
Pukul 09.08 pm. Arkhan belum tidur, dia hanya berbaring di sisi Zalfa sambil berteleponan dengan Reza.
“Aku sudah bebas, Bang,” kata Reza di seberang.
“Kabar yang luar biasa. Kita harus merayakannya.”
“Kita bertemu sekarang, Bang. Aku ingin minum bersamamu. Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana?” Suara Reza penuh kegembiraan.
“Aku belum bisa menemuimu malam ini. Besok pagi aku akan langsung menjumpaimu.”
“Apa malam ini abang ada pekerjaan penting?” Tanya Reza dengan nada kecewa. Volume suara yang tadinya penuh semangat, kini terdengar agak loyo karena Arkhan menolak untuk diajak bertemu.
“Zalfa sedang hamil besar, kondisinya kurang sehat.”
“Oh… Kupikir Abang tidak ingin menemuiku karena urusan pekerjaan, tapi ternyata karena istri abang. Tidak masalah kalau begitu, Bang. Kesehatan kak Zalfa lebih utama. Kau harus menjaganya, Bang.” Suara Reza kembali terdengar penuh semangat. “Berarti tidak lama lagi aku akan punya keponakan.”
Arkhan tersenyum tipis mendengar Reza menyebut calon anaknya sebagai keponakan. “Ini adalah anak pertama. Kau tidak akan mengerti letak kecemasanku.”
__ADS_1
“Ya, aku tidak akan bisa mengerti dengan semua itu, Bang. Tapi aku sangat mengerti dnegan kondisimu. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Selama ini kau sudah melakukan banyak hal kepadaku.”
“Kau bisa katakan itu besok. Jangan bilang kau akan pergi.”
“Abang benar. Aku mungkin tidak akan berada di kota ini lagi. Terlalu banyak kejadian yang membuatku merasa harus meninggalkan kota ini. Aku ingin menjadi Reza baru, Reza yang berubah dan tidak seperti ini lagi.”
“Kau bisa menundanya, tidak harus pergi malam ini juga.”
Reza diam. Hanya hembusan nafasnya saja yang terdengar.
“Ya, aku tahu kau pasti akan mencariku, Bang. Kurasa itu saja yang ingin kusampaikan. Selamat malam, Bang.”
“Malam.” Arkhan meletakkan ponsel lalu berbaring menghadap Zalfa. Dia memejamkan mata. Tidak biasanya Arkhan mengantuk di jams egini, jam tidurnya selalu di atas jam sebelas malam, tapi kali ini entah kenapa matanya terasa berat dan dia ingin tidur saja.
Tak lama berselang, ponsel Zalfa berdering. Dering telepon yang volumenya cukup keras membuat Zalfa terjaga. Zalfa menatap wajah Arkhan yang berjarak sangat dekat, tepat di hadapannya. Pria itu terpejam, lengannya yang berotot menimpa pinggang Zalfa. Mereka tidur dengan posisi miring, berhadapan. Perlu diingat sekali lagi, perut Zalfa yang sudah membesar membuatnya kesulitan jika harus tidur dalam posisi menelentang, sehingga akhir-akhir ini dia selalu tidur dalam posisi miring.
Zalfa malas sekali menjawab telepon karena sedang mengantuk. Namun ia memaksa tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.
__ADS_1
Dengan mata terpejam, Arkhan mengangkat lengannya dan meraih tangan Zalfa yang terjulur ke nakas lalu mendekap tangan mungil itu. Fix, Arkhan melarang gerakan tangan Zalfa untuk menjawab telepon.
“Malam-malam begini kenapa masih saja ada yang menelepon?” Suara Arkhan kurang jelas akibat kantuk yang menyerang.
“Mas Arkhan, ini masih jam sembilan. Siapa bilang udah larut malam?” protes Zalfa lembut.
Arkhan hanya menarik sudut bibirnya tanpa membuka mata. Entah kenapa dua bulan terakhir, Arkhan merasakan kalau malam-malamnya menjadi lambat berjalan. Bagaimana tidak, Zalfa sudah jarang olah raga ranjang dengan Arkhan. Bukan Zalfa yang menolak untuk berhubungan, melainkan Arkhanlah yang tidak pernah mengajak Zalfa.
Arkhan tidak menjawab lagi.
TBC
.
.
.
__ADS_1