
Zalfa menoleh saat pintu kamar terbuka.
Deg!
Zalfa serasa jantungan melihat Arkhan masuk. Ia terkejut sama terkejutnya Arkhan yang kebetulan langsung menatap Zalfa. Arkhan kepergok kaget saat pandangannya bertemu dengan mata Zalfa, dan ia tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya karena sudah kegep.
“Mas Arkhan!” Bola mata bulat Zalfa bergerak-gerak penuh kerisauan.
Arkhan memalingkan pandangan sambil menutup pintu kamar. Ia melangkah masuk dengan kedua tangan sibuk membuka kancing kemeja. Namun sial, jemari tangannya sepertinya sedang tidak bisa diajak kompromi sehingga kancing baju tidak juga terbuka meski sudah berkali-kali Arkhan mencoba untuk membukanya. Gerakan jarinya tidak tepat sasaran.
“Jam segini kamu udah bangun?” Arkhan berbicara tanpa menatap mata Zalfa.
“Mas Arkhan, apa yang kamu lakukan di luaran sana sejak tengah malam pergi dan kembali jam segini?” Zalfa mendekati Arkhan.
Arkhan mengehntikan gerakan jarinya yang membuka kancing baju. Ia tidak menjawab.
“Mas Arkhan, aku mencemaskanmu karena kamu pergi tanpa sepengetahuanku. Apa kamu sengaja pergi secara diam-diam?”
“Jangan mengira yang tidak-tidak tentangku.”
“Ini.” Zalfa menyentuh kancing kemeja Arkhan dan membukanya satu per satu. “Nggak sulit untuk membuka ini, bukan? Tapi kamu kesulitan karena sedang gusar. Kegusaranmu ini adalah jawabannya.”
“Aku tidak melakukan apapun.”
“Lalu kenapa harus pergi tengah malam dan secara diam-diam? Tolong beri tahu aku, kemana kamu tadi pergi? Jangan bikin aku cemas.”
“Sudahlah! Tidak perlu kau tanyakan itu. itu tidak penting kamu ketahui.”
__ADS_1
“Selagi kamu nggak memberitahuku, aku akan terus merasa was-was, apa kamu tega?”
Arkhan menghela nafas. Mereka bertukar pandang di jarak yang sangat dekat.
“Aku menemui wanita tua Bangka itu!” jawab Arkhan tegas.
Zalfa terkejut. Seharusnya ia tidak perlu terkejut karena sejak awal ia sudah menduga hal itu. Tapi entah kenapa pengakuan Arkhan membuatnya benar-benar seperti tersambar petir. Apakah benar Arkhan adalah pelaku pembunuhan itu? Tidak.
“Untuk apa kamu menemuinya?” Suara Zalfa tercekat, bahkan hampir tidak terdengar.
“Apa lagi jika bukan untuk memberi pelajaran padanya.”
Tubuh Zalfa sudah terasa lemas sekali. Penjelasan apa lagi steelah itu?
“Mas Arkhan, tahukah kamu? Bu Fatima meninggal dunia.”
“Dari mana kamu tahu itu?” Wajah Arkhan tampak berubah.
Sudut bibir Arkhan tertarik membentuk senyum cemeeh. “Bagus!”
“Bagus? Maksudmu?”
“Memang sudah seharusnya nyawanya melayang.”
“Mas Arkhan!” Suara Zalfa meninggi. “Bu Fatima meninggal dibunuh dan peristiwanya terjadi malam ini. Jangan bilang kalau kamu menemuinya untuk hal ini.” Zalfa melangkah mundur dengan wajah memucat. “Enggak, Arkhan. Aku nggak mau kamu melakukan ini.” Zalfa ingat bagaimana Arkhan marah dan menemui Atifa kemudian menodongkan senjata api. Bukan hanya Atifa saja yang sempat mendapat ancaman itu, Reza juga hampir ditembak. Jika saja Zalfa telat datang, mungkin Atifa hanya tinggal nama saja. Arkhan bisa saja bertindak brutal pada saat emosinya meledak. Zalfa sangat mengerti bagaimana kenekatan Arkhan.
Melihat Zalfa yang panik, Arkhan pun melangkah maju mendekati Zalfa dengan raut tenangnya.
__ADS_1
“Jangan mendekat!” pekik Zalfa.
Arkhan sontak berhenti melangkah. Diam di tempat. “Jangan tuduh aku, Zalfa. Aku tidak melakukan apapun pada Bu Fatima.”
“O ya, lalu peringatan apa yang kamu lakukan padanya? Bu Fatima meninggal tepat pada saat kamu menemuinya. Apa kamu mengharap agar aku mengira ini hanya kebetulan?”
“Zalfa! Tenanglah!”
“Bagaimana aku bisa tenang? Jam sebelas malam Bu Fatima dinyatakan meninggal dunia, dan di jam itu juga kamu bersamanya.”
“Aku keluar dari rumah jam setengah dua belas, Zalfa.”
“Bohong! Arumi nggak melihatmu keluar di jam segitu.”
“Oke oke, aku keluar jam sebelas dari rumah. Dan kamu bilang kalau Bu Fatima meninggal di jam yang sama. Bagaimana mungkin aku menjelma menjadi dua di tempat yang berbeda? Sedangkan di jam itu, aku baru saja beranjak dari rumah.”
“Jangan berbohong! Tadi kamu bilang keluar jam setengah dua belas malam, sekarang berubah jam sebelas, nanti berubah jam berapa lagi?”
“Teliti dulu beritanya, apakah korban adalah tua Bangka itu, atau mungkin orang yang berbeda dengan nama yang sama,” pinta Arkhan dengan nada yang masih tenang.
TBC
Hayoo..klik like dulu baru next
.
.
__ADS_1
.
.