
Soto medan menjadi menu pilihan Zalfa pagi itu. meski kafenya tidak menyediakan menu tersebut, namun Zalfa meminta pelayannya untuk menyuguhkan menu tersebut kepadanya.
Pelayan memaklumi karena mereka tahu kalau Zalfa sedang mengidam, butuh pelayanan ekstra khusus.
Pesanan yang diminta oleh Zalfa dihidangkan di meja yang diduduki oleh Zalfa dan Maria. Mereka segera menyantap hidangan.
“Kau harus makan, jangan sampai telat nanti bisa terkena maag. Kasihan bayi di dalam perutmu,” ucap maria menyemangati.
Dijawab oleh Zalfa dengan anggukan dan senyum. Ia melirik seorang wanita yang duduk di meja sebelahnya, wanita berjaket biru itu tampak sesekali memperhatikan dirinya. Meski wanita berambut pendek itu tampak asik memainkan ponselnya, namun Zalfa tahu kalau pandangan wanita itu sesekali tertuju ke arahnya. Rasanya Zalfa jadi seperti diawasi.
Siapa wanita itu?
Zalfa meminum jus jeruk setelah selesai menyantap sotonya.
“Aku ke kamar kecil dulu.” Maria bangkit berdiri meninggalkan meja setelah Zalfa menganggukkan kepala.
“Selamat pagi, Mbak Zalfa!” sapa wanita yang tiba-tiba duduk di sisi Zalfa.
__ADS_1
Zalfa agak terkejut dan menoleh. Wanita berambut pendek yang sejak tadi mengawasinya, kini sudah duduk di kursi sebelahnya.
“Pagi! Kamu siapa?” Tanya Zalfa penuh selidik pada wanita yang sok kenal itu.
Wanita itu tersenyum ramah. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Zalfa dan membisikkan sesuatu. Dia sengaja mengecilkan volume suara suapaya tidak seorang pun yang mendengar suaranya kecuali Zalfa seorang. Zalfa deg-degan sekaligus merasa takut sekali saat mendengar penjelasan wanita itu, bahwa dia mengaku dari kepolisian. Dia juga menunjukkan identitas dirinya dengan sembunyi-sembunyi dengan cara menutupinya menggunakan telapak tangannya
“Maaf, apa yang Anda inginkan?” Tanya Zalfa berusaha tenang meski sebenarnya jantungnya ketar-ketir. Ada urusan apa polisi wanita itu menemuinya dengan cara sembunyi-sembunyi begitu.
“Kita bicara di luar.” Senyum wanita itu terurai lebar. “Kita tinggalkan kafe ini. Pesankan saja kepada pelayan kalau Anda pergi duluan meninggalkan kafe supaya ibu Anda tidak kebingungan mencari Anda saat beliau kembali dan tidak menemukan Anda di sini,” pinta wanita itu mendominasi.
Zalfa memanggil salah satu pelayan yang melintas. Dia berpesan, “Tolong sampaikan ke mama Maria, aku pergi duluan, ada urusan.”
“Baik, Kak. Tapi nanti kalau Ibu Maria bertanya kakak pergi kemana, gimana saya menjawabnya?” tanya pelayan pada majikannya.
“Bilang aja ada urusan mendadak.”
“Oke oke, Kak.”
__ADS_1
Zalfa keluar bersama polisi ramah tamah yang sekaligus memiliki ketegasan dan kewibawaan. Zalfa memasuki mobil yang ditunjuk oleh intel tersebut. Mereka duduk bersisian. Dua orang yang juga Zalfa yakini juga merupakan bagian dari kelompok intel sudah duduk manis di bagian jok depan.
Pertanyaan dan dugaan menyerang benaknya seketika itu. dia bingung akan dibawa kemana, apa yang sebenarnya terjadi, dan bahkan begitu banyak dugaan di benaknya.
“Arkhan adalah orang yang sangat peduli dan sayang terhadap keluarganya, terutama istri. Kami mengharap kesediaan Anda dalam membantu Negara menuntaskan masalah peretasan bank. Salah satunya dengan cara yang sudah kami rencanakan ini, Nyonya Zalfa hanya perlu mengikuti interuksi kami. Sudah itu saja,” wanita di sisi Zalfa menerangkan.
Zalfa akhirnya mengerti, kalau sekarang dia dijadikan umpan untuk menangkap Arkhan. Begitu menurut perkiraannya. Ya Tuhan, apakah mungkin Arkhan akan kembali tertangkap setelah ini? Bagaimana nasib Arkhan jika kali ini dia kembali tertangkap?
Zalfa tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti ide yang direncanakan oleh mereka. Sebab jika sekali saja dia melakukan pengkhianatan, akan menjadi fatal akibatnya. Bahkan bisa jadi nasibnya juga akan berujung di bui karena dianggap telah bekerja sama untuk menyembunyikan kejahatan Arkhan. Baiklah, Zalfa harus komitmen.
TBC
.
.
.
__ADS_1