SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
211.


__ADS_3

Manik mata cokelat bergerak menatap sekeliling, pada dinding yang catnya sudah kusam, alas tidur berupa tikar panjang yang ujungnya sudah robek, seorang berseragam biru masih tidur pulas dengan dengkuran hebat di sudut ruangan. Arkhan mengusap wajah dengan telapak tangan.


“Ayo makan, bro!” ajak salah seorang yang baru dikenal oleh Arkhan menggunakan seragam yang sama dengan seragam yang Arkhan kenakan menuju keluar ruangan.


Arkhan diam saja tanpa memberi jawaban. Ia masih duduk di tempat yang sama, dengan satu kaki selonjor dan kaki lainnya terlipat untuk menopang tangan kanan yang terayun bebas di atasnya.


Arkhan kini sudah dipindah ke penjara itu setelah masuk tahanan di sel kecil polres saat menunggu penyelesaian Berita Acara Penyelesaian oleh polisi ke kejaksaan.


Luas sel Polres sekitar 30 meter persegi, sudah termasuk kamar kecil di dalamnya. Ia bersama tujuh tahanan kasus criminal lain menunggu dua bulan di sana.


Saat itu, dunia Arkhan tiba-tiba menyusut, dari biasanya bebas bepergian tanpa batas, kini Cuma bisa melihat dinding penjara, teralis besi, dan teman satu sel. Tak ada jendela, tak ada matahari. Namun ia tidak terlihat kaget dengan kenyataan yang terjadi. Dia pun tetap tampak biasa setiap kali Zalfa datang membesuknya. Tidak ada yang berubah dari dalam dirinya.

__ADS_1


Setelah BAP selesai, Arkhan pun dipindahkan ke rumah tahanan. Di sana, dia mengenal dunia keras penjara. Baru beberapa minggu mendekam di sana, dunianya seratus delapan puluh derajat berubah total. Kebebasannya hilang seketika. Namun Arkhan tidak terlihat seperti tahanan lain yang kebanyakan depresi karena harus menyesuaikan diri dnegan lingkungan baru yang keras dan menakutkan, Arkhan tetaplah Arkhan, yang terlihat tenang menjalani hukuman meski situasi di sekelilingnya keras dan menyakitkan.


“Duit duit!” Beberapa orang mendatangi Arkhan. Suaranya garang dan menggema, penuh dengan hardikan, namun Arkhan sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran mereka. Dia sudah terbiasa dengan hal itu.


Di awal-awal bulan, ada masa pengenalan lingkungan sebagai tahanan baru yang biasanya berjalan selama satu bulan. Seperti pagi ini, beberapa orang yang bertugas meminta uang ke sesama tahanan selama masa pengenalan pun mendatangi Arkhan, mereka menjalankan tugas, orang-orang itu sering disebut kepala lapak. Sebagian uang untuk setoran ke sipir penjara.


Arkhan menatap beberapa pasang kaki yang berdiri di hadapannya. pandangannya naik ke paha, perut, dada sampai ke wajah. Ada Reza yang berdiri memucat di belakang kepala lapak, kepalanya menunduk. Sudah enath berapa lama Reza menjadi budak kepala lapak. Reza selalu disuruh-suruh oleh mereka sesama tahanan. Bekas tinju dan pukulan di wajah Reza menjadi saksi kalau selama di dalam tahanan, Reza menjadi bulan-bulanan kepala lapak dan para tahanan senior lainnya.


Penjara memang keras. Bagi orang yang tidak punya nyali, hidupnya pasti akan menyedihkan.


Bukannya takut, Arkhan hanya malas ribut. Sebab sudah menjadi pemandangan sehari-hari ketika tahanan baru dimintai uang dan tidak memberikan apa yang diminta, maka napi tukang pukul pun maju dan menghajarnya. Andai saja Arkhan melawan mereka, sudah pasti lawannya bukan hanya satu atau dua orang saja. Bukan itu juga yang dia takutkan, dia malas ribut.

__ADS_1


Salah seorang kepala lapak sekilas menghitung uang kemudian memberikan pada Reza. “Ambil tuh duit, itus etoran untuk sipir. Setelah ini, lu ambilin makanan buat gua. Lu anter makanan ke kamar gua, lu pijitin gua saat gua makan!” titah kepala lapak.


“Baik, Bang!” Reza mengangguk patuh, berlalu pergi.


Beberapa kepala lapak pun balik badan.


TBC


KLIK LIKE DULU SEBELUM NEXT. GRATIS KOK. 🤣🤣


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2