SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
218.


__ADS_3

“Mas arkhan, kamu bisa menjadi sosok ayah. Pasti bisa. Kenapa tidak? Tuhan sudah mempercayaimu.” Zalfa terharu.


“Aku bahkan sekarang berada di sini. Apa yang akan kau katakan pada anak kita saat dia lahir nanti? Apakah dia akan mengenalku?” Suara Arkhan bergetar. “Dia sudah tumbuh besar saat aku keluar dari sini. Dan aku tidak bisa mengatakan apa pun kepadanya.” Arkhan berdiri mereguk wajah Zalfa dengan tatapan matanya yang nanar.


“Aku dan kamu akan atasi masalah ini bersama-sama. Jangan berpikir terlalu jauh.” Zalfa tidak tahu apakah ia sedang berusaha menghibur Arkhan atau dirinya sendiri. “Kita jalani saja ini. Seiring berjalannya waktu, semuanya akan terbiasa.”


Arkhan tidak bisa menjawab. Oh… mata Zalfa dan kesetiaannya membuat Arkhan tidak lagi bisa mengungkapkan rasa dalam benaknya.


“Aku bawain sambal enak untukmu. Kamu makan nanti ya!” Zalfa mengeluarkan kotak makanan dari dalam plastik yang dia taruh di meja.


Arkhan melirik kotak makanan tersebut, dari jarak setengah meter saja aromanya sudah sangat memikat hidung. Dia benar-benar rindu dengan masakan istrinya, karena selama di dalam tahanan, dia tidak bisa makan masakan istri setiap hari. Bahkan maskaan kiriman Zalfa terakhir kemarin, dirampas oleh Beno.


“Selamat malam, jam besuk sudah habis. Segera tinggalkan tempat ini, Nyonya!” ucap pak polisi yang muncul ke tengah-tengah mereka.


Zalfa menatap Arkhan seperti enggan beranjak dari sana. Zalfa masih ingin bersama Arkhan, entah beberapa menit lagi. Setidaknya ia bisa melepas rindu dengan menatap mata suaminya. Tapi entahlah, mungkin satu jam pun berada di sana, kerinduan Zalfa tidak akan hilang dengan mudahnya. Apa begini rasanya mencintai seseorang? Selalu ngangenin saat berjauhan.


“Pak, mohon ijinin saya untuk beberapa saat lagi bersama suami saya,” ucap Zalfa pada pria berseragam.

__ADS_1


“Maaf Nyonya, waktunya sudah habis dan kami harus segera membawa Arkhan kembali ke sel.” Pria itu memegang lengan Arkhan.


“Pak, ini sudah masuk waktu shalat isya. Mohon ijinin saya untuk shalat berjamaah dengan suami saya,” pinta Zalfa menatap Pak Polisi teduh, berharap permintaan berisi modus itu akan dikabulkan.


“Nyonya bisa shalat di masjid dekat sini, dan Pak Arkhan bisa shalat di mushola sel,” tegas Pria berseragam.


“Pak, semenjak suami saya berada di sini, saya nggak pernah lagi diimami suami saya saat shalat. Ijinkan saya shalat di sini bersama suami saya.”


Arkhan tidak bisa membela Zalfa dengan kalimat apa pun, ia sadar dengan posisinya.


“Sekali ini aja!” pinta Zalfa. “Tidak ada panggilan yang lebih penting dari panggilan Allah untuk shalat.”


Wajah Pak Polisi tampak bimbang.


Melihat ekspresi wajah itu, Zalfa sumringah karena harapannya speerti akan terkabul. Mungkin suara adzanlah yang mengetuk pintu hati pria berseragam hingga akhirnya dia mengijinkan Zalfa dan Arkhan shalat berjamaah di ruang besuk tersebut setelah keduanya mengambil air wudhu.


Zalfa berdiri di belakang Arkhan setelah mengenakan mukena yang dia bawa-bawa kemana pun pergi dan menggelar sajadah kecil. Dia mengikuti gerakan imam, hatinya bergetar saat mendengar Arkhan mengangkat takbir.

__ADS_1


Ya Tuhan, begitu indah dan bahagianya Zalfa telah diberi kesempatan untuk shalat berjamaah dengan Arkhan, imamnya. Suara merdu arkhan menggema membacakan surah Al Fatihah. Lantunan Arkhan sangat indah dan menyentuh kalbu, membuat hati Zalfa basah dan tetes demi tetes mengalir membasahi pipinya, mendarat di mukena.


Harus berapa lama situasi itu berjalan? Zalfa ingin kembali bersama-sama dengan Arkhan lagi. Ia ingin membina rumah tangga bersama keluarga kecilnya. Tapi apakah ia harus mengubur dalam-dalam harapannya itu dan menjalani hidup seperti air mengalir, biarkan saja semuanya berjalan dan ia hanya perlu menjalani.


Tuhan, ijinkan Zalfa memeluk keluarga kecilnya, ijinkan arkhan berada di sisinya saat buah hatinya lahir kelak, ijinkan Arkhan menjadi satu-satunya orang yang menemaninya dan mengumandangkan adzan pada saat bayinya lahir ke dunia. Apakah harapan Zalfa muluk-muluk?


Zalfa mengaminkan setiap doa yang diucapkan oleh Arkhan dalam doa pria itu, kemudian ia maju dan menyalami tangan Arkhan.


Usai shalat dan mengemasi semua peralatan shalat, Arkhan berpesan, “Jaga anak kita baik-baik. Jangan sampai terjadi hal buruk, apa lagi sampai keguguran. Sebab di saat posisiku begini, aku tidak akan bisa menaruh benih di rahimmu.” Arkhan berbisik di ujung kalimatnya.


Zalfa tidak tahu harus menjawab apa. Dia senang saat mendengar Arkhan berpesan supaya dia menjaga janinnya baik-baik, tapi ujung kalimat Arkhan membuat Zalfa jadi salah tingkah. Kulit mukanya pun menjadi merona merah.


“Seminggu terakhir, kau tidak membesukku. Ritme pembesukan seperti mengendur. Tidak seperti awal dulu, kau membesukku hampir setiap hari. Aku mengira kalau kau sudah mulai bosan dengan rutinitas besuk membesuk. Tapi ternyata inilah penyebabnya. Jaga dia baik-baik!” Arkhan mengelus singkat permukaan perut Zalfa.


Zalfa tersenyum dan mengangguk, kemudian berlalu pergi setelah pria berseragam kembali muncul untuk segera membawa Arkhan menuju kembali ke sel.


TBC

__ADS_1


__ADS_2