
Faisal mengetuk pintu sebuah rumah. Beberapa kali dia mengetuk, tidak ada jawaban. Seperti tidak ada tanda-tanda pemilik rumah akan membuka pintu. Suasana di sekitar rumah sepi, seperti tanpa penghuni.
Kepala Faisal celingukan menoleh ke kanan ke kiri.
“Maaf Mas, nyariin siapa?” tanya seorang gadis dari arah samping rumah.
Faisal menoleh. Ia mendapati gadis berwajah cantik di sisi pagar sebelah rumah. Tak lain Arumi.
Ekspresi wajah Arumi seketika berubah saat melihat wajah yang baru saja menoleh ke arahnya, ternyata Faisal. Dia tidak mengira jika pria yang mengetuk-ngetuk pintu rumah tetangga itu adalah si pria judes yang pernah memarahinya dulu. Tau gitu, Arumi tidak mau menegur pria itu.
Arumi balik badan sesaat setelah mengetahui si pemilik wajah.
“Hei, kamu baru saja memanggilku, sekarang malah pergi.” Faisal berseru membuat langkah kaki Arumi berhenti.
Dengan ekspresi tidak bersahabat, Arumi bertanya, “Aku pikir tadi siapa, ternyata kamu.”
“Kalau aku kenapa?” balas Faisal dengan alis terangkat.
“Sudahlah, aku ada pekerjaan lain.”
“Tunggu tunggu!” Faisal kembali berseru.
Kasihan, Arumi pun terpaksa bertahan di sana dengan tangan bersilang di dada.
Faisal mendekati pagar yang membatasi antara rumah bersebelahan tersebut. “Penghuni rumah ini kemana?” Faisal menunjuk rumah megah yang dulu menjadi milik Arkhan.
“Penghuni rumah itu siapa maksudmu?” sengak Arumi tidak ingin mengobrol lebih lama. “Penghuni rumahnya banyak.”
Faisal menghela nafas mendengar nada bicara Arumi yang ketus. Jika dia tidak sedang membutuhkan gadis itu untuk sebuah informasi, dia tentu juga tidak mau berlama-lama mengobrol di sana.
“Bisakah kamu mengubah cara bicaramu?” Faisal berusaha untuk berbicara dnegan nada bersahabat, tujuannya tidak lebih supaya perbincangan lancar.
“Memangnya ada apa dengan cara bicaraku?”
__ADS_1
“Kedengaran kurang enak didengar.”
“Mungkin lebih nggak enak didengar lagi cara bicaramu dulu saat memintaku supaya menghapus video Arkhan yang terlanjur kuupload di sosial media,” ketus Arumi sambil mengingat-ingat kemarahan Faisal yang bahkan sempat mengancamnya waktu itu.
“Ooh… Jangan dendam. Itu tidak baik. Baiklah, aku minta maaf soal itu. Lupakan!”
“Mudah saja bagimu.”
Faisal menggaruk caruk lehernya yang tidak gatal. “Kita ke topik awal, apa kamu tahu Zalfa kemana? Sejak tadi rumah ini kuketuk tapi tidak dibuka.”
“Ada apa denganmu sampai kini masih mengurusi Zalfa?” Arumi ingat, Faisal marah-marah kepadanya dulu juga karena urusan Zalfa.
Faisal menahan nafasnya. Pertanyaan apa yang diajukan Arumi. “Jangan mencampuri urusanku. Kamu cukup menjawab pertanyaanku saja.”
“Tapi Zalfa juga temanku, tetanggaku. Urusannya juga mnejadi urusanku. Baiklah, akan kuberitahu dimana Zalfa sekarang. Tapi…”
“Apa?” potong Faisal.
“Ada syaratnya.”
“Aku nggak minta suap, aku hanya minta imbalan.”
“Apa bedanya?”
“Imbalan adalah harga yang diminta oleh seseorang yang sudah berjasa, dan itu ada padaku.”
“Whatever,” kesal Faisal. “Terserah kamulah. Apa syaratnya?”
“Minta maaf dulu padaku!”
Kulit wajah Faisal langsung memerah. Wanita di hadapannya itu sedang mencoba mengajaknya bermain api. “Kamu mau mempermainkanku?”
“Ya sudah kalau nggak mau.” Arumi balik badan.
__ADS_1
“E eeeh… Iya iya, oke. Aku akan minta maaf.” Faisal meraih jeruji besi yang menjadi pembatas. Dia tidak bisa melompati pagar besi karena ukurannya terlalu tinggi. Jika dia memutari pagar, rasanya kejauhan.
“Nah, gitu, dong.” Arumi balik badan, kembali mendekati pagar besi dengan senyum lebar.
Wanita ini benar-benar! Kelewatan!
“Aku minta maaf!” kata Faisal dengan gigi menggemeletuk. Senyum miris ditampilkan di wajahnya.
“Oke.”
“Jadi dimana Zalfa?”
“Apa kamu nggak punya nomer ponselnya? Kamu bisa meneleponnya langsung kan?”
“Ponselnya tidak aktif. Kau bilang akan memberitahuku dimana keberadaan Zalfa bukan? Sekarang katakan!”
“Zalfa udah pindah rumah.”
Faisal mengernyit. “Pindah kemana?”
“Untuk pertanyaan kedua, ada syarat berikutnya.”
“Kau ini!” Faisal semakin kesal. Dia ingin sekali menjangkau Arumi dan minimal menjitak kepalanya, tapi posisinya kini berdiri di balik pagar yang menjadi pembatas sehingga tidak bisa menjangkau Arumi. Hanya pagar pembatas yang dia cengkeram.
“He heee…” Arumi terkekeh. “Memangnya ada urusan apa kau sampai harus menemuinya?”
“Bukan urusanmu!” Faisal menjawab dengan penuh penekanan.
TBC
.
.
__ADS_1
.