SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
285.


__ADS_3

Saat dilakukan pemeriksaan, rasa ngilu semakin menyerang. Zalfa menggigit bibir sambil meremas tangan Arkhan.


“Sayang, katakan apa yang kau rasakan?" Pandangan Arkhan beralih ke dokter saat tidak mendapat jawaban dari Zalfa. "Dokter, apa yang terjadi dengan istri saya?” Arkhan semakin panik melihat tubuh Zalfa yang mendadak miring dan membentuk busur panah. “Cepat ambil tindakan dan lakukan sesuatu!” titah Arkhan setengah emosi melihat penanganan yang menurutnya lambat.


Kepanikan Arkhan terjawab saat dokter mengatakan kalau janin dalam kandungan Zalfa harus dilahirkan. Posisi bayi sudah di bawah dan janin sudah mencari jalan keluar. Fix, Zalfa harus segera dibawa ke ruang persalinan.


Namun berbeda dengan pendapat Arkhan, dia tidak merelakan Zalfa melahirkan di rumah sakit itu karena menurutnya fasilitasnya tidak memadai dan dokternya juga tidak professional.


Arkhan menyetir mobil dengan kelajuan tinggi melarikan Zalfa ke rumah sakit lain, rumah sakit berkelas yang kualitas dan dokternya tidak diragukan lagi. Dia memposisikan kursi dalam kondisi berbaring hingga Zalfa berada dalam posisi rebahan saat berada di sepanjang perjalanan.


Arkhan memasuki rumah sakit dan tubuh lemas Zalfa berada dalam gendongannya. Zalfa langsung disambut dengan bed dan didorong oleh beberapa perawat lalu masuk ke IGD.


Dokter mengatakan kalau Zalfa saat ini harus segera dioperasi karena janin dalam kandungannya mendesak hendak keluar, sayangnya plasenta previa atau yang yang dikenal dengan seluruh plasenta menutupi jalan lahir dalam kondisi menutupi seluruh leher rahim. Hal ini akan beresiko terjadi perdarahan dan komplikasi lain, sehingga jalan akhir adalah Caesar.


Mendengar itu, Arkhan terdiam beberapa saat. Kepalanya benar-benar bimbang dan bingung. Namun ketegasan itu akhirnya terucap dari lidahnya, “Lakukan apa pun untuk keselamatan istri dan anakku!”

__ADS_1


“Baik, Tuan. Tidak perlu cemas, kami akan melakukan yang terbaik untuk istri Anda. Berdoa dan bersabar!” Dokter pergi.


Arkhan memindahkan tubuh Zalfa yang terbaring lemah dari bed satu ke bed yang baru saja datang. Kemudian dia dan beberapa perawat mendorong bed tersebut keluar IGD dan melewati koridor panjang.


Dahi Arkhan sampai turut mengernyit melihat wajah pias Zalfa yang sesekali meringis dan merintih. Tangannya terus saja berada dalam genggaman Zalfa. Wanita itu terus meremas-remas tangan suaminya. Dia seperti mendapat kekuatan saat meremas tangan Arkhan.


“Mas Arkhan, aku akan baik-baik saja. Lihat sekarang jam berapa?” Masih sempat Zalfa menanyakan jam.


“Jam setengah sepuluh.” Arkhan menjawab hanya sekedar sekenanya, dia tidak begitu peduli dengan pertanyaan istrinya. Pikirannya benar-benar keruh melihat kerutan di kening Zalfa. Bahkan setiap kali Zalfa meringis dan mengaduh dengan suara lemah, persendian tubuh Arkhan terasa ngilu.


Arkhan baru ingat dengan acara itu. pikirannya terlalu keruh hingga lupa segalanya. Malah Zalfa yang ingat dengan hal itu.


“Aku harus menunggumu sampai anak kita lahir, Zalfa,” jawab Arkhan.


“Tapi bagaimana dengan pertanggung jawaban atas kesanggupanmu di hadapan ustad Bukhori, juga di hadapan semua orang? Ustad Bukhori sudah mencatat namamu sebagai qori dan tentunya namamu sudah dibacakan di sana. Semua orang menunggumu.”

__ADS_1


“Tidak, Zalfa. Aku akan tetap menunggumu.”


“Suruh saja Mama Maria kemari menungguku. Siapa saja bisa menungguku di sini, tapi menjadi qori di sana, hanya kamu yang bisa melakukannya. Itu adalah amanah untukmu. Kebaikan dari ayat-ayat yang kamu bacakan insyaallah akan memberikan kebaikan juga untukku di sini. Percayalah, aku akan baik-baik saja. Jalankan saja amanahmu itu dnegan baik. Yakinlah, Tuhan akan menyelamatkan aku dan anakmu. Kamu yakin dengan takdir bukan? Apa pun yang sudah terjadi adalah takdir, Tuhan maha segala-galanya. Percayalah, Tuhan juga akan menjagaku dengan baik.”


“Setiap wanita pasti sangat ingin ditunggu oleh suaminya saat melahirkan, dan kau…”


“Ini masalahnya berbeda,” potong Zalfa. Dia sangat mengenal dekat Ustad Bukhori, dan dialah yang menyampaikan kesanggupan Arkhan kepada ustad kondang itu. Zalfa turut menanggung beban amanah tersebut. “Percayakan semuanya pada Tuhan. Apa pun yang terjadi di sini adalah Kuasa Allah. Kamu berdoa saja, doakan yang baik-baik. Yakinlah!” Zalfa tersenyum.


Senyuman itu membuat Arkhan melepas genggaman tangannya. Tepat pada saat pintu ruangan terbuka menyambut bed dorong, tautan tangan Zalfa dan Arkhan benar-benar terlepas. Arkhan mematung menatap bed yang didorong memasuki ruangan, pengawasan matanya tidak lepas dari senyuman manis Zalfa hingga hilang dari pandangan. Arkhan masih memaku di sana sampai pintu ditutup.


BERSAMBUNG


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2