
Tiba-tiba perbincangan mereka terhenti ketika terdengar sebuah kendaraan roda dua memasuki halaman rumah Arumi. Pandangan Arumi dan Faisl tertuju ke arah wanita yang memarkirkan motor bebek. Wanita itu melepas helm dan menyangkutkannya ke spion. Zalfa.
“Nah, ini Zalfa.” Arumi menunjuk Zalfa. “Tugasku memberi tahumu dimana keberadaan Zalfa udah selesai,” lanjutnya kepada Faisal.
Uugh… Kalau itu mah Faisal udah tahu. Tanpa diberi tahu pun, dia sudah melihat secara langsung. Arumi benar-benar membuat Faisal ingin menggigit pagar besi saja.
Zalfa yang menjadi bahan pembicaraan pun menatap Arumi dan Faisal silih berganti. “Kalian membicarakanku?”
“Iya. Pria ini datang ke rumah sebelahku dan menanyaimu.” Arumi menunjuk Faisal tanpa mau menyebut namanya.
“Zalfa!” panggil Faisal.
Zalfa menoleh ke arah Faisal.
Pria itu memutari pagar kemudian memasuki area halaman rumah Arumi.
“Faisal, kamu mencariku? Ada apa?” tanya Zalfa saat Faisal sudah berdiri di hadapannya.
“Bisakah kita bicara sebentar?”
“Boleh. Bicaralah!”
__ADS_1
Faisal melirik Arumi. “Tidak di sini. Aku hanya ingin bicara empat mata.”
“Baiklah.” Zalfa mengangguk.
“Kutunggu di kafemu,” kata Faisal kemudian berlalu pergi.
Zalfa mengangguk lagi. Sepeninggalan Faisal, pandangan Zalfa tertuju ke arah Arumi.
“Arumi, aku ke sini untuk bilang makasih ke kamu.”
Arumi mengernyit. “Makasih untuk apa?”
“Berkat kamu, Arkhan kini menjadi sosok yang dibicarakan kebaikannya di sosial media. Kamu yang mengunggah video saat Arkhan mengaji, maka kamulah yang berjasa dalam hal ini. Suara Arkhan saat mengaji didengarkan oleh banyak orang di seantero penjuru karena viral. Aku yakin ada banyak kebaikan dan berkah dari semua ini untuk Arkhan. Aku makasih banget sama kamu.”
“Dibalik kejadian, pasti ada hikmahnya. Di balik kesalahan upload video, pasti juga ada hikmahnya. Mayoritas orang justru menjadikan kisah itu seperti sebuah skenario yang menarik untuk dikenang, seperti sebuah film. Itu yang kutarik kesimpulannya. Sebab mereka justru menyukai adegan yang terjadi waktu itu.”
“Iya aku tahu itu. tapi justru hal inilah yang menjadi masalah antara aku dan Faisal, itu tuh cowok yang tadi datang kemari. Dia sempat memarahiku sesaat setelah aku mengupload video Arkhan. Dia membelamu. Eh, tahu-tahu kemarahannya justru sebuah kesalahan. Nyebelin banget kan?”
Zalfa tertawa. “Mungkin maksud Faisal nggak seperti itu. Tapi ya udahlah. Jangan diingat-ingat lagi.”
“Aku nggak nyangka aja, dating-dateng dia ngomel-ngomel ngebelain kamu. Aneh, kan? Tapi udahlah, aku males ngebahas itu. Kamu sendirian?”
__ADS_1
“Iya.”
“Bagaimana kondisi Arkhan di tahanan? Kamu masih sering membesuk Arkhan di tahanan, kan?”
Zalfa tergugu sebentar. Tidak ada pemberitaan mengenai kebebasan Arkhan. Setahu Arumi dan netizen, Arkhan masih berada di tahanan. “Arkhan baik. O ya, aku pergi sekarang. Aku mesti mengurus kafe.”
“Baiklah.”
Zalfa kembali menaiki motor dan memasang helm. Baru saja jari lentiknya hendak memutar kunci, ponsel Zalfa di tas berdering. Bergegas Zalfa meraih ponsel, mengernyit melihat nomer baru yang menelepon.
Zalfa berpikir, angkat nggak? Andai saja dicuekin, takutnya berasal dari sumber yang penting. Zalfa menjawab telepon. “Halo!”
“Halo, sayang! Pagi-pagi sudah di rumah Arumi.” Suara Arkhan menyahut di seberang.
Belum sempat Zalfa menjawab, sambungan telepon langsung diputus.
Zalfa sontak menoleh mencari-cari keberadaan Arkhan, namun tidak menemukannya. Di sekitar sana sepi. Arkhaaaan… Uuuugh… dia sangat menggemaskan. Zalfa senyum-senyum sendiri sambil menatap ponselnya.
...BERSAMBUNG.......
.
__ADS_1
.
.