!”
“Mau juga dong!”
Ketiga gadis menyerbu dan langsung menempelkan badan mereka ke badan Arkhan sambil mengarahkan kamera ponsel masing-masing dan mengabadikan gambar yang diambil sebelum Arkhan memberi persetujuan.
“Sudah! Sudah!” Arkhan melenggang pergi, menggeleng dengan dahi bertaut karena pusing melihat tingkah para remaja itu. dia berhenti di tengah-tengah ruangan kafe saat mendapati Zalfa melipat tangan di dada. Wanita itu menatapnya dengan pandangan tak bersahabat sambil geleng-geleng kepala.
“Kenapa?” Arkhan semakin bingung. Tadi dia baru saja mengahadapi tiga gadis aneh, sekarang dia juga harus menghadapi satu wanita yang tiba-tiba menjadi bersikap aneh.
“Gadis tadi menciummu. Seneng?” Zalfa berkata geram.
Arkhan mengangkat ke dua tangannya ke udara. “Aku harus apa? Dia melakukannya sebelum aku menyadari gerakannya.”
“O ya?” Zalfa mengangkat alis.
“Jangan menatapku seperti itu. Apa itu salahku?”
Zalfa diam.
__ADS_1
“Mereka yang menciumku. Salahkan saja mereka,” ucap Arkhan enteng.
“Tapi kamu menyukainya bukan?”
“Tidak. Bukan tipeku untuk melayani anak-anak seperti mereka.” Arkhan menarik kursi dan duduk. Dia melirik Zalfa yang masih berdiri. “Kau marah?”
Zalfa menghempaskan duduk di kursi depan Arkhan.
Arkhan menggeser kursi dan mendekatkannya ke kursi Zalfa. Dia memajukan wajahnya hingga jarak wajahnya dengan wajah Zalfa sangat dekat. “Aku bertanya dan kau belum menjawab. Apa kau marah?”
“Enggak. Aku nggak marah.”
Arkhan mengangguk. Kepalanya memang mengangguk, tapi dia masih belum mengerti, Zalfa mengaku tidak marah tapi cara bicara dan ekspresi wajah wanita itu tampak berbeda. Arkhan benar-benar tidak mengerti dengan wanita. Bilang tidak marah tapi raut wajahnya merah padam. Ternyata Arkhan masih perlu banyak belajar untuk memahami sisi wanita.
Kaki Arkhan di bawah meja menyenggol kaki Zalfa sambil menaikkan alis. “Mau makan apa?”
Zalfa melirik Arkhan yang sebenarnya merasa gemas tapi sedikit kesal melihat suaminya itu dicium wanita lain. Bukan mahram, eh main nyosor aja. Arkhan tidak salah, tapi kenapa Zalfa kesal terhadap Arkhan?
...BERSAMBUNG...
YUUK bantuin Zalkhan untuk naik ranking. Kasih like, poin dan vote yaaaaak.
Bonus hari minggu gk up, jadi up 2 part 😁
.
.
.
__ADS_1